
Setelah masuk ke rumah, Serra langsung menuju kamarnya tanpa menghiraukan ayah dan ibunya yang mengkhawatirkan Serra.
"Serra, kamu udah pulang. Kenapa baru pulang sayang?" tanya ibu Serra tapi Serra tetap berjalan melewatinya menuju lantai 2.
Karena tak dipedulikan putrinya, ibu dan ayah Serra mengikuti Serra walaupun terlambat.
Serra masuk ke kamarnya dan menguncinya, seketika ibu dan ayah Serra langsung merasa khawatir.
"Sayang? Buka nak," ucap ayah Serra sambil mengetuk pintu kamar.
"Sayang, kamu kenapa? Ngomong sama mama nak?" ucap ibu Serra.
Tetapi dari dalam kamar Serra tetap tak terdengar suara apapun.
"Mungkin Serra baru capek, kita biarin aja dulu ya?" ucap ayah Serra setelah mengetuk pintu Serra beberapa kali.
Dan disetujui oleh ibu Serra. Kemudian orang tua Serra meninggalkan kamar Serra.
Di dalam kamar Serra, Serra sedang berada di atas kasur memeluk dirinya sendiri dan masih dengan jaket Vano.
Serra menangis tanpa suara, ia menggigit bibir bawahnya untuk menekan suara tangisnya agar tidak didengar orang tua Serra dan menjadikan mereka khawatir dengan keadaan Serra.
Dilantai bawah rumah Serra, orang tua Serra sedang duduk di sofa depan TV.
"Mama khawatir banget, pa, sama Serra," ucap ibu Serra yang bernama Selly.
"Iya ma, papa juga. Jarang banget Serra pulang kayak gitu," ucap Hendry.
"Terus penampilan Serra tadi juga kacau, papa jadi tambah khawatir," tambahnya.
"Oh iya pa, tadi Serra pake jaket siapa ya? kayaknya Serra ga punya jaket kaya gitu?" heran Selly.
"Bener juga ya ma, terus tadi sekolah Serra diantar siapa?" bingung Hendry.
"Kalo tadi pagi Serra bilang katanya dia mau bareng Devina, berarti kemungkinan Serra juga diantar pulang sama Devina juga."
__ADS_1
"Coba deh ma, tanya Devina. Siapa tahu dia tahu Serra kenapa."
"Oke pa, mama telepon Devina."
Kemudian Selly menelepon Devina untuk mengetahui putrinya kenapa.
"Halo Devina, ini tante," ucap Selly begitu teleponnya diangkat.
"Oh halo tante, iya kenapa?"
"Tadi disekolah ada kejadian apa-apa gitu ga? Yang kemungkinan mempengaruhi Serra?" Tanya Selly.
"Ga ada tuh tante, tadi sekolah kayak biasa. Emangnya Serra kenapa?"
"Serra tadi pulang gak ngomong apa-apa terus masuk kamar dikunci, Serra juga telat banget tadi pulangnya. Emangnya kamu gak tahu Serra kenapa, kalian pulang bareng kan?"
"Eh, ngga kok tante. Tadi berangkat kita emang sama-sama tapi pulang Serra katanya mau bareng Vano."
"Vano? Vano siapa ya?" bingung Selly.
"Serra baru jatuh cinta?" tebak Selly.
"Iya tante, ternyata tante udah tahu hehe."
"Jadi Vano itu yang disukai Serra?"
"Iya tante, tadi kayaknya Serra pulang bareng dia."
"Oh, kalo gitu bisa kamu kasih tante nomor Vano?"
"Iya tante, bisa."
Kemudian panggilan berakhir dan Devina membagikan nomor Vano ke ibu Serra.
Hendry bingung dengan yang dibicarakan istrinya dan Devina tadi, putrinya jatuh cinta? Sudah sebesar itukah putri kecilnya? Dan juga bagaimana bisa istrinya tahu dan dirinya tidak.
__ADS_1
Hendry ingin bertanya tentang itu kepada Selly tetapi Selly sudah lebih dulu menelepon Vano.
"Halo Vano?"
"Iya, siapa ya?" Tanya Vano di telepon.
"Ini calon mertua kamu," ucap Selly asal.
"Maksudnya?"
"Eh, ini maksudnya saya ibu Serra."
"Oh, ibu Serra, iya tante ada apa?"
"Saya mau tanya, tadi Serra pulang bareng kamu ya?"
"Emm, iya tante bener."
"Kamu tahu Serra kenapa? Dari tadi dia ngunci diri di kamar," tanya Selly.
Tak terdengar suara apapun di seberang telepon.
"Halo Vano, kamu denger tante?"
"Iya tan, kayaknya kalo saya yang cerita kurang nyaman, lebih baik tante tunggu dulu Serra keluar, kalo sampe nanti malam Serra gak keluar, tante bisa hubungi saya lagi."
"Oh ok, kalo gitu."
Kemudian panggilan tertutup, dan karena alasan Vano, sekarang Selly yakin kalau putrinya sedang tidak baik-baik saja.
"Jadi gimana?" Tanya Hendry.
Dan Selly hanya menggeleng.
...♡♡♡...
__ADS_1