Spring Love

Spring Love
H-11


__ADS_3

Hari sudah menjadi gelap, dan Serra tak juga keluar dari kamarnya. Sementara orang tua Serra yang tak bisa tenang sedari tadi siang. Selly hanya berjalan mondar-mandir di ruang tamu sedangkan Henry yang duduk di sofa tak tenang, mereka mengkhawatirkan putri semata wayang mereka yang sudah sejak tadi mengurung dirinya.


"Ma, coba telpon temannya Serra yang tadi aja ma siapa ituu..." ucap Henry.


"Vano?"


"Iya, coba telpon dia lagi aja ma. Udah malem ini, Serra gak keluar-keluar."


Kemudian Selly menelepon nomor Vano kembali. Tak lama panggilannya terangkat.


"Hallo Vano?"


"Iya?"


"Ini tante."


"Iya, kenapa tante? Serra-nya udah keluar?" tanya Vano juga ikut khawatir dengan Serra.


"Nah, itu yang mau tante bicarakan. Serra dari tadi masih belum keluar kamar, tante sama om tambah khawatir. Kamu bisa tolong ceritakan apa yang terjadi pada Serra Vano?" tanya Selly kemudian men-speaker telepon agar Henry juga bisa mendengar pembicaraan.


"Ohh itu tante...." Vano menjawab dengan ragu. Sebenarnya Vano merasa khawatir pada Serra, ingin sekali Vano pergi ke rumah Serra sekarang.


Dan untuk menceritakan yang sebenarnya kepada orang tua Serra? Vano tambah ragu untuk melakukannya, awalnya Vano ingin Serra yang menceritakan kepada orang tuanya sendiri. Karena ia juga tak tahu apakah ia berhak menceritakan yang sebenarnya dan apakah Serra juga menginginkan itu?


Tetapi Vano juga mempertimbangkan bahwa orang tua Serra berhak tahu apa yang menimpa putrinya, bahkan mereka lebih berhak tahu ketimbang dirinya.


Dan pada akhirnya Vano menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Mendengar cerita Vano, orang tua Serra terdiam tak bisa berkata-kata.


"Tante? halo? tante masih disana?" tanya Vano karena tak mendengar suara apapun.


"Tante... maaf... harusnya Vano datang lebih cepat, kalo aja Vano datang lebih cepat... mungkin akan berbeda ceritanya...." lirih Vano kemudian menutup panggilan, Vano juga tak bodoh untuk bisa memahami perasaan orang tua Serra saat ini.


Sambungan ditutup, dan orang tua Serra masih tak bisa berkata-kata.


"Serra... hampir..." lirih Selly kemudian menutup mulutnya tak percaya putrinya hampir bertemu dengan ajalnya.


"Ma...." lirih Henry.


"Kita lapor sekolah ma, aku ga terima kalo ada perbuatan kayak gitu di sekolah!" ucap henry dengan tegas menahan amarahnya.


Dan tanpa pikir panjang, Selly menyetujuinya. Ia juga tak akan menerima perbuatan seperti itu.


Kemudian mereka langsung menelepon pihak sekolah tak peduli waktu, mereka hanya ingin melindungi putri mereka. Orang tua Serra menelepon sekolah dan menceritakan kejadian yang menimpa Serra.


"Pak, tindakan ini harus ditindak lanjuti!" tegas Henry.


"Baik pak, mohon tenang... sebelumnya kami pihak sekolah meminta maaf atas kejadian yang menimpa putri anda dan akan segera menindak lanjuti tindakan ini."


Mendengar ada keributan di bawah, Serra akhirnya mau keluar dari kamarnya.Serra keluar dari kamarnya sesudah mandi dan berganti pakaian.


Serra terdiam di ujung tangga karena mendengar bahwa orang tuanya melaporkan pada pihak sekolah.


"Ma... pa..." lirih Serra.

__ADS_1


Mendengar lirihan Serra, orang tua Serra langsung berbalik menyadari kehadiran putrinya.


"Mama sama papa lapor ke sekolah?" tanya Serra.


"I-iya nak, ini gak boleh dibiarin" jawab Henry, sedangkan Selly sudah berjalan mendekati Serra.


"Mama sama papa tahu dari mana?"


"Dari Vano temen kamu," jawab ayah Serra.


"Sayang... kamu gak papa nak?" tanya Selly sambil menggenggam tangan putrinya.


Serra tak menjawab pertanyaan ibunya, bagaimana bisa ia merasa baik-baik saja setelah maut ada di depan matanya.


"Tapi... masalahnya gak akan sampe ke hukum kan?" tanya Serra memastikan.


"Ini udah masuk tindak pembunuhan sayang, jadi..."


"Nggak, pokoknya ini gak boleh sampe ke hukum pa!" ucap Serra.


Mendengar tuturan Serra tentu saja mereka terkejut.


"Maksud kamu Serra? kamu gak mau yang udah coba bunuh kamu dapet hukuman yang setimpal?!" tegas Selly.


"Bukan ma... aku mau dia dapet hukuman tapi gak perlu sampe ke hukum, kan?" 


"Susah Serra, kalo udah masalah pembunuhan pasti ujungnya bakal diserahin ke hukum," ucap ayah Serra.


Serra bukannya ingin menjadi sok pahlawan kepada orang yang ingin membunuhnya. Tapi jika masalah ini sampai ke hukum maka Gio pasti terkena hukuman berat entah itu penjara atau yang paling parah adalah hukum mati. Serra tak setega dan sejahat itu sampai ingin memasukkan Gio ke penjara.


Orang tua Serra menghela napas.


"Sayang kamu makan dulu ya nak... udah dari siang tadi kamu belum makan apa-apa," ucap Selly khawatir.


...♡♡♡...


Jam menunjukan pukul 22.00 dan Serra masih juga belum tidur, ia hanya berjalan mondar-mandir sedari tadi.


Di rumah Vano, Vano juga tak bisa tidur. Pikirannya terus saja memikirkan Serra, ia khawatir pada Serra. Bagaimana Serra sekarang? Apakah masih mengurung dirinya di kamar?


Vano melihat ke arah handphonenya, ingin Vano meneleponnya tetapi mengingat jam yang sudah terlalu larut.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, seperti yang diharapkan Serra meneleponnya dan dengan cepat ia langsung mengangkat nya.


"Hallo Serra, gimana kamu sekarang?" tanya Vano begitu sambungan tersambung.


Serra sedikit terkejut dengan Vano yang sangat gesit, apalagi ini tentang keadaannya. Serra sedikit merasa senang dengan itu.


"Aku udah gak apa-apa Vano. Gak usah khawatir," jawab Serra.


Wajah Vano berubah menjadi merah karena Serra, dirinya tertangkap sedang mengkhawatirkan Serra


"Serra minta maaf Vano, udah telpon malam-malam."


"Serra ganggu gak?"

__ADS_1


"Ngga, ngga papa kok ra."


"Serra mau minta tolong sama Vano. Vano keberatan?" 


"Ngga, mau minta tolong apa?"


"Jadi tadi... orang tua Serra lapor ke sekolah tentang kejadian tadi."


"Iya, terus?"


"Mereka bilang kasus ini pasti bakal dibawa ke hukum."


"Itu emang harus Serra. Itu udah termasuk perbuatan pembunuhan."


"Tapi Vano..." 


"Kamu ada masalah dengan itu?"


"Serra... emm... Serra gak mau kalo masalah ini sampe dibawa ke hukum, Vano."


Vano sedikit terkejut dengan pernyataan Serra


"Kamu gak mau Gio dihukum?"


"Bukan gitu. Serra gak sebaik itu... tapi Serra gak sejahat itu sampe biarin Gio masuk penjara, apalagi Gio masih muda masih harus belajar." 


"Jadi?"


"Vano bisa gak bantu Serra?"


"Tapi aku bisa bantu apa Serra?"


"Iya juga.... tapi Vano dukung Serra kan?" tanya Serra.


Vano terdiam sebentar untuk berpikir.


"Halo? Vano?"


"Vano gak mau ya?"


"Besok aku bantu sebisanya, ya," ucap Vano.


Senyum Serra mengembang, setidaknya ia dapat dukungan walaupun mereka memang tak bisa bertindak banyak.


"Makasih Vano."


"Sama-sama."


"Selamat malam Vano, tidur yang nyenyak... maaf ganggu malam-malam," ucap Serra.


"Iya kamu juga," balas Vano.


Senyum Serra lebih mengembang mendengar jawaban Vano.


Mungkin panggilan malam ini bisa lebih mengangkat rasa takut Serra dan bisa membuat Serra tertidur nyenyak.

__ADS_1


"Selamat malam"


...♡♡♡...


__ADS_2