
Vano pergi ke toko di dekat rumahnya untuk membeli beberapa barang. Saat membayar, tak sengaja Vano melihat permen favorit sahabatnya yang sudah tak diproduksi lagi terjual disana. Tak pikir lama, Vano mengambil beberapa pack dari permen itu dan membayarnya.
...♡...
"Kamu gak mau ikut kita ke kota aja Vano? kamu mau balik disini lagi?" tanya ibu Vano.
"Iya ma, Vano bakal balik disini lagi aja. Vano ga mau ninggalin rumah Vano lagi," ucap Vano.
"Kalo gitu jaga diri kamu baik-baik Vano," ucap orang tua Vano kemudian melaju dengan mobilnya.
"Udah 9 tahun aku gak balik," lirih Vano di depan rumahnya.
"Serra masih inget gak ya?" lirih Vano.
...♡...
Di sekolah, Vano pergi ke sekolah dengan sepeda karena jarak yang tak jauh. Musim semi, bunga-bunga jatuh tertiup angin segar.
Vano bertemu seorang anak yang sedang duduk di bawah pohon sendirian.
"Orang tua kamu kemana?" tanya Vano hati-hati kepada anak itu.
Lalu, anak itu menunjuk ke dalam toko di dekat sana. Vano mengikuti tangan anak itu dan melihat seorang ibu sedang berada di dalam toko.
Kemudian Vano melihat anak itu dengan senyumannya yang menawan. Vano mengeluarkan sebuah permen dari kantungnya dan mengulurkannya kepada anak itu.
Saat permen diterima, anak itu kemudian berlari ke dalam toko. Tatapan Vano mengikuti langkah anak itu pergi menghampiri ibunya di dalam toko.
Bersamaan dengan angin musim semi yang membawa bunga-bunga, Vano melihat seorang gadis sedang menatapnya. Vano dan gadis itu bertatapan sebentar sebelum Vano mulai beranjak dari sana.
...♡...
Hari ini, Vano dengan sepedanya berhenti di depan rumah Serra. Kali ini Vano benar-benar ingin tahu apakah sahabatnya sudah tumbuh menjadi gadis cantik?
__ADS_1
Tak lama, seorang gadis keluar dari rumah itu.
"Wait, what?!" kaget Vano karena melihat gadis itu. Gadis yang kemarin dilihatnya.
"Jadi dia?" pikir Vano.
...♡...
"Kenalin, aku Serra!" ucap seorang gadis tiba-tiba.
Vano yang sedang fokus dengan bukunya, terkejut tiba-tiba mendengar kata Serra. Vano mengangkat wajahnya dan menemukan sosok wanita yang sangat cantik mengulurkan tangannya.
"Dia Serra?" pikir Vano.
"Cantik," batin Vano.
...♡...
Vano pergi ke ruang loker. Dicarinya nama Serra dari sekian banyak nama-nama yang tertempel di loker-loker.
Dengan cepat, Vano menaruh permen favorit Serra yang terbungkus amplop di dalam loker Serra dan pergi dari sana.
... ♡...
"Vano..." panggil Devina di perpustakaan.
"Hm?" tanya Vano sambil menghampiri Devina
"Jadi gini, aku ada rencana. Pengin belajar bareng gitu sama kamu, Serra," jelas Devina.
"Iya terus?"
"Gini, aku mau tanya kamu mau ga?"
__ADS_1
Vano berpikir sebentar dengan tawaran Devina.
"Kalo bertiga, berarti cuma aku, Serra sama Devina kan ya? Hmm..." pikir Vano.
"Cuma kita bertiga?" tanya Vano memastikan.
"Ngga, aku udah tanya temen kamu mau ikut atau gak."
"Ohh?"
"Ok, terserah kamu," jawab Vano.
"Ok, oh iya, ajarin ini dong," ucap Devina kemudian.
...♡...
Vano dan Serra sedang duduk di ayunan taman, air mata Serra sudah tak keluar lagi.
"Jadi.... selama ini Vano udah tahu kalo aku Serra?"
"Tahu dong, kamu aja yang gak sadar," ucap Vano mengejek.
"Lah gimana Serra bisa sadar? kan Vano aja ganti nama."
"Hmm? ngga tuh, aku mana ada ganti nama."
"Lah? Itu? Riva jadi Vano apa?"
"Mana ada. Dari dulu itu nama aku Vano, kamu aja yang manggilnya Riva."
"H-hah?" bingung Serra.
Vano menghela napas, bisa-bisanya Serra tak tahu nama Vano.
__ADS_1
"Nama aku itu Rivano!" jelas Vano.
...♡♡♡...