
Keesokan harinya di sekolah
Karena ini adalah hari senin, para siswa SMA Amore dikumpulkan di halam sekolah untuk melaksanakan upacara.
Selesai melakukan upacara, Serra melihat Vano sedang bersama teman-temannya. Karena ingin menyapa dan menanyakan sesuatu Serra mendekati Vano
"Vano!" panggil Serra.
Vano menoleh dan mengisyaratkan kepada teman-temannya untuk lebih dulu pergi.
"Kenapa?"
"Ga papa, cuma pengin nyapa."
"oh."
"Kok cuma oh doang?"
"Terus gimana?"
"Hmm, iyalah terserah." Serra tak terlalu mempedulikannya.
"Oh iya Vano?" ucap Serra teringat sesuatu.
"Kemarin waktu nganter aku pulang, Vano kesesat ya?"
"Ngga," jawab Vano sambil menggelengkan kepalanya.
"Lah, terus kemarin Vano lewat mana? Aku gak lihat kamu ada puter balik tuh?" ucap Serra sambil berpikir kalau Vano ternyata adalah tetangganya.
Vano seketika terdiam dengan ungkapan Serra.
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi menandakan kelas pertama akan segera dimulai.
"Yah... udah bel." Serra kecewa karena ia harus segera ke kelas, tapi ia masih penasaran dengan Vano.
"Jadi sebenarnya rumah Vano dimana?"
"Besok ku kasih tahu, udah bel," ucap Vano mencoba menghindar dari Serra kemudian berjalan pergi.
"Ngga Vano, kasih tahu sekarang!" angkuh Serra sambil mengejar Vano.
"Ngga."
"Vanoo... sekarang ga?!" ancam Serra.
"Ya engga," ucap Vano membuat kesal Serra
"Nyebelinnnn.... pokoknya sekarang!" kekuh Serra sambil menghadang Vano dari depan.
"Serra minggir."
"Ga mau, kasih tahu dulu!"
Vano menghela napas menyerah dengan Serra.
"Rumahku...."
"Dimana?"
"Jaraknya 5 rumah dari rumah kamu," ucap Vano kemudian melewati Serra yang terkaget.
Serra membiarkan Vano melewatinya.
Senyum Serra mulai mengembang.
"Yeayyyyy!!" Sorak Serra senang sambil berlari ke kelasnya karena sudah terlambat.
Waktu Istirahat
Serra dan Devina sedang makan di kantin seperti biasa.
"Devina... tahu gak?"
"hmm? ngga lah."
__ADS_1
"Hehe."
"Apa nih. Kayaknya ada yang baru kesemsem. Seneng banget, kenapa?"
"Jadi kemarin..." Serra tak melanjutkan ucapannya, ia tertawa malu.
"Apa an ih!"
"Hehe, jadi kemarin.." Serra menceritakan apa yang terjadi padanya kemarin di pusat perbelanjaan dengan lengkap kepada Devina.
"Whattttt?!" ucap Devina tak percaya.
"Udah semaju itukah hubungan kamu sama Vano?"
Serra tak menjawabnya ia hanya tersenyum.
"Oh iya, ada kabar baik satu lagi."
"Apa tuh?"
"Jadi sebenarnya.... Vano itu.... tetangga akuuu!"
"Hhaahhhh!!" teriak Devina semakin tak percaya
Serra mengangguk-angguk senang.
"Yang bener kamu!! Ngehalu ya?!"
"Bener ihh!"
"Katanya jaraknya 5 rumah dari rumah aku!" lanjut Serra.
"Waww, Dewi keberuntungan ada di pihak kamu ya Serra?"
"Hahah!" tawa Serra penuh kemenangan.
...♡♡♡...
Flashback on
Vano sedang berjalan bersama Lydia di pusat perbelanjaan. Lydia selama jalan, selalu mencoba membuka topik pembicaraan agar tak terjadi keheningan, tetapi Vano tetap cuek dalam menanggapi Lydia.
"Lydiaaa?!" panggil orang itu, Lydia menoleh ke sumber suara dan menemukan kenalannya
"Oh heiii!" balas Lydia.
"Vano, dia kenalan aku. Kayaknya kurang baik kalo cuma saling sapa, kita udah lama ga ketemu. Jadi aku kesana ya? sebentar aja," ucap Lydia kepada Vano.
"Hmm, ok."
"Kamu tunggu disini, ya?" ucap Lydia kemudian menghampiri kenalanya.
Vano menghela napas kemudian melihat ke sekeliling hingga akhirnya ia menemukan sosok yang dikenalinya.
"Serra? Dia disini bukan ngikutin aku kan?" batin Vano.
Lydia menghampiri kenalannya kemudian mereka berbicara layaknya teman yang lama tak bertemu.
"Eh itu siapa? pacar?" tanya teman Lydia sambil menunjuk ke arah Vano.
"Oh itu... hehe." Lydia tertawa malu.
"Aduhhh, udah punya gandengan aja Lydia," goda orang itu.
"Udah ah."
"Heh, kalo kencan harusnya bawa apa gitu, bunga atau apa lah, Kok ini ga bawa apapun?" sindir orang itu.
"Yah mau gimana lagi, baru pertama hehe."
"Oh baru pertama, ya kamu beliin dia apa gitu?" saran orang itu.
"Beliin sesuatu? Beliin apa?"
"Ya mana saya tahu, kan kamu pacarnya. Ya udah aku duluan ya," pamit orang itu.
__ADS_1
Kemudian Lydia mendekati Vano lagi.
"Vano, aku ada urusan sebentar, sebentar aja kok. 10 menit lagi kita ketemuan disini, ya?" ucap Lydia.
"Ok," ucap Vano menyetujui, kemudian mereka berpisah dan setuju akan kembali dalam 10 menit.
10 kemudian, Lydia kembali ke tempat semula sambil membawa sebuket bunga di tangannya. Ia bermaksud ingin memberikannya pada Vano.
Yahh... walaupun memang aneh kalau wanita yang memberi bunga tapi apa boleh buat, Vano juga tak akan melakukan hal itu kepada Lydia. Jadi Lydia berpikir kalau ia yang harus berusaha.
Lydia dengan sabar menunggu Vano yang belum kembali. Ia berdiri sambil memainkan ponselnya untuk mengisi kebosanannya.
20 menit telah berlalu, dan Vano masih belum kembali.
"Vano kemana sih," bingung Lydia sambil melihat sekeliling berharap menemukan Vano.
Karena tak juga menemukan Vano, Lydia mencoba menelepon Vano tapi juga tak diangkat.
Lydia menghela napas, berharap Vano segera datang tapi Vano tak kunjung datang juga.
"Ok. 10 menit dia gak datang, aku pulang," ucap Lydia hampir menyerah.
Dan setelah 10 menit berlalu, Vano juga tak kunjung datang, Lydia menundukkan kepalanya menatap bunga yang tak ada artinya lagi.
"Ternyata dari awal dia emang udah gak suka sama aku... ya?" lirih Lydia.
"Tapi setidaknya aku udah nyoba " ucap Lydia sambil menghela napas mencoba tegar.
Kemudian Lydia membuang bunga yang dibelinya dan melangkah pergi.
Flashback off
Saat jam istirahat di koridor sekolah, Vano tak sengaja bertemu dengan Lydia. Lydia berjalan mendekati Vano.
Setelah jarak mereka yang tersisa 3 langkah, Lydia berhenti. Suasana seketika hening.
"Makasih." "Maaf." Mereka berucap bersamaan.
"Ohh, kakak dulu aja."
Lydia tersenyum tipis.
"Makasih untuk waktunya kemarin, ya walaupun emang kurang seru dan enjoy maaf aja. Soalnya aku ga pinter cari topik, dan kamu yang cuek. Jadi kayaknya kita dari awal emang ga cocok," jelas Lydia.
"Tapi apapun itu... aku gak nyesel sama sekali karena setidaknya aku udah nyoba," lanjut Lydia sambil mengangkat kepalanya menatap Vano.
"Makasih udah kasih aku kesempatan," ucap Lydia sambil tersenyum.
Vano tak mengatakan apapun untuk membalas Lydia.
"Kamu gak ada mau ngomong apa gitu sama aku?"
"Emmm," bingung Vano.
"Hehe, ya udah kalo ga ada. Aku duluan," ucap Lydia sambil berbalik pergi.
"Kamu gadis baik," ucap Vano hingga Lydia berhenti melangkah.
Mendengar perkataan Vano, Lydia menerbitkan senyum.
"Tapi maaf... aku udah suka sama orang lain," ungkap Vano, dan berhasil membalikkan kembali tubuh Lydia.
"Serra?"
Dan seketika Vano membelalakkan matanya sebentar.
"Hehe, ga usah kaget gitu. Satu sekolah ini mungkin udah tahu semua, Serra yang ngikutin kamu terus kayak ekor udah bisa ditebak kalo kamu akhirnya juga luluh sama dia," jelas Lydia.
"Udah lah, aku gak mau nyakitin diri aku sendiri lagi," ucap Lydia kemudian berbalik pergi.
.
.
.
__ADS_1
Aku gak akan pernah menyesal karena hal yang udah aku coba, tak peduli gagal atau berhasil tapi kalau aku gagal sebelum bisa mencoba, itu akan menjadi penyesalan terbesar di hidupku.
...♡♡♡...