Spring Love

Spring Love
H-15


__ADS_3

Esok harinya, dengan semangat Serra mengikuti remidi. Serra dengan sepenuh hati dan dengan semua rumus yang diingatnya dapat menyelesaikan remidi dengan lancar. Serra melaksanakan remidi selama 3 hari, setelah melaksanakan remidi, pada sore harinya ia akan bertemu dengan Vano untuk belajar materi esoknya.


Seminggu telah berlalu, hari Senin ini para siswa SMA Amore berkumpul di lapangan untuk melaksanakan upacara setelah seminggu libur. mereka mengikuti upacara dengan tenang dan khidmat.


Setelah upacara selesai dilaksanakan, Serra menghampiri Devina di barisannya


"Devinaaa!" panggil Serra di keramaian.


"Eh? kenapa sih?? teriak-teriak?" 


"Hehe. Aku kangen Devina!" ucap Serra lalu memeluk Devina tiba-tiba. 


"Heh... asal peluk-peluk aja. Malu Serra!!" ucap Devina memberontak karena merasa malu dipeluk di depan umum seperti ini. Apa lagi ada beberapa murid yang memandanginya sesaat.


"Hehe," tawa Serra sambil melepaskan pelukannya.


"Makasih," ucap Serra kemudian.


"Buat?" tanya Devina sambil mulai berjalan.


"Buat... ngasih kesempatan aku dan Vano berduaan," jawab Serra sambil mengikuti langkah Devina.


"Kok gitu? emang aku ngapain?"


"Kan berkat Devina yang ngusulin buat belajar bersama bareng yang lain Devina, Devina juga yang bikin aku semangat belajar. Jadi.... makasih buat semuanya."


"Hubungan aku sama Vano juga udah makin deket hehe," lanjut Serra tersenyum malu.


"Uluh..uluh... selamat kalo gitu, Vano udah gak cuek lagi?"

__ADS_1


"Masih cuek sih, tapi udah mulai perhatian sama aku."


"Perhatian?? aduhh lemah hatiku..." ucap Devina sok dramatis.


"Devina ah... jan gitu!" 


Kemudian Devina tertawa puas berhasil meledek sahabatnya. Lalu mereka berpisah setelah sampai di depan kelas 10-B.


Saat istirahat terakhir Serra pergi ke lokernya untuk mengambil beberapa buku. Saat Serra membuka lokernya, ia menemukan sebuah surat. Serra pikir surat itu berisi permen seperti biasa, tapi saat Serra membukanya, rupanya bukan permen isinya melainkah benar-benar surat. Kalau dipikir-pikir hari ini, Serra juga tak mendapat permen favoritnya. Lalu apakah pengirim surat ini adalah pengirim permen?


Serra mengambil surat itu dengan hati-hati dan membukanya.


Di surat tersebut tertulis.


^^^Bagai angin yang berhembus dari timur dan menghilang di barat^^^


^^^Dan bagai matahari yang terbit di timur dan menghilang di barat^^^


^^^Seperti itu juga aku selalu melihatmu dan melihatmu^^^


Temui aku di taman belakang sekolah saat pulang sekolah....


"Puisi romantic..." lirih Serra sambil mencari nama pengirim surat.


"Apa ini untukku? tak ada nama pengirim dan penerima. Apa aku bisa menganggapnya untukku kalau itu ada di lokerku? bagaimana kalau dia salah loker? bukankah itu memalukan?" bingung Serra.


"Tapi.... karena ini sudah ada di lokerku, tak ada salahnya aku kesana kan?" ucap Serra kemudian mengambil buku yang diperlukannya dan kembali ke kelas.


Selama pelajaran di kelas, Serra tak bisa fokus ia selalu berpikir, siapa pengirim suratnya tadi.

__ADS_1


"Apakah Vano? tidak tidak, bagaimana si gunung es itu bisa bersikap romantis seperti ini?" 


"Lalu siapa? Dan bagaimana dia bisa tahu kalau aku akan pergi ke loker? Bagaimana kalau aku tidak ke loker saat istirahat pertama tadi, dan bagaimana kalau aku sama sekali tak pergi ke loker?"


"Harusnya dia adalah orang yang tahu kalau aku akan pergi ke loker, dan orang yang tahu hal itu hanya...."


"Florent?" lirih Serra sambil melirik ke arah Florent yang sedang fokus mendengarkan.


"SERRA!!! Fokus kamu!" Teriak guru yang sedang mengajar kepada Serra.


"Maaf...maaf pak!" sontak Serra meminta maaf.


Pulang Sekolah


Serra sedang mengemasi bukunya dan memasukannya ke dalam tas, ia tak sabar ingin mengetahui siapa si pengirim surat.


Serra berjalan di lorong sekolah yang sudah sepi, apalagi ini adalah taman belakang. Sangat jarang ada banyak orang disana dan lagi ini sudah jam pulang sekolah. 


Walau Serra sedikit takut berjalan sendiri di lorong yang sedikit gelap dan sepi, ia tetap melangkah maju.


Tiba-tiba Serra merasa kalau ada yang mengikutinya dari belakang, karena lorong yang sepi maka Serra bisa mendengar samar-samar dari suara langkah kaki.


Serra tetap melanjutkan jalannya agak cepat. Dan akhirnya ia menoleh ke belakang juga karena rasa takutnya yang sudah meninggi.


Tiba-tiba Serra berpikir bagaimana jika itu hanya surat prank untuk menakut-nakuti Serra? Serra hendak ingin mengurungkan niatnya pergi dari sana.


Tetapi rasa penasaran Serra tak beda jauh dengan rasa takut Serra sehingga Serra tetap melanjutkan langkahnya. Dan lagi-lagi ia merasa ada yang mengikutinya.


Serra berlari dan akhirnya melihat pintu taman belakang, Serra berhenti berlari dan dengan pelan-pelan membuka pintunya.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2