
Esok harinya, pada hari Minggu.
Serra sudah berdandan dengan cantik, memakai jean dan atasan kaos kemudian dengan outer cardigan rajut berwarna cerah. Untuk wajah, Serra hanya memakai riasan tipis. Tampilannya casual tapi sangat cantik.
Serra sedang menunggu Vano untuk menjemputnya. Tak lama, Vano datang menggunakan sepeda motornya.
"Pagi Vano," sapa Serra sambil berjalan mendekati Vano.
"Pagi," balas Vano sambil mengulurkan helm yang ia bawa untuk Serra.
"Makasih," ucap Serra menerima helm-nya.
"Kita mau ke mana Vano?" Tanya Serra sambil memakai helm-nya.
"Ke perusahaan mama papa aku."
"Ohh.. ngapain?"
"Urusan," jawab Vano singkat.
Serra menunjukan raut datarnya kemudian naik ke motor Vano.
Kemudian mereka mulai melaju dengan motor Vano.
Angin pagi menerpa mereka, sangat sejuk dan masih fresh, juga cuaca yang bagus.
Serra tersenyum sepanjang perjalanan, ia merasa sangat senang bisa berboncengan dengan Vano seperti sekarang.
Serra dengan ragu ingin berpegangan pada Vano
"Vano, aku boleh pegangan ke kamu ga?" tanya Serra meminta izin.
"Apa??"
Karena Vano yang tak mendengar perkataan Serra, Serra mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
Vano tak menjawab pertanyaan Serra. Tetapi tak lama kemudian ia baru membuka mulutnya.
"Ok," jawab Vano singkat.
Jawaban singkat itu membuat Serra sangat senang, kemudian Serra tanpa ragu mulai berpegangan kepada Vano.
Motor Vano berhenti di depan sebuah perusahaan besar, Vano turun dari motor dan melepaskan helm yang dipakainya.
"Mau ikut naik atau nunggu disini?" tanya Vano kepada Serra yang terlihat kagum pada perusahaan di depan matanya.
"Hm? nggak usah Vano, aku tunggu disini aja," jawab Serra kemudian Vano masuk ke dalam perusahaan itu.
Tak lama, Vano kembali menghampiri Serra yang duduk di motor Vano. Kemudian mereka langsung pergi ke perpustakaan kota seperti yang dibilang Serra.
Di perpustakaan kota, mereka mulai mengambil buku-buku yang sekiranya diperlukan untuk Serra. Sekitar 5 buku mereka ambil. Lalu Vano mulai mengajari Serra materi yang tak dipahami Serra, Vano juga menjawab semua pertanyaan yang diajukan Serra. Vano juga memberikan soal-soal latihan untuk bisa mengetes pemahaman Serra.
Selama belajar, Serra benar-benar memperhatikan penjelasan Vano. Ia juga mengerjakan soal latihan yang diberikan Vano. Saat Serra salah dalam memasukan rumus, Vano selalu mengingatkan Serra sehingga Serra bisa mengingat semua rumus dengan baik.
"Vanoo.. istirahat dulu ya..." ucap Serra disela-sela mereka belajar.
"Serra ke toilet dulu ya," ucap Serra kemudian bangkit pergi ke toilet.
"Hmm," gumam Vano menyahuti Serra.
Kemudian Vano mengeluarkan ponselnya untuk mengisi waktunya. Setelah beberapa saat, Vano menoleh ke arah buku yang digunakan Serra untuk mengerjakan soal. Vano melihat tulisan tangan Serra dalam mengerjakan soal-soal itu. Vano tersenyum tipis melihat tulisan itu.
Tiba-tiba Serra terlihat kembali dari toilet menghampiri Vano. dengan cepat Vano menaruh kembali buku itu.
"Vano ngapain lihat buku aku?" tanya Serra penasaran.
"Cuma pengin ngecek," jawab Vano dan diangguki Serra.
"Lanjut yuk Van," ajak Serra.
"Ok," jawab vano. Kemudian mereka melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
4 jam telah berlalu, dan sekarang mereka sedang membereskan barang-barang yang mereka bawa.
"Vano laper gak?" tanya Serra.
"Kamu laper?" tanya Vano balik.
"Kok malah tanya balik sih Vano," kesal Serra.
"Jawab aja, kamu yang laper kan?"
Serra hanya meringis memperlihatkan deretan gigi putihnya. Karena memang dia yang lapar.
"Mau makan apa?"
"Hmm... Serra pengin bakpao," ucap Serra setelah berpikir sesaat.
"Makan bakpao gak kenyang," jawab Vano. Kemudian mulai berjalan keluar diikuti Serra.
"Pake nasi lah," ucap Serra enteng ditanggapi raut tak percaya Vano.
Serra terkekeh kecil kemudian mengatakan kalau itu bukan hal serius.
"Terus apa dong?"
"Kamu penginnya apa?"
"Serra pingin bak-"
"Selain bakpao," sela Vano.
Serra menghela napas sambil memajukan bibirnya.
"Mie ayam mau?" tawar Vano.
"Terserah Vano deh," jawab Serra.
__ADS_1
...♡♡♡...