Spring Love

Spring Love
H-7


__ADS_3

Esok paginya, Serra membuka matanya dan menemukan selimut di atas tubuhnya. Serra berpikir sejenak.


"Kemarin kan aku tidur di deket kasur, kok bisa pindah ke sofa? terus ini kok ada selimut?? harusnya-kan dipake Vano.." bingung Serra.


Serra melihat ke arah kasur, ia menemukan Vano tertidur tanpa selimut, Serra sesaat memandang wajah tampan Vano.


Tak lama Serra menyadari Vano tidur tanpa selimut


"Oh iya... yang dirawat kan Vano!" ucap Serra menyadari kemudian berdiri untuk menyelimuti Vano.


Serra menutup tubuh Vano dengan selimut. Tiba-tiba Vano menarik tangan Serra yang sedang membenarkan posisi selimutnya.


Serra terkejut tangannya ditarik sehingga ia jatuh ke atas tubuh Vano, tapi karena reflek, Serra menahan tubuhnya dengan siku disamping tubuh Vano. Sehingga Serra tak benar-benar jatuh.


Serra terdiam dengan keadaan itu, posisi tubuhnya dan Vano sangat dekat sekarang. Melihat wajah tampan Vano dari dekat, membuat Serra tercekat terpesona.


Serra memperhatikan wajah Vano tanpa henti, bahkan dalam keadaan tertidur pun Vano terlihat sangat tampan.


Saat Serra masih sibuk melihat wajah Vano, tiba-tiba mata Vano terbuka. Mata Vano langsung melihat wajah cantik Serra. Kemudian mereka saling menatap cukup lama, Vano yang masih bingung dengan keadaan dan Serra yang kagum pada wajah Vano.


Sampai Vano tersadar dan membuka suara.


"Serra?" panggil Vano kecil.


Serra masih belum tersadar karena terlalu fokus.


"Serra??" panggil Vano lebih keras.


Kemudian Serra mulai tersadar, wajahnya mulai berubah menjadi merah padam, ia sangat malu.


Serra hendak berdiri tapi tangannya bahkan masih dipegang Vano. Serra melihat ke arah tangannya, dan diikuti Vano.


Lalu Vano tersadar kalau ia memegang tangan Serra langsung melepaskannya. Setelah tangannya dilepas, Serra langsung berdiri dengan menahan malu.


Vano berdeham karena merasa malu juga.

__ADS_1


"Maaf," ucap Vano dan Serra bersamaan, lalu mereka bertambah malu. 


Karena malu, Serra membuang wajahnya tak mau menatap Vano.


Kemudian pintu ruang Vano diketuk dari luar dan dibuka. Sosok dokter masuk ke dalam.


"Sudah bangun? sudah merasa lebih baik?" tanya dokter itu kemudian mulai memeriksa Vano.


Serra memperhatikan Vano yang sedang diperiksa oleh dokter tersebut.


"Kamu habis lari-lari?" tanya dokter itu tiba-tiba setelah memeriksa detak jantung Vano.


Dan wajah Vano seketika berubah merah, ia langsung membuang muka dari dokter itu.


Dokter itu terlihat bingung kemudian secara bergantian menatap Serra dan Vano, lalu tertawa.


"Ohh begitu rupanya... haha... anak muda anak muda..." goda dokter itu membuat wajah Serra dan Vano lebih memerah.


Kemudian dokter itu keluar dari ruang Vano dan gantian perawat yang masuk membawa sarapan untuk pasien.


Setelah pintu ditutup, keadaan menjadi sepi. Mereka tiba-tiba merasa canggung satu sama lain.


"Vano makan dulu situ.." ucap Serra.


"Emm i-iya," jawab Vano.


Kemudian Vano dan Serra sudah tak membuang wajahnya lagi.


"Kamu udah ngabari orang tua kamu belum?" tanya Vano.


Tiba-tiba Serra teringat kalau ia tak membawa hp dan sama sekali belum mengabari orang. Kalau ia pulang, Serra takut akan digantung ibunya.


Serra tak bisa membayangkannya, ia merasa 'ngeri'


"Belum ya?" tanya Vano lagi.

__ADS_1


"B-belum."


"Ya udah kamu pulang dulu sana."


"Tapi, kamu gimana?"


"Aku ga apa sendiri."


"Oh yaudah, aku pulang dulu ya.. nanti aku kesini lagi, kamu mau dibawain apa? pakaian, hp, alat mandi, sama mau apa gitu lagi gak?" tanya Serra.


"Nggak usah, itu aja. Oh iya, kuncinya? rumah aku kamu kunci, kan? kemarin."


"Iya, ku kunci, soalnya kuncinya ke gantung di pintu," ucap Serra sambil menunjukan pintu rumah Vano.


Kemudian Serra berbalik pergi, tapi sebelum pergi Vano memanggil Serra.


"Serra?" panggil Vano.


"Iya Vano?" tanya Serra di ujung pintu.


"Makasih," ucap Vano singkat penuh arti dengan senyumannya tulus.


Serra terdiam sesaat tapi kemudian membalas senyuman Vano.


"Sama-sama," balas Serra.


"Oh iya, sarapannya jangan lupa dimakan vano. Atau mau aku beliin yang lain?" tawar Serra lagi.


Kemudian Vano melihat sesaat makanan apa yang disiapkan rumah sakit.


"Ngga usah ini aja gak apa," jawab Vano.


"Oh ya udah, baik-baik ya. Nanti aku kesini lagi," pamit Serra kemudian pergi dari rumah sakit.


Sepanjang perjalanan pulang, Serra memikirkan bagaimana reaksi orang tuanya dirumah. Khawatir? tentu saja mereka khawatir, Marah? ini nih yang Serra takutin.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2