Spring Love

Spring Love
H-22


__ADS_3

Reflek Vano langsung menutup mulut Serra menolak untuk menjadi pusat perhatian, apalagi mereka sedang berada di balik pohon.


Serra membulatkan matanya terkejut.


"Gak usah teriak-teriak," ucap Vano.


"Emm." Serra mengangguk-angguk.


Vano melepaskan tangannya dari Serra


"Jadi ngapain kamu disini? sembunyi-sembunyi lagi."


"Ehh ituu..." bingung Serra sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, ia sedang mencari alasan yang tepat.


"Akuu... kamu.. kamu yang ngapain disini? ngagetin aku pula," serang Serra balik.


"Kan kamu tahu aku ngapain disini," jawab Vano membuat Serra bingung.


"Hh..hah?" 


"Ga usah sok ga tau apa-apa, hari itu yang ngintip di pintu belakang kamu kan, pake gedor-gedor segala."


Serra terkejut, bagaimana Vano bisa melihatnya. Dia memang mengakui kebodohannya untuk menggedor pintu, tapi itu karena amarah. Tak bisa disalahkan.


"Kan kamu tahu aku disini buat ketemuan," lanjut Vano karena Serra terdiam.


"Ketemuan? maksudnya kencan?" 


"Hmm..." jawab Vano setelah melihat ke arah belakang Serra dan tiba-tiba menarik Serra untuk bersembunyi lagi.


Serra mengintip untuk mengetahui apa yang membuat Vano menariknya untuk sembunyi.


Dilihatnya Lydia keluar dari toko tersebut dan semakin membuat Serra bingung.


"Kenapa Vano malah sembunyi?" batin Serra


"Kalo dia kesini buat kencan kenapa malah sembunyi dari ka Lydia?"


"Vanoo?" panggil Serra berbisik tetapi Vano tak menoleh.


"Vanoo?-" panggil Serra lebih keras tetapi saat Vano menoleh, ia malah terdiam.


'Tampan'


Yang ada di benak Serra, karena jarak mereka yang saat ini sangat dekat mengakibatkan Serra dapat melihat wajah Vano dengan jelas. Dan untuk kedua kalinya Serra jatuh cinta kepada Vano.


"Kenapa?" bisik Vano karena Serra yang terdiam dan Serra tersadar lagi.


"Oh itu, katanya kamu-" ucap Serra terpotong karena Vano yang mengisyaratkan untuk diam dengan jarinya.


Dilihatnya Lydia yang keluar dari toko bunga dengan sebuket bunga. Dan setelah Lydia menghilang dari pandangannya, Vano mulai keluar dari persembunyian dan diikuti Serra.


"Hmm kenapa?" Tanya Vano ulang setelah memastikan Lydia telah pergi.


"Kalo kamu kesini buat kencan itu kenapa.. kenapa malah sembunyi dari ka Lydia?"


"Dia duluan yang pergi," jawab Vano apa adanya


"Hah? ga mungkin kencannya udah selesaikan? Dan ga mungkin ka Lydia yang pergi duluan."


"Gak percaya ya udah," jawab Vano mulai berjalan pergi.


"Ihhh, percaya percaya!" ucap Serra menyetujuinya dan mengikutinya.


Vano tiba-tiba berbalik dan melihat Serra mengikutinya.


"Kamu ngapain ngikutin aku?" tanya Vano.


"ehh?" bingung Serra.


"Oh iyaa-" ingat Serra dengan yang dilakukannya tapi terpotong karena melihat stand ice cream


Serra meneguk ludahnya, dan karena pandangan Serra terkunci, Vano ikut melihat ke arah yang dilihat Serra.


"Bocil banget sih," ejek Vano.


Dan wajah Serra kembali menatap Vano dengan tatapan sinis kemudian menjulurkan lidahnya.


Kemudian Serra ingin mengambil uang di sakunya untuk membeli es krim tersebut. Tetapi tangan Serra tak menyaut apapun dari sana.


Serra mengeceknya lagi karena tak percaya kalau ia tak membawa uang. Serra mengeluarkan tangannya lagi tapi juga tak ada sepeser uangpun disana.


Serra cemberut sambil melihat stand ice cream itu. Dan tiba-tiba Serra terpikir sebuah ide.


Serra menoleh ke arah Vano yang sedang bermain ponsel, merasa diperhatikan Vano menoleh ke arah Serra dengan bingung.


"Apa?"


"Hehe." Serra tertawa sinis.


"Mau ku beliin?" tebak Vano.


Dan Serra langsung mengangguk-angguk seperti anak anjing.


Vano menghela napas kemudian berjalan ke arah stand es krim itu sedangkan Serra sudah sangat happy.

__ADS_1


"Vanila satu mas," ucap Serra kepada penjual itu


"Dua mas," sela Vano.


"Jadinya dua nih?" tanya penjual itu memastikan.


"Iya," jawab Vano.


Sedangkan Serra menatap Vano mengejek.


"Beli juga ternyata, tadi aja katanya bocil. Kamu aja bocil!" ejek Serra.


Kemudian Vano menjulurkan lidahnya.


"Terserah aku, yang beli aja aku," ejek Vano membuat Serra bingung.


"Hah?" 


"Ini Vano?! setahu aku Vano itu orangnya dinging and super duper cuek lah ini?" bingung Serra.


Vano tak menjawabnya dan membayar dua es krim yang dibelinya.


Kemudian Vano mengambil satu es krim tersebut dan yang lain diambil Serra.


"Suka suka aku!" jawab Vano setelahnya.


Dan Serra tersenyum terkejut.


Lalu mereka mulai berjalan bersama sambil memakan es krimnya.


Serra melihat sebuah playground dan sangat ingin bermain disana. Ia mengajak Vano untuk bermain. Dan Vano, daripada Serra merengek lebih baik ia menurutinya saja.


"Eh lihat tuh, main yukk!" ajak Serra dengan gembira dan langsung menarik Vano.


Kali ini yang berkuasa adalah Serra, Vano ditariknya kesana-kemari dan Vano yang menurutinya saja. Sekarang ini kalau ada orang yang melihatnya, pasti mereka akan mengira kalau Serra dan Vano adalah sepasang kekasih.


Pada akhirnya, Serra sudah kelelahan dan terduduk di bangku. Vano datang dengan sebotol air minum, menyerahkannya pada Serra.


"Hehe, makasih," ucap Serra sambil menerimanya


Kemudian Vano ikut duduk di sebelah Serra.


"Udah jam makan siang, laper ga?" Tanya Vano setelah melihat jamnya.


"he em Serra laper, ayo makan!" ucap Serra sambil mengangguk-angguk.


"Mau makan apa?" 


"Hmm? apa ya enaknya."


"Manut aja." 


"Hmm? manut.... oh iya, Serra mau makan bakso. Vano mau ga?" 


"Oke." Jawab Vano kemudian berdiri dan disusul Serra.


Mereka pergi ke sebuah warung bakso, dan masih berada di pusat perbelanjaan.


Setelah bakso datang ke meja mereka, mereka langsung saja memakannya karena sudah lapar.


Serra melihat ke sekeliling dan berhenti pada sepasang kekasih yang sedang makan bersama, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Wajahnya berubah menjadi merah dan langsung mengalihkan pandangannya ke Vano.


Vano yang melihatnya bingung dengan Serra.


"Kenapa? kepedesan?" Tanya Vano melihat wajah merah Serra. Dan dengan cepat Serra meggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan makannya.


"Vano.." panggil Serra dengan ragu.


"Hmm?"


"Kan dari tadi kita udah jalan bareng nih.."


Merasa bingung Vano mengangkat kepalanya kepada Serra.


"terus kenapa?"


"Kalo udah kayak gitu... berarti sekarang inii... ki-kita l-lagi kencan?" tanya Serra dengan gugup dan terbata.


Vano langsung tersedak dengan pertannyaan Serra sedangkan Serra terkejut dengan Vano.


"Eh Vano kenapa??" bingung Serra sambil mengulurkan air minum untuk Vano.


Vano menerima air minum itu dan meminumnya dengan cepat.


"Vano ah, bikin kaget."


"Aku mau ke toilet dulu" ucap Vano kemudian pergi ke toilet.


"Oh ok."


Setelah kepergian Vano Serra menghela napas lega. Rasa kegugupannya berhasil ia keluarkan


Kemudian Serra melihat ke ponselnya, ia  melihat ada sekitar 5 missed call dari ibunya dan seketika Serra teringat sesuatu.


Dengan cepat Serra langsung menelepon ibunya

__ADS_1


"Mama!" ucap Serra begitu panggilan terangkat


"Maapin Serra ma, Serra lupa!" ucap Serra cepat sebelum ibunya mengomelinya.


"Dari tadi mama telepon ga diangkat bikin mama khawatir aja!"


"Maap ma, nada deringnya Serra matiin tadi."


"Ya udah sekarang kamu dimana?" 


"Masih di pusat perbelanjaan ma. Mama dimana?"


"Mama udah pulang lah, udah dari tadi."


"Ohhh" ucap Serra merasa bersalah karena bisa-bisanya ia melupakan tujuannya kesini.


"Ya udah kamu ngapain disana lama lama. Cepet pulang!" Suruh Selly.


"Iya ma, Serra pulang habis ini," ucap Serra kemudian menutup teleponnya.


Vano datang tepat setelah Serra menutup teleponnya.


"Kenapa? udah mau pulang?" Tanya  Vano.


"Eh vano. Iya udah dicariin mama soalnya." 


"Ya udah habisin dulu baksonya."


"Tapi Vano..."


"Kenapa?"


"Aku tadi kesini naik taksi sama mama aku. Tapi kalo sekarang, kayaknya bakalan susah hehe," ucap Serra malu.


Vano hanya diam menunggu Serra menyelesaikan kalimatnya.


"Jadi... kamu anterin aku pulang ya," ucap Serra


Vano menatap Serra dengan ekspresi yang tak bisa digambarkan.


"Ok." jawab Vano setelah diam sesaat


Bibir Serra terangkat lebar, ia sangat senang dengan jawaban Vano.


"Ohh, ok makasih!" ucap Serra mencoba mempertahankan imagenya didepan Vano, tapi hatinya sedang berpesta sekarang.


Lalu mereka segera menghabiskan baksonya.


Mereka pergi ke parkiran motor, Vano mengambil helm yang ada di motornya.


"Helm nya cuma satu," ucap Vano


dan dengan cepat Serra memahami maksud perkataan Vano.


"Kalo gitu, Vano aja yang pake!"


"Kamu aja," ucap Vano setelah berpikir sebentar dan mengulurkan helmnya.


"ga papa?"


"Iya."


Kemudian Serra menerima helm itu dan memakainya, Serra tak bisa menahan senyumnya.


Serra naik ke motor Vano, dan motor mulai berjalan. Sepanjang perjalanan Serra juga tak berhenti tersenyum, ia tak bisa menahan rasa bahagianya.


Serra menunjukkan arah rumahnya kepada Vano dan setelah memasuki gang yang dimaksud Serra, akhirnya mereka sampai di rumah Serra. Tak terlalu besar tapi minimalis dan sederhana, dan juga terlihat nyaman.


Serra turun dari motor Vano dan menyerahkan kembali helm Vano.


"Makasih ya Vano udah temenin Serra jalan dan anterin Serra sampe rumah," ucap Serra manis


"Sama-sama," balas Vano.


"Vano mau masuk dulu?" tawar Serra.


"Ngga, langsung aja," balas Vano.


"Oh, yaudah. Hati-hati Vano," ucap Serra mengiyakan karena tak mau menyita waktu Vano lagi.


Kemudian Vano mulai pergi dari sana.


Tapi tunggu.... 


"Vano gak putar balik?" Pertanyaan yang ada di benak Serra sekarang.


"Bukannya kalo kesana gak ada tembusnya yah?"


"Jangan-jangan... aku tetanggaan lagi sama Vano?" ucap Serra asal sambil terkejut menutup mulutnya.


"Ya Tuhan... gak mungkin sebahagia ini kan hidupku," ucap Serra tak percaya kemudian masuk ke rumahnya.


To be Continued


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2