
"Nama aku itu Rivano!" jelas Vano.
"Oh? ohh iyaa hahaha!!" ingat Serra kemudian tertawa akan kebodohannya.
"Vanoo...." panggil Serra hati-hati setelah selesai tertawa.
"Hmm?" tanya Vano menoleh ke arah Serra.
"I-ituuu..... tentang... p-perasaan Serra. Itu Serra beneran suka sama Vano... terlepas dari kalo kita sahabatan," ucap Serra gugup.
"Ekhmmm!" Vano berdeham kemudian berdiri.
Apa? kenapa ia berdiri? apa ia akan lari lagi? seperti sebelumnya? padahal semuanya sudah jelas, apa yang perlu disembunyikan lagi?
Serra ikut berdiri karena Vano berdiri.
"Vano?"
"Serra," panggil Vano dalam sambil menatap mata Serra yang indah.
"I-iya Vano?" tanya Serra gugup.
"Apa yang pengin kamu tahu?" tanya Vano
Serra menatap wajah Vano.
"Kamu... sayang sama aku?" tanpa Serra sadari bibirnya berucap dengan sendirinya.
__ADS_1
Vano menghela napas kecil kemudian menggenggam tangan Serra.
"Tentu saja aku sayang sama kamu," ucap Vano lancar.
Dahi Serra berkerut, semudah inikah? jawaban Vano? Apa itu benar?
"Serra?" panggil Vano.
"Kalo aku gak sayang sama kamu, aku gak bakal kasih kamu permen tiap hari."
"Kalo aku gak sayang sama kamu, aku gak bakal mau kasih nomor aku ke cewek yang baru ketemu."
"Kalo aku gak sayang sama kamu, aku gak bakal biarin cewek deketin aku semaunya."
"Kalo aku gak sayang sama kamu...
Aku gak bakal lakuin ini."
Sedangkan Serra? Ia berdiri tegak tapi tak dengan kesadarannya, ia fokus dengan Vano dan terkejut dengan semua ini.
Apa ini nyata? Vano benar-benar sahabatku? Vano benar-benar mengatakan semua itu? Vano benar-benar-.. memelukku?
Air mata Serra menetes dengan sendirinya
Lalu tak lama, Vano melepas pelukannya dan melihat Serra meneteskan air mata.
Vano tersenyum kemudian mengusap air mata Serra.
__ADS_1
"Serra? kamu denger kan aku ngomong apa?"
"Denger Vano, Serra denger semua..." jawab Serra dengan senyuman nya yang paling lebar.
"Vanooooo!!!" teriak Serra tak percaya kemudian menghambur ke pelukan Vano.
Serra menangis bahagia di pelukan Vano, tak menyangka kisahnya berakhir seperti ini.
"Oh iya, satu lagi..." ucap Vano tiba-tiba melepaskan pelukannya.
"Kalo aku gak sayang sama kamu, aku gak bakal lepasin wanita secantik dan sepintar kak Lydia," ucap Vano sengaja.
Serra menatap Vano dengan mengerutkan keningnya risau, tapi kemudian Vano tertawa dan membuat Serra tertawa kesal.
"Vanoo, Serra emang kurang cantik ya? Kalo pinter... kalo Vano pengin Serra pinter, Serra pasti bakal belajar biar pinter dan lebih pinter dari kak Lydia kokk!" ucap Serra risau karena ia pikir Vano benar-benar menyandingkan dirinya dengan Kak Lydia.
"Nggak perlu Serra," ucap Vano tertawa kemudian memeluk Serra lagi.
"Kamu gak perlu jadi pinter atau cantik. Di depan aku, kamu segalanya buat aku. Kamu hanya perlu jadi diri kamu sendiri di depan aku," ucap Vano hangat sambil mengusap rambut Serra.
Serra membalas pelukan Vano dengan lebih erat dan air mata bahagianya yang tak bisa berhenti keluar.
Serra amat-amat bersyukur karena Tuhan memberikan apa yang diinginkannya, ia berhasil mendapatkan Vano. Cinta dalam hidupnya sejak dulu.
Ia juga amat sangat bersyukur bahwa kisahnya adalah salah satu dari banyak kisah cinta lain yang berakhir bahagia. Karena tidak semua kisah berakhir bahagia. Tapi kisahnya kali ini berakhir dengan amat bahagia. Karena itulah ia menangis terharu di dekapan Vano saat itu.
Dan inilah kisah Vano dan Serra. Kisah cinta pandangan pertama yang dipenuhi kebohongan, akhirnya berakhir dengan sangat sempurna.
__ADS_1
...♡♡♡...
...**END**less-love...