
Clara berjalan mengikuti seorang pelayan, kedua tangannya di borgol dengan rantai yang berukuran cukup besar.
Kini Clara di bawa ke sebuah ruang makan yang mewah dan juga besar, di depannya ada sebuah meja makan dengan dua kursi.
"Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?" Tanya Joker.
Clara hanya diam dan tidak menjawab sama sekali, tatapan tajam dan dingin seakan-akan menusuk tepat di jantung Joker. Pria itu hanya terkekeh melihat tatapan mengerikan dari Clara.
"Buka borgolnya.." Ucap Joker.
Para pelayan langsung membuka borgol yang di pasang di kedua tangan Clara, lalu wanita itu pun duduk tepat di hadapan Joker.
Di depan Clara sudah tersaji banyak hidangan lezat yang sengaja di buat untuknya.
"Makanlah, aku tahu kau pasti lapar." Ucap Joker.
Dan untuk kedua kalinya, Clara hanya diam seribu bahasa.
"Apa kau takut aku meracuni makanan ini?" Tanya Joker menebak.
Lalu Joker memerintahkan anak buah dan pelayannya untuk pergi dari ruang makan, setelah semua orang pergi.
Joker langsung membuka topeng yang terpasang di wajahnya, "Makanlah, Clara." Ucap Joker.
Joker secara perlahan memakan makanan yang ada di atas meja, "Aku tidak mau makan dengan seseorang yang tidak memiliki rasa malu, yang telah membunuh orang yang memperlakukannya dengan baik."
Ting...
Joker diam dengan garpu yang terjatuh, matanya langsung menatap tajam ke arah Clara.
"Sebaiknya kau jaga ucapan mu itu, jangan buat aku kehilanganmu kesabaran ku."
"Bahkan seekor anjing pun tahu balas budi.." Sambung Clara.
Brak...
Joker langsung membalikkan meja makan di depannya, tapi Clara hanya diam dengan mata yang masih menatap tajam ke arahnya. Tidak ada tatapan takut ataupun panik, wajah Clara menunjukkan kemarahan dan kebencian yang luar biasa.
"Kau sebut aku pembunuh?" Tanya Joker, tiba-tiba pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Iya, kau telah membunuh jendral." Jawab Clara dengan tatapan mata yang tajam.
Joker pun berjalan mendekati Clara, dengan kekuatannya dia langsung menjambak rambut Clara dan menyeretnya ke depan cermin.
"Bicara sekali lagi, bilang bahwa aku adalah seorang pembunuh." Ucap Joker.
"Kau seorang pembunuh!" Jawab Clara dengan setengah berteriak.
"Katakan lagi dengan mata yang melihat ke cermin, katakan sekali lagi. Siapa yang seorang pembunuh! KATAKAN!" Teriak Joker dengan tangan yang menarik kepala Clara agar wajahnya melihat ke arah cermin.
Mata Clara melihat dirinya di balik pantulan cermin, "Lihat baik-baik, siapa sebenarnya seorang pembunuh di antara kita? Siapa orang yang sebenarnya berlumuran darah?" Tanya Joker yang memaksa Clara agar melihat dirinya sendiri di balik cermin.
Clara terdiam dengan wajah ekspresi yang tidak bisa di baca. "Berapa orang yang telah kau bunuh di medan perang? Berapa keluarga yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai? Berapa?" Tanya Joker dengan nada pelan tapi masih bisa terdengar oleh Clara.
"Rasakan setiap darah yang mengalir di tanganmu, lihat tanganmu. Penuh dengan darah yang berwarna merah!" Bisik Joker dengan senyuman misterius di wajahnya.
Clara pun melihat kedua tangannya, tersirat sebuah ekspresi ketakutan di wajahnya.
"Aku bukan seorang pembunuh? Semua itu demi kedamaian! Aku tidak melakukan hal itu." Teriak Clara.
"Tidak ada namanya kedamaian yang di mulai dengan sebuah peperangan, yang ada kau hanya menjadi seorang pembunuh." Bisik Joker.
"Tidak! Kau jangan mencuci otak ku dengan perkataan mu yang tidak masuk akal itu." Jawab Clara dengan nada tinggi.
Lalu Joker pun pergi meninggalkan Clara sendirian, wanita itu hanya diam di depan cermin. Perlahan matanya melihat pantulan dirinya sendiri, "Aku terbakar?" Tanya Clara.
Kemudian Clara mengangkat tangannya, tangan yang telah berlumuran darah orang-orang.
"Hiks.. Hiks.. Hiks..."
Terdengar isak tangis dari mulut kecil Clara, semua perkara Joker terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Jendral... Aku bukan seorang pembunuh kan? Bukankah aku melakukan itu demi perdamaian dan juga misi-misi yang ku lakukan? Semua itu demi kebaikan, bukankah begitu jendral?" Tanya Clara pada dirinya sendiri.
Dia memang suka membunuh tapi dia tidak pernah menyangka jika perkataan dari Joker telah membangunkan jiwanya yang lain, yang telah tertidur selama ini.
Joker yang melihat dari laptop miliknya hanya tersenyum, apa yang kini di lakukan oleh Clara semuanya di amati oleh Joker.
"kenapa kita tidak menyiksanya saja secara langsung?" Tanya Aaron kepada Joker.
__ADS_1
"Dia adalah seekor Anjing militer, siksa fisik tidak akan membuatnya menderita. Tapi jika kita menyiksanya secara mental, dia akan lebih menderita." Jawab Joker dengan senyuman puas di wajahnya.
Aaron masih tidak mengerti apa yang di pikiran oleh Joker, meski dia adalah adiknya tapi Aaron bahkan tidak mengenal Joker lebih dalam. Pria itu sangat misterius dan sulit untuk di tebak.
Clara hanya bisa diam dengan mata yang masih menatap pantulan dirinya di cermin, "Ini semua tidak benar, Joker hanya ingin memanipulasi semuanya." Ucap Clara pada dirinya sendiri.
Lalu ingatan Clara terpaku pada satu momen yang di saat dia terjun ke medan perang.
Flashback.
"Arg..."
Terdengar suara teriakan seorang pria, Lyli menatap dingin musuh di depannya.
"Ku mohon jangan bunuh aku.." Pintanya dengan mata yang berkaca-kaca, perlahan pria itu pun menangis sejadi-jadinya.
Bagi Lyli pria itu adalah pria yang sangat lemah karena dia menangis di saat seperti ini. Tanpa rasa takut Lyli menodongkan senjatanya tepat di kepala pria itu, pria yang sudah terluka parah hanya bisa menangis dan memohon agar nyawanya di ampuni oleh Lyli.
Dor...
Tembakan pun terdengar, pria di depan Lyli mulai jatuh ke tanah dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Tanpa rasa bersalah Lyli hanya menatap dingin ke mayat di depannya, tapi sebuah foto tiba jatuh dari mayat pria itu.
Lyli dengan rasa penasaran memungut foto itu, dan dia melihat pria tadi bersama dengan seorang wanita dan satu anak kecil.
Nicholas tiba-tiba datang dan hanya diam saat melihat apa yang di lakukan oleh Lyli.
Wajah Lyli pun kotor oleh darah dari pria itu, "Kau membunuhnya?" Tanya Nicholas.
"Iya, jendral." Jawab Lyli dengan tangan yang masih memegang foto.
Mata Nicholas pun tertuju pada foto yang berada di tangan Lyli. "Kenapa kau membunuhnya?" Tanya Nicholas.
"Di musuh dan harus di bunuh jika tidak, maka aku yang akan di bunuh olehnya."
"Ada kalanya kita harus menggunakan hati nurani." Jawab Nicholas.
Lyli yang mendengar hal itu hanya mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Tidak, ayo pergi..." Ajak Nicholas kepada Lyli untuk segera pergi dari tempat itu.
Flashback off