Spring Love

Spring Love
H-13


__ADS_3

Tiba-tiba pintu taman dibuka secara paksa, sebelum Gio menyadarinya, sebuah pukulan telah mendarat tepat di mukanya sehingga Gio terlempar. 


Tak hanya itu pukulan lainnya segera menyusul ke muka Gio.


Serra hanya diam, tubuhnya kehilangan energi, ia terduduk karena sangat lemah dan air matanya mulai bercucuran keluar, badannya bergetar. Apa yang baru saja terjadi, Serra selamat dari maut?


Seorang pria yang datang menyelamatkan Serra, Vano. Ya dia adalah Vano. Vano terus memukul wajah Gio hingga memar dan bercucuran darah.


Vano menarik kerah Gio, dan memperingatinya.


"Kalau kamu berani menyentuh Serra lagi, kuhabisi kau!" ancam Vano dengan muka yang menahan amarahnya kemudian berdiri dan berjalan ke arah Serra.


"Memang kenapa? Siapa Serra bagimu? bukankah dia hanya penggagu untuk mu?" ucap Gio dengan terbata karena ia menahan kesakitan.


Mendengar hal itu, Vano kembali berbalik dan mendaratkan pukulan terakhirnya yang sangat kuat hingga membuat Gio kehabisan tenaga dan terkapar di rumput-rumput.


Vano berjalan mendekati Serra dan ikut berjongkok dihadapan Serra. Vano mengusap air mata yang keluar dari mata indah Serra.


"Gio..." lirih Serra dengan serak, dan tubuh yang masih bergetar.


"Tak apa, ada aku," ucap Vano hangat sambil mengusap rambut Serra


Serra dengan cepat langsung memeluk tubuh besar Vano, dengan badan yang masih bergetar ketakutan.


Vano dengan ragu membalas pelukan Serra.


"Semuanya sudah berlalu, ada aku sekarang, aku akan melindungimu," ucap Vano hangat sambil mengusap kepala Serra yang ada di pelukannya.


Mendengar kata-kata sederhana yang diucapkan Vano dengan lembut dan hangat membuat Serra merasa aman. Kemudian setelah merasakan itu, Serra menangis dengan sangat kencang, meluapkan semua ketakutannya didalam dekapan hangat Vano. 


Kemudian Vano mengerakkan bibirnya, mengucapkan sebuah kata, tanpa mengeluarkan suara. 


"************"


Di UKS sekolah.


Serra masih terdiam akan kejadian tadi dan Vano sedang mengobati tangan Serra yang digenggam dengan keras tadi.


Tak ada satupun yang berbicara di ruang itu, Serra yang terdiam dan Vano yang fokus menutup tangan Serra dengan perban.


"Pulang dijemput siapa?" tanya Vano membuka suara tetapi Serra tak mendengarkannya dan membuat Vano menghela napas.


"Serra?" panggil Vano dan berhasil membuat Serra tersadar dari lamunannya.


"Hm?" 

__ADS_1


"Pulang dijemput siapa?" ulang Vano.


"Ga tau..." ucap Serra asal. 


Vano melihat Serra dengan bingung, bagaimana gadis ini tak tahu siapa yang menjemputnya. 


Vano selesai dengan tangan Serra dan sedang membersihkan alat yang digunakannya tadi.


"Ayo!" ajak Vano sambil mengambil jaketnya dan tas miliknya dan juga Serra.


Serra bangun dari duduknya.


"Kemana?"


"Pulang."


Serra sedikit merasa senang bahwa Vano peduli terhadapnya.


"Aku bisa bawa sendiri kok," ucap Serra hendak mengambil tasnya kembali, karena tak enak kepada Vano harus membawa 2 tas.


Vano hanya melihat ke arah Serra, gadis itu sekarang sangat kacau. Ia tak tega kalau harus membiarkannya pulang sendirian.


"Ga usah," tolak Vano kemudian berjalan lebih dulu, dan Serra hanya pasrah kemudian mengikuti berjalan dibelakang Vano.


Ketika mereka berdua berjalan sampai didepan ruang guru, ada guru yang memanggil mereka.


"Iya pak?" tanya Vano.


"Gini, tadi ibunya Serra telepon katanya anaknya belum pulang, kalian kemana? udah lama dari jam pulang sekolah loh ini."


"Tadi ini pak, ada sedikit..."


"Udah udah, cepet kalian pulang. Nanti malah ibunya Serra protes, terus itu kalau besok mau main, izin dulu sama orang tua," jelas guru itu.


"Baik pak," jawab Vano kemudian lanjut berjalan.


Di tempat parkir.


Tempat parkir sudah sangat sepi, hanya tersisa beberapa motor dan motor dari para guru.


Serra daritadi hanya diam saja, gadis itu benar-benar kacau, seragam sekolahnya kusut dan rambutnya berantakan. Mungkin kejadian tadi merupakan pukulan berat untuk Serra, bagaimana bisa ada seseorang yang mengungkapkan rasa cinta tetapi ditolak dan malah berusaha untuk membunuh. Untungnya ada Vano tadi, jika tidak? mungkin Serra telah menelan racunnya.


Vano merasa tak tega dengan Serra yang hanya diam saja dan penampilan yang kacau, padahal selama sebulan ini, Serra selalu berusaha untuk memberikan penampilan terbaiknya didepan Vano.


Vano memberikan jaketnya untuk Serra.

__ADS_1


"Ga usah Vano, ga papa ko," tolak Serra.


Vano mendengus akan tolakan Serra dan memakaikan jaketnya tanpa persetujuan Serra. Karena malas menolak, Serra tak lagi menolaknya.


Setelah jaket, kini Vano mengulurkan helmnya untuk Serra, karena helm nya hanya ada satu maka Vano sudah memutuskan kalau Serra yang akan memakainya.


"Dipake Serra aja? Nanti kalo ada polisi gimana?" tanya Serra.


"Ga papa, cuma deket."


Kemudian Serra memakai helmnya dan naik ke motor Vano, dan motor mulai melaju.


Serra merasakan jaket yang dipakainya terasa hangat dan menenangkan, seperti memberikan rasa aman kepada Serra dan juga ada bau khas Vano di jaketnya. 


Serra melihat ke depan, Vano dengan fokus sedang mengemudikan motornya, walau hanya punggung Vano yang Serra lihat, tapi dimata Serra sosok Vano yang terlihat sangatlah tampan.


Motor yang melaju samakin cepat membuat Serra reflek memegang sesuatu sebagai pegangan, tapi Serra merasa segan untuk berpegangan pada Vano.


"Vano, aku boleh pengangan ke kamu ga? Soalnya anginnya kenceng banget," tanya Serra pada Vano dengan sedikit keraguan.


"Apa?" Tanya Vano balik karena ia tak mendengar ucapan Serra.


Serra memberanikan dirinya untuk bertanya lagi, tapi ia sungguh takut untuk bertanya lagi.


"Ngga, ngga papa," ucap Serra.


Kemudian Vano seperti mengucapkan sesuatu yang tak bisa didengar Serra, tetapi tak dihiraukan oleh Serra. Dan akhirnya Serra berpegang pada belakang motor Vano.


Motor berhenti di depan rumah Serra, dan Serra turun dari motor Vano.


Serra melepas dan menyerahkan helm yang dipakainya kepada Vano lagi.


"Makasih ya udah anterin Serra," ucap Serra sambil merapikan rambutnya.


"Kamu udah ga papa?" tanya Vano karena melihat Serra yang terlihat menyedihkan.


"Gak kok, ga papa," jawab Serra walaupun sedikit ia masih merasa takut dan terpukul.


"Ya udah masuk sana," perintah Vano.


"Iya makasih Vano," ucap Serra kemudian masuk ke rumahnya, Serra hanya ingin cepat-cepat masuk ke kamarnya.


Karena khawatir dengan Serra, Vano masih diam didepan rumah Serra hingga Serra masuk ke rumahnya. Walaupun tahu kalau Serra akan aman di rumahnya.


Setelah Serra masuk ke rumah, Vano baru berangkat dari sana sampai lupa kalau jaketnya masih dibawa Serra.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2