Spring Love

Spring Love
H-5


__ADS_3

Serra melihat-lihat rumah Vano dan pandangannya jatuh kepada salah satu toples. Diambilnya toples yang menurutnya menarik itu. Serra membuka toples itu untuk melihat isinya, dan seketika Serra terkejut bukan main.


...♡♡♡...


Dilihatnya isi toples itu, bibirnya tak bisa berkata-kata. Serra melihat sebuah.... permen.


Yah, permen biasa. Tapi tak biasa untuk Serra, karena ini permen favoritnya yang sudah tak diproduksi lagi dan entah bagaimana permen yang Serra dapatkan setiap hari disekolah.


"Permen ini??" lirih Serra berpikir sejenak.


Sudur bibir Serra mulai terangkat membentuk senyuman yang begitu lebar memperlihatkan deret gigi putihnya.


"Jadi?? selama ini... Vano yang...." Serra tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi karena terlalu senang.


Dan tiba-tiba bi Mira datang dari atas sambil membawa totebag yang sudah penuh, Serra mengambil beberapa permen itu dan dengan cepat memasukkannya kedalam kanton kemudian berdiri.


"Makasih bi," ucap Serra sambil menerima totebag yang terisi itu.


"Iya neng, sama-sama." 


"Itu neng... saya teh, ikut ke rumah sakit atau dirumah?" tanya bi Mira ragu.


"Ohh, itu sih terserah bi Mira. Kalo bibi mau ikut, ayo?" jawab Serra memberikan keputusan akhir kepada bi Mira.


"Maaf neng sebelumnya, tapi kalo neng dulu yang ke rumah sakit gimana? soalnya ini hari pertama bibi, takut kalo tuan sama nyonya marah," jawab Bi Mira.


"Oh ya udah bi, nggak apa Serra aja yang kesana," jawab Serra kemudian berpamitan pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Serra langsung saja pergi ke kamar rawat Vano.


Tok...tok


Serra mengetuk pintu kemudian membukanya. Dilihatnya Vano sedang berbaring di kasur dengan mata tertutup.


"Tidur?" lirih Serra pelan.


Kemudian tanpa membangunkan Vano, Serra menaruh totebag di sofa dan ia duduk disampingnya.


Serra mengeluarkan permen yang dibawanya tadi, Serra kembali tersenyum sendiri seperti orang gila.


"Tak salah lagi... yang ngasih pasti Vano..." pikir Serra kemudian melihat ke arah Vano yang masih menutup matanya.


"Kamu pasti udah suka sama aku kan?" lirih Serra sangat pelan.


"Kalo gak ngapain kamu ngasih aku permen ini?" ucap Serra cekikikan.


Kemudian Vano membuka matanya perlahan dan menyadari keberadaan Serra.


"Eh, Vano? aku ngebangunin kamu, kah?" tanya Serra.


Vano menggeleng kemudian merubah posisinya menjadi terduduk.

__ADS_1


Serra berjalan mendekat ke arah Vano dengan senyumnya yang tak luntur.


"Ngapain senyum-senyum? Seneng aku sakit?" tanya Vano.


"Ehh? ngga... Serra gak suka Vano sakit, Serra sukanya Vano sehat!" ucap Serra.


"Terus ngapain senyum-senyum?"


"Emm, gak papa," ucap Serra menyembunyikan kebenaran.


"Vano udah mendingan belum?" tanya Serra mengubah topik.


"Udah," jawab Vano singkat.


"Hmm, kalo gitu Vano mandi dulu deh terus makan.. eh?" ucap serra kemudian melihat ke arah makanan yang belum disentuh Vano.


"Belum kamu makan Vano?"


"Gak mood."


"Harus makan, dong. Vano mandi dulu sana terus makan makanan yang dibawain mama aku aja. Serra tau kok makanan rumah sakit gak enak kan?" goda Serra.


"Hmm," ucap Vano kemudian berdiri.


"Perlu Serra bantu gak?" tawar Serra.


Vano menatap Serra heran, ia tahu kalau gadis ini hanya menggodanya saja.


"Mau?" tawar Vano enteng.


"H-hahh? beneran?" bingung Vano, wajahnya mulai memerah.


Serra menatap Vano heran, bukankah Vano yang mengizinkannya untuk membantunya? Kemudian Serra mengambil infus yang masih terpasang pada Vano dan menaruhnya di tiang itu.


"Ayo," ucap Serra.


"Hhah? kamu becanda, kan? Serra?"


"Udah ah, cepet mandi. Kamu bau!" ucap Serra agar Vano cepat mandi.


Dan Vano hanya mengikutinya saja, tak lupa Serra membawakan totebag yang berisi pakaian Vano dan menyerahkan pada Vano begitu saja, agar Vano bisa memilih pakaian yang ingin dipakainya.


Sampai di depan pintu kamar mandi, Serra berhenti kemudian menyerahkan totebag itu kepada Vano.


"Sana cepetan..." ucap Serra.


"Lah? katanya mau-...." ucap Vano terhenti, ia menyadari apa yang dimaksud Serra dengan membantu. Wajahnya merah malu, ia menjadi orang bodoh dihadapan Serra.


Dan Vano dengan cepat menutup pintu kamar mandi keras membuat Serra terkejut.


"Eh?!" kaget Serra.

__ADS_1


"Kenapa sih? dia marah? apa dia marah gara-gara aku bilang dia bau?" bingung Serra kemudian membuka rantang makanan yang disiapkan ibunya untuk Vano tadi.


Serra menata makanan itu agar Vano bisa makan dengan nyaman.


Tak lama, Vano keluar dari kamar mandi. Tentu saja Serra membatu Vano lagi untuk kembali duduk di kasur.


"Vano makan ya.." ucap Serra setelah Vano duduk di kasur.


"Hmm..."


"Oh iya Vano, tadi waktu aku ke rumah kamu. Ada cewek, dia bilang kalo dia asisten kamu namanya bi Mira," jelas Serra.


"Bi Mira?" bingung Vano kemudian mengambil ponselnya dan terdapat beberapa pesan masuk dari mamanya.


"Mungkin mama yang kirim."


"Terus nanti siang mama papa aku mau jenguk kamu boleh kan?" tanya Serra.


"Hm, boleh."


Serra kemudian duduk di sebelah kasur Vano memperhatikan Vano makan.


"Kamu ga makan?"


"Udah, tadi di rumah Serra udah makan."


"Oh."


"Makanannya enak gak Vano?" tanya Serra basa basi.


"Enak," ucap Vano mengangguk.


Serra tersenyum mendengar jawaban Vano, dan ia kembali teringat dengan permen tadi.


"Oh iya Vano..." ucap Serra sambil  mengeluarkan permen itu dari kantungnya.


Vano melihat ke arah Serra dan sedikit terkejut dengan yang ditunjukkannya.


Serra dengan senyum lebarnya menatap Vano.


"Kenapa?"


"Alah Vano. Gak usah pura-pura gak tahu deh!" goda Serra.


"Ekhem." Vano berdeham sedangkan Serra yang cekikikan puas menggoda Vano.


"Oh iya Vano, Vano kok bisa tahu ini permen kesuka-" ucap Serra terpotong.


"Udah Serra," ucap Vano.


"Apanya?"

__ADS_1


"Makannya, udah abis," jelas Vano mencoba mengalihkan topik.


...♡♡♡...


__ADS_2