Spring Love

Spring Love
H-3


__ADS_3

"Aku mau ngomong sama kamu Serra," ucap Vano hati-hati.


...♡♡♡...


"Iya Vano? ngomong aja," ucap Serra.


"Kamu.... inget temen kamu yang pernah kamu ceritain ke aku dulu?"


"Siapa? Riva? inget lah!"


"Emang kenapa? Vano kepo ya?" goda Serra.


"Dia-..." ucap Vano terputus kemudian mengeluarkan ponsel dari kantung celananya


Vano mengotak-atik sebentar dengan ponselnya kemudian menunjukannya pada Serra.


"Ini bukan?" tanya Vano.


Serra memperhatikan ponsel Vano, dilihatnya sebuah foto seorang anak lelaki yang terlihat cemberut tak mau difoto.


Serra memperhatikan foto itu dengan teliti dan Serra teringat dengan lelaki itu.


"Rivaa...." lirih Serra kemudian menatap Vano.


"Kok Vano bisa dapat foto ini?" tanya Serra bingung.


Kemudian Vano kembali menarik ponselnya, lalu menunjukkannya lagi pada Serra. Serra kembali menatap foto itu dan matanya membelalak terkejut, reflek Serra langsung mengambil ponsel Vano.


"Vano dapet ini dari manaa!!!" tanya Serra setengah berteriak.


Bukannya menjawab Serra, Vano malah terkekeh pelan.


Vano mengambil ponselnya kembali dari tangan Serra, dilihatnya foto itu. Foto seorang 3 anak, 2 perempuan dan 1 lelaki. Menurutmu apa yang bisa membuat Serra berteriak seperti tadi? tentu saja karena foto itu adalah foto Serra sewaktu kecil bersama 2 sahabatnya. Bagaimana Vano bisa mendapatkan foto itu?


"Vanooo... Serra malu... Vano kok bisa dapat foto itu dari mana?!!" teriak Serra malu.

__ADS_1


"Tunggu...." ucap Serra tiba-tiba teringat sesuatu kemudian menatap Vano serius.


"Jangan-jangan Vano kenal ya... sama Riva?" tebak Serra.


Vano menatap Serra tak sesuai ekspetasi, kemudian berjalan mendekat ke arah Serra.


"Rara...." ucap Vano lembut.


Serra kemudian flashback bertahun tahun lalu sewaktu ia masih kecil, Riva sering menyebutnya dengan panggilan Rara.


"Rara??" lirih Serra.


Serra mengingat dulu Riva sering memanggilnya dengan sebutan Rara.


"Raraaa!" 


"Kenapa kau selalu memanggillku Rara? namaku Serra!"


"Haha... panggilan Rara lebih nyaman!"


"Kamu.... Riva?" lirih Serra menebak.


Vano lalu tersenyum mendengar tebakan Serra.


"H-hah? kok bisaa?" bingung Serra.


"Yep... tebakanmu benar 100%!" ucap Vano. Sedangkan Serra menutup mulut tak percaya. Apakah dunia sesempit ini?


"Riva?!" teriak Serra tak percaya kemudian tanpa aba-aba langsung memeluk Vano.


"Kok kamu ga bilang?! kenapa baru bilang sekarang??! aku-" ucap Serra kemudian mulai meneteskan air mata.


Vano mendengar isakan Serra.


"A-aku kangennn...." teriak Serra berderai air mata. 

__ADS_1


Vano terkekeh kemudian membalas pelukan Serra.


"Kenapa baru bilang???" isak Serra melepas pelukannya.


Vano tersenyum kemudian menghapus air mata Serra dengan tangannya.


"Jangan nangis," ucap Vano lembut.


"K-kukira Vano gak bakal balik lagi."


"Kenapa kamu mikir gitu? kan aku udah janji bakal balik," ucap Vano.


...♡...


"Rara!" panggil seorang anak lelaki sambil menghampiri seorang gadis kecil cantik yang sedang duduk di ayunan taman.


"Riva?"


"Nih!" tawar lelaki itu sambil mengulurkan permen.


"Wahhh, makasih Riva!" ucap gadis itu sambil menerima permen itu.


...♡...


"Hah?" bingung gadis itu.


"Iya dik, katanya permennya udah gak diproduksi lagi," jelas seorang bibi yang menjaga toko.


Seorang lelaki yang di sampingnya menghela napas kemudian mengajak gadis itu pergi tapi gadis itu lebih dulu menangis.


"Eh dik, jangan nangis. Nih bibi kasih permen yang lain," ucap bibi itu mencoba menenangkan.


Tapi gadis kecil itu semakin keras menangis


"Rara, udah jangan nangis," ucap lelaki itu sambil menarik gadis yang dipanggilnya Rara.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2