
Keesokan harinya di sekolah
Serra pergi mencari Vano di kelasnya, tapi tak juga menemukannya, Serra pergi mengelilingi seluruh sekolah untuk mencari Vano tapi tak kunjung menemukan sosok Vano hingga Serra sampai di parkiran dan menemukan seorang pria duduk di motornya sambil menelepon seseorang, Vano...
"Vanoo!!" panggil Serra sambil mendekat ke arah Vano.
Merasa terpanggil, Vano membalikkan badannya dan menghadap ke arah suara.
Vano melanjutkan berbicara sebentar kemudian menutup teleponnya.
"Gimana?"
"Tadi aku telpon ke pihak hukum, tapi mereka bilang kalo tindakan kayak gitu udah seharusnya masuk ke tangan mereka," jelas Vano.
"Ohh.. kamu udah telpon?"
"Iya, kenalan aku anaknya orang hukum, jadi gampang."
Serra sedikit menundukkan kepalanya.
"Serra, kalo kejadian kayak gini emang harus ditangani mereka. Emang kamu mau kejadian kayak gini kejadian lagi?" ucap Vano lembut.
Serra menggelengkan kepalanya dan kembali menatap Vano.
"Ngga, aku cuma kasihan sama Gio. Mungkin di usia kita emang masih labil dan belum bisa nentuin hal yang boleh dan tidak dilakukan. Setidaknya... dia temen ku kan? Dia udah bantu aku buat belajar.... gak mungkin aku biarin dia....." jelas Serra.
Vano menghela napas pelan.
"Jam berapa orang tua kamu dateng?" tanya Vano.
"Jam 10."
Vano melihat arlojinya menunjukan pukul 9.
"Kita ga bisa ngapa-ngapain, mungkin nanti kita bisa bujuk pihak sekolah?"
Serra tak menanggapi Vano lagi kemudian berbalik pergi, tak ada yang bisa diharapkan dari Vano lagi.
Bukannya Vano tak mau membantu Serra, tapi Vano tentu saja juga kesal terhadap perilaku Gio terhadap Serra. Apalagi saat itu dia ada disana.
Pukul 10 pagi, orang tua Serra Selly dan Henry tiba di sekolah. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang guru bersama Wali kelas Serra, Wali kelas Gio, Kepala Sekolah, Serra, Gio, dan juga Vano sebagai sanksi.
"Jadi, Bapak dan Ibu. Saya Ibu Wati sebagai wali kelas Serra memohon maaf kepada ibu dan bapak karena tidak bisa melindungi Serra kala itu. Kami sekolah Amore mohon maaf karena membiarkan terjadinya tindak percobaan pembunuhan diantara siswa kami," ucap Bu Wati.
__ADS_1
"Sekarang kita berkumpul disini akan meluruskan kejadian yang terjadi sebenarnya."
"Maaf om tantee!!" ucap Gio secara tiba-tiba bersujud dihadapan orang tua Serra.
Tentu saja semua orang disana terkejut dengan tindakan Gio, tak terkecuali orang tua Serra. Walaupun orang tua Serra diliputi kemarahan tetapi mereka juga kasihan terhadap Gio, masih muda tetapi telah memilih jalan yang salah.
"Eh... ituu... Gio... bangunn!" ucap wali kelas Gio tegas dan Gio yang langsung menurutinya.
"Aduh... maaf bapak ibu... saya lanjutkan untuk memperjelas kejadian semalam silahkan jelaskan keluhan," lanjut Bu Wati sambil mengisyaratkan Vano untuk menjelaskan.
"Kemarin sepulang sekolah, saya disuruh Pak Budi untuk mengambil barang digudang. Lalu saya melihat Serra berjalan sendirian di lorong...
Flashback on
Vano sedang mengambil barang digudang sekolah, saat hendak keluar dari gudang ia melihat sosok Serra sedang berjalan sendirian di lorong.
"Serra??"
Karena penasaran, Vano mengikuti Serra dengan pelan dibelakang. Keadaan lorong benar-benar sepi.
Tiba-tiba Serra berhenti dengan langkahnya, dan reflek Vano langsung bersembunyi di balik dinding. Vano mengintip apakah Serra masih menoleh ke belakang? Dilihatnya Serra sudah melanjutkan langkahnya. Dan Vano mengikuti Serra
Tiba-tiba saat melihat Serra di hadapannya, Serra berlari secara tiba-tiba dan membuat Vano bingung.
"Dikejar setan kah dia?"
Sempat membuat Vano terkejut, berdirilah sosok Rio di belakang Vano dengan wajah bingungnya.
"Ngapain?" tanya Rio bingung.
"Oh... aku disuruh ngambil barang sama Pak Budi ngambil barang digudang," jawab Vano seadanya.
"Hmmm... oh iya, tadi Pak Budi baru aja papasan sama aku. Kamu kembaliin aja dulu sana," ucap Rio.
"Ok."
Kemudian Vano pergi dari sana tanpa memedulikan Serra lagi.
Setelah memberikan barang yang dimaksud kepada Pak Budi, saat Vano melewati pintu taman belakang lagi ia tak sengaja mendengar suara seperti hantaman yang keras dan suara orang yang terdengar samar-samar seperti minta tolong. Vano menoleh ke arah pintu itu dan teringat sesuatu.
"Serraa?!" seru Vano khawatir dan langsung berlari mendekat ke arah pintu.
Ternyata pintu terkunci saat Vano hendak membukanya. Vano melihat ke luar dengan jendela di pintu tersebut.
__ADS_1
"Gio?!" dan seketika itu juga emosi Vano memuncak, tak perlu dipikirkan lagi siapa orang yang teriak tadi, jelas itu Serra.
Dan tanpa keraguan sedikitpun, Vano langsung mendobrak pintu itu.
Brakkk
Terdengar keras dentuman pintu yang didobrak Vano. Tak memberi celah, Vano langsung melepaskan pukulan ke arah Gio yang langsung terpental, pukulan lain pun menyusul Gio tanpa membiarkan Gio melihat siapa pelakunya.
Kemudian Vano menarik kerah Gio dengan kasar
"Kalau kamu berani menyentuh Serra lagi, kuhabisi kau!" ancam Vano emosi lalu berdiri dan berjalan ke arah Serra.
"Memang kenapa? Siapa Serra bagimu? bukankah dia hanya penggagu untuk mu?" ucap Gio tak ada habisnya.
Mendengar hal itu, Vano kembali berbalik dan mendaratkan pukulan terakhirnya yang sangat kuat hingga membuat Gio kehabisan tenaga dan terkapar di rumput-rumput.
Flashback off
... lalu kalian harusnya tahu apa yang terjadi," ucap Vano setelah menjelaskan hal apa saja yang diketahuinya.
Orang-orang yang ada disana mengangguk mengerti dengan cerita Vano.
Setelahnya datang seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruang guru sambil membawa kamera cctv.
"Ini kamera yang anda minta pak," ucap pria itu kepada kepala sekolah kemudian pamit keluar
"Ya... jadi begini, untuk memastikan kebenaran saya meminta penjaga sekolah untuk mengambil cctv agar kita bisa mengetahui kebenarannya," jelas kepala sekolah itu.
"Apa maksud bapak?! Bapak tidak percaya dengan yang dikatakan Vano tadi?!!" protes Henry.
"Bukan begitu pak. Tapi saya disini harus memastikan kebenaran yang sesungguhnya," ucap kepala sekolah.
Henry menghela napas kasar, sebenarnya kepala sekolah ini ada benarnya juga bagaimana jika ada konspirasi disini?
Kemudian mereka menyaksikan siaran yang direkam oleh kamera cctv, sepanjang ini mereka menyaksikan apa yang telah Vano ceritakan menandakan Vano tak berbohong.
Sampai mereka menyaksikan setelah Vano pergi dari pintu belakang untuk menyerahkan barang kepada Pak Budi. Kemudian muncullah Fandi menghampiri Rio.
Orang yang menyaksikan hal tersebut mulai lebih fokus memperhatikan hal yang tak diketahui Vano itu. Dilihat Fandi dan Rio mengintip ke arah luar kemudian.... menutup pintu dan..... menguncinya.
Orang-orang di ruang guru yang menyaksikan terkejut dengan yang dilihatnya terkecuali Gio. Dan Serra? Ia menjadi yang paling terkejut
Fandi? Rio? juga terlibat dalam hal ini? ini semakin rumit. Mereka yang telah mengajari Serra dalam ulangan, yang mengusulkan agar Vano mengajarinya. Dan.... mereka bekerja sama dengan Gio?
__ADS_1
Hal itu tak pernah terbayangkan oleh Serra. Serra kemudian menatap Vano dengan gelisah. Vano membalas tatapan Serra dan tersenyum tipis untuk mencoba menenangkan Serra.
...♡♡♡...