
Vano dan Serra pergi ke sebuah warung mie ayam yang tak terlalu jauh jaraknya dari rumah mereka berdua.
"Vano suka makan disini ya?"
"Iya," jawab Vano singkat. Serra mengangguk dengan jawaban Vano.
Kemudian mereka memesan 2 porsi mie ayam.
"Btw dulu Serra sering banget makan disini waktu kecil," ucap Serra sambil menunggu mie ayam disiapkan.
"Suka berarti?"
"Suka sih, tapi sekarang lebih suka bakpao," ucap Serra tak berhenti dengan bakpaonya.
"Dulu Serra sering makan disini bertiga."
"Bertiga?"
"Iya. Serra, Devina sama temen satu lagi," jelas Serra.
"Devina?" bingung Vano karena rumah Devina juga tak dekat dari sini.
"Iya, dulu rumah Devina deket sini."
"Dulu kalo ke sini pasti bertiga jalan kaki. Sampe abang mie ayamnya hapal, kalo gak bertiga pasti ditanyain 'kok gak sama temennya dek'. Kalo waktu aku masih kecil, yang jual mie ayamnya bapak dari mas-masnya itu," jelas Serra dengan antusias sedangkan Vano yang mendengarkan Serra.
"Kalo temen kamu yang satunya?" tanya Vano penasaran bebarengan dengan datangnya mie ayam.
"Kalo temen yang satunya, itu sahabat aku yang paling deket, malahan lebih deket sama dia aku daripada sama devina," jelas Serra sambil mengambil sumpit dan mulai menyantap mie ayamnya.
"Dia orangnya gimana?"
"Penasaran banget ya Vano??" goda Serra karena tak biasanya Vano penasaran seperti ini.
Vano tak menanggapi Serra dan menunggu jawabannya.
"Temen aku itu namanya Riva, dia-"
"Cewek atau cowok?" sela Vano.
"Cowokkk..." ucap Serra sambil menahan tawa.
__ADS_1
"Ohh terus?"
"Aku sama dia itu deket banget. Dia orangnya ramah, murah senyum, baikk, suka banget makan yang manis," jelas Serra.
"Terus sekarang dia dimana?"
"Dia udah pindah ke Prancis. Waktu aku masih umur 8 tahun dia tiba-tiba bilang mau pindah tapi aku ga percaya kirain cuma becanda. Ternyata 3 hari kemudiannya dia beneran pindah, dan aku inget banget waktu itu nangis gak berenti-berenti," jelas Serra sambil tertawa mengenang masa kecilnya.
Kemudian mereka mengisi pembicaraan dengan cerita Serra sewaktu kecil, Serra tertawa setiap dia mengingat hal yang lucu dan antusias menceritakannya pada Vano sedangkan Vano mendengarkan cerita Serra dengan seksama sambil sesekali tertawa olehnya.
Selesai makan, mereka membayar mie ayam.
"Aku tinggal bentar ya ra," ucap Vano.
"Hmm? mau kemana?"
"Mau cari toilet bentar," ucap Vano kemudian pergi.
"Ohh ok."
Setelah Vano pergi, Serra yang tadinya berdiri kembali duduk untuk menunggu Vano. Serra melihat sekeliling untuk mengisi waktunya dan kemudian mengingat sesuatu.
Tak lama dari itu, Vano datang dengan membawa sekantung plastik.
Tak menjawab, Vano langsung menyerahkan plastik itu untuk Serra.
"Apa ini Vano?" bingung Serra kemudian melihat kedalam kantung.
'Bakpao' yang dilihat Serra didalam kantung itu. Senyum Serra langsung mengembang melihat bakpao itu, kemudian Serra menatap Vano dengan sumringah.
"Makasih Vanooo!!!" ucap Serra senang.
"Sama-sama," balas Vano.
"Oh iya Vano, habis ini ke taman deket sini, yuk!" ucap Serra sambil melahap bakpaonya.
"Ok."
"Jalan aja, gak jauh kok."
"Sekarang?"
__ADS_1
"Ya udah yuk," ajak Serra sambil berdiri.
"Abisin dulu bakpao nya."
"Ngga, nanti sambil jalan juga bisa. ayoo Vanoo!" ucap Serra menolak sambil menarik Vano.
Kemudian mereka berjalan pergi ke taman yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka makan tadi.
"Dulu nih, aku sering banget main disini. Kalo habis makan mie ayam langsung kesini," jelas Serra kembali mengenang masa kecilnya.
Serra melihat satu persatu permainan anak yang ada disana, matanya meneliti satu persatu seperti melihat ada dirinya yang masih anak-anak bermain-main disana. Serra tersenyum bahagia.
"Jadi kangen..." lirih Serra. Mendengar lirihan Serra, Vano mulai menatap Serra.
"Kalo kangen, tinggal diulang aja," ucap Vano enteng.
"Hah? gimana ngulangnya? kalo mau diulang pun gak bakalan bisa lengkap. Riva udah gak ada disini... dan mungkin gak akan ada disini lagii..." ucap Serra tiba-tiba bersedih.
Tiba-tiba Vano menarik Serra untuk melangkah ke depan, Serra terkejut pada awalnya karena secara tiba-tiba ditarik oleh Vano.
"Vano??"
"Udah kubilangkan... kalo kangen tinggal diulang," ucap Vano sambil mendudukkan Serra di ayunan kemudian mendorongnya dengan perlahan.
"Dulu aku sama Riva sering main ayunan, dia yang aku dorong... kenceng banget sampe dia pernah nangis aku dorong!" ucap Serra kemudian tertawa.
Tiba-tiba Vano mulai mendorong ayunan dengan lebih kencang membuat Serra terkejut hampir terjungkal, untungnya Serra dengan cepat berpegang pada gagang ayunan.
"Vannooo!! pelan-pelannn!!" teriak Serra tapi Vano malah tertawa.
"Vano ihh!! nggak lucuuuu!! pelanin gakkk?!" ancam Serra.
"Tau rasa kannn!" ucap Vano lebih mengencangkan dorongannya
"Vanoooo!!!" teriak Serra dan tiba-tiba teringat sesuatu.
"Eh? Vano tadi ngomong apa? kok nada ngomong Vano kayakk..." ucap Serra tak melanjutkan kalimatnya.
Dan Vano tiba-tiba menghentikan dorongannya dan tiba-tiba berjalan pergi meninggalkan Serra. Saat ayunan berhenti, Serra dengan cepat berlari mengejar Vano.
"Vanooo!!! tunggu.... mau kemana?? jawab dulu!!" teriak Serra sambil mengejar Vano yang lebih dulu berjalan.
__ADS_1
"Hampir aja."
...♡♡♡...