
Sepulang sekolah Serra berlari ke arah Devina di halaman luar sekolah, Devina sudah berada di motornya dengan helmnya.
"Aku dapet ide!" seru Serra dengan semangat.
"Ide? ide apa?"
"Ntar ku kasih tahu, sekarang kita ke kafe dulu!" ucap Serra kemudian langsung naik ke motor Devina.
"Eh tunggu-tunggu, katanya tadi pengin dianter Vano, kok kadi aku?!" bingung Devina sambil menahan motornya yang hampir jatuh karena Serra yang langsung naik.
"Ngga ah, gak jadi. Udah... cepet!!" perintah Serra.
"Iya iya, sabar!" ucap Devina kemudian melaju bersama Serra.
Mereka sampai di cafe tempat favorit mereka, dan tanpa lama memesan minuman favoritnya. Serra dengan Caramel Macchiato-nya dan Devina dengan strawberry frappe-nya.
Sambil menunggu pesanannya, mereka berbincang.
"Jadi? ide nya apa?" Tanya Devina.
"Ide nya adalah...." ucap Serra terpotong mencoba untuk membuat Devina penasaran.
"APA IHH?!" ucap Devina kesal karena ia sudah terlanjur fokus sedangkan Serra tertawa puas.
Tetapi percakapan mereka terhenti sesaat karena pesanan mereka yang datang.
"Jadi ide nya itu aku bakalan beliin Vano BUKU FISIKA!!!" ucap Serra dengan semangat.
Dan seketika muka Devina berubah menjadi datar.
"Setiap harii!!" lanjut Serra.
Merasa Devina tak terkejut, Serra mulai memperhatikan Devina lagi.
"Ide brilian khannn?" ucap Serra percaya diri.
"Ngga buku fisika juga lah ra!"
"Eh??"
"Bagus loh itu, kan Vano suka baca buku, kasih aja buku fisika," jelas Serra.
Devina menghela napas kasar dengan ide Serra kemudian meminum minumannya.
"Kasih sesuatu yang manis gitu lah ra, masa kasih buku, buku fisika lagi?!"
"Sesuatu yang manis?" gumam Serra kemudian mulai berpikir.
"Kasih gula aja!" ucap Serra asal dan dibalas oleh pukulan kecil Devina.
"Apa ya? hmm?" gumam Devina mencari ide
Kemudian ia melihat ke arah minumannya dan seketika mendapatkan sebuah ide.
"Gotcha!" ucap Devina semangat.
"Hm? apa?"
"Kasih aja cupcake. simple and sweet," ucap Devina mengungkapkan idenya.
"Kue? bener juga. Ambil aja dari toko, iya kan? simple."
"Eee?? gak gitu juga lah ra, kalo ambil dari toko orang tua kamu itu artinya orang tua kamu yang kasih dia kue," jelas Devina.
"Tapi kan aku yang kasih?"
Devina menghela napas dengan kebodohan sahabatnya.
"Ga gitu ra!!"
"Terus gimana?"
"Ya kamu buat sendiri lahh!" ucap Devina.
Serra hampir tersedak mendengar ide Devina.
"Haaa?" ucap Serra tak santai.
"Devina sayang, kamu tahu kan kalo aku ga bisa masak. Kita udah temenan berapa lama?!"
"Ya kamu coba buat dulu lah."
"Tapi ambil dari toko bukannya lebih mudah?"
__ADS_1
"Engga gitu. Kalo kamu ambil dari toko ga akan ada kesannya, kamu harus buat cupcake itu dengan bumbu cinta!" ucap Devina sedikit lebay.
"Hmm..."
"Tapi gimana cara aku buatnya?" bingung Serra.
"Emm.. aku minta kamu ajarin yaa?" lanjut Serra.
"Ga, ga bisa. Aku sibuk... bye!" ucap Devina cepat kemudian berdiri setelah dengan cepat menghabiskan minumannya.
"Ehh... mau kemana?"
"Ada urusan!" jawab Devina.
Kemudian Serra menghembuskan napasnya, dan dengan cepat menghabiskan minumannya.
Ia mulai berjalan pulang ke rumahnya. Karena rumah Serra yang tak jauh dari cafe tersebut maka ia berjalan untuk pulang.
Di malam hari, Serra sedang bergelut dengan peralatan di dapurnya. Serra menghembuskan napas kesal setelah percobaannya yang entah keberapa gagal, padahal Serra sudah mencoba berbagai resep entah itu dari buku resep keluarganya ataupun men-search resep di internet.
Tapi tetap saja cupcake buatannya gagal, entah itu gosong, kurang matang atau rasanya yang aneh.
Serra duduk di kursi meja makan untuk mengistirahatkan kepalanya yang frustasi.
"Andai ada mama atau papa. Pasti ga akan sulit kayak gini," lirih Serra, karena memang ibu dan ayah Serra mengabari Serra kalau hari ini akan berada di toko lebih lama.
"Arhgggg!" teriak Serra frustasi kemudian menaruh kepalanya di meja.
Serra kemudian mulai berimajinasi bagaimana raut wajah Vano saat menerima cupcake buatannya.
Serra membayangkan wajah tampan Vano yang tersenyum hangat ke arahnya dan jadilah, Serra tersenyum sendiri seperti orang gila
"Serraa!" ucap ibu Serra yang baru pulang khawatir akan Serra yang tersenyum sendiri dan juga keadaan dapur yang kotor dan berantakan
Karena tak ditanggapi, ibu Serra menepuk pundak Serra sedikit keras dan akhirnya bisa menyadarkan anaknya.
"eh?" bingung Serra.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Terus ini kenapa dapurnya kayak gini?" Tanya ibu Serra panik.
"Oh my god, penyelamatkuuu!" Teriak Serra sambil memeluk ibunya.
"Astaga..astaga!" kaget ibu Serra.
Kemudian ibu Serra menyentuh dahi Serra.
"Eitt, ngga Serra ga papa," ucap Serra sambil menyingkirkan tangan ibunya dari dahinya.
"Terus?? ini dapur kenapa?"
"Hehe," Serra tertawa malu.
"Astaga... dapurnya kenapa?" panik ayah Serra yang baru masuk, karena ia pikir rumahnya kemalingan.
"Ngga papa kok pa, Serra cuma lagi belajar masak."
"Haa?? ga salah kamu Serra, kamu mau belajar masak?" bingung ibu Serra heran.
"Kok tiba-tiba nak?"
"hehe, ituu..." ucap Serra gugup.
"Kamu mau masak apa? sini mama bantu," Tanya ibu Serra.
"Serra mau buat cupcake ma, bantuin yaa?" mohon Serra dengan puppy eyes-nya.
"Kalo cupcake mah, mama jagonya, iya kan pa?"
"Iya iya, mama kamu tu, di toko kan mama kamu yang buat cupcake-nya."
Kemudian Serra dan ibunya kembali ke dapur.
"Kamu udah kerja keras nak," ucap ibu Serra sambil menepuk pundak Serra sehabis melihat keadaan dapur yang Serra kacaukan.
Dan Serra hanya bisa tertawa paksa.
"Jadi... yang udah kamu buat tadi apa aja?"
Kemudian Serra menunjuk tempat sampah yang berisi banyak cupcake gosong yang di buang Serra.
"Ya ampun Serra!" Teriak ibu Serra dan Serra hanya bisa tersenyum.
"Okee, ayo mama ajarin cara termantull buat cupcake, dijamin rasanya hmm mantap!" ucap ibu Serra penuh percaya diri.
__ADS_1
Kemudian ibu Serra memberikan contoh cara membuat cupcake kepada Serra, hasil buatan ibu Serra telah dicoba oleh Serra dan itu benar-benar enak. Tetapi saat Serra mencoba membuatnya cupcake nya tetap saja tak jadi, ibu Serra menepuk jidatnya.
"Padahal udah bener loh ini caranya," bingung ibu Serra karena cupcake buatan anaknya tak bisa jadi
Serra menghela napas hampir menyerah. Ibu Serra memperhatikan Serra dengan prihatin.
"Kayaknya kamu terlahir tanpa bakat masak sama sekali nak," ucap ibu Serra sambil menepuk pundak Serra
"Terus gimana maa?" rengek Serra.
"Emang cupcake nya mau kamu apain nak, sini mama buatin aja ya."
"emm, cupcake nya mau aku kasih ke seseorang ma, yang aku ceritain dulu."
"Ohh.. yang kamu bilang ke mama dulu di toko?"
"Iya maa."
"Kalo gitu kamu harus semangat ra, ga boleh nyerah. Pasti bisa ra," ucap ibu Serra menyemangati.
"Hmm, oke ma Serra coba lagi," ucap Serra kemudian mencoba membuatnya lagi.
Dan setelah beberapa percobaannya, akhirnya Serra berhasil menyelesaikan cupcake nya. Dan sekarang adalah waktu untuk ibu Serra mencicipi cupcake buatannya.
"Semoga... semoga... bantu aku Ya Allah!" batin Serra berdoa.
Ibu Serra membuka mulutnya untuk mencoba cupcake pertama Serra yang berhasil secara fisik.
Setelah mengunyah, ibu Serra mengangkat jempolnya ke arah Serra.
"Enak," puji ibu Serra.
Serra langsung menghela napas lega dan langsung terduduk tak kuat berdiri lagi.
"YAAAAA AKHIRNYAAA!!!!" Teriak Serra senang.
Keesokan paginya, Serra sedang menata cupcake nya di sebuah box dan mengikatnya dengan pita yang cantik, kemudian Serra pergi ke sekolah dengan riang.
Sesampainya di sekolah, Serra tak langsung ke kelasnya, ia pergi ke kelas 10-B lebih dulu untuk memberikan cupcake nya kepada Vano
Serra mengetuk pintu kelas, dan di dalam kelas masih kosong karena ini masih terlalu pagi sedangkan Serra sudah sangat bersemangat. Kemudian Serra berjalan dengan riang ke arah meja Vano.
Sekarang Serra bingung untuk menaruh kotaknya dimana. Serra mencoba menaruhnya di atas meja tapi ia berpikir kalau itu terlalu mencolok
Dan akhirnya Serra menaruhnya di loker meja Vano
Dan sebelum Serra berdiri dari kursi, tanpa sadari Vano sudah ada di sampingnya
Tentu saja Serra langsung panik seperti orang yang tertangkap basah sedang mencuri.
Reflek Serra langsung berdiri dan mengambil kotak itu lagi.
"Aku ga ngapa-ngapain kok Van," ucap Serra cepat menolak agar Vano tak berpikir yang aneh-aneh.
"Hmm," Vano hanya bergumam mengiyakan.
"Jadi?" Tanya Vano lebih dulu sambil duduk di kursinya.
"Jadi?" ulang Serra.
Vano menatap Serra bingung.
"Jadi ngapain kamu duduk di kursiku tadi?"
"Oh iya.. itu.... aku tadi cuma mau... ngasih ini," ucap Serra dengan gugup sambil menyodorkan kotak berpita.
Vano mengambil kotak itu dan menatapnya bingung.
"Ekhemm... kalo mau pacaran gak disini tempatnya!" ucap seorang siswa yang baru masuk ke kelas.
Wajah Serra memerah seketika dan ia menjadi gugup.
"Itu... emm... Vano buka sendiri aja!" ucap Serra gugup kemudian dengan cepat berjalan pergi karena sudah terlalu malu.
Sedangkan orang tadi hanya tertawa
Dan Vano melihat kotak itu dengan bingung. Karena penasaran akhirnya Vano membuka pita yang terikat dan membuka kotak itu.
"Cupcake," lirih Vano pelan.
Kemudian Vano mengambil 1 dari kotak itu dan mencobanya.
"Manis.." ucap Vano pelan sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
To be Continued
......♡♡♡......