SPY X Bos Mafia

SPY X Bos Mafia
Bab 28


__ADS_3

Joker mengerang kesakitan, lalu tangannya langsung memegangi tangan Clara dan mencabut paksa pisau di perutnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tidak waras?" Tanya Joker dengan mata yang menatap tajam ke arah Clara.


"Iya, aku memang sudah tidak waras. Kenapa? Kau tidak suka, bukankah kau sangat mencintai ku lalu kenapa kau marah saat aku menusuk mu? Bukankah setelah ini kau juga akan membunuh ku." Ucap Clara dengan langkah yang mulai lemas.


"Arg.. Jangan keras kepala dan tunduk lah di bawah kaki ku." Ucap Joker dengan tangan yang memegangi lukanya.


Clara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, selama ini dia menyadari jika dirinya mencintai Joker tapi rupanya Clara sudah salah menilai cinta yang di katakan oleh Joker.


Bagi Joker mencintai Clara bukan menyetarakan kedudukannya dengan Joker, melainkan membuat Clara tunduk di bawah kakinya.


"Kau tahu apa yang selama ini ku sesali?" Tanya Clara dengan mata yang melihat ke arah langit malam.


"Yang kau sesali selama ini jelas menjadi seorang pembunuh." Jawab Joker dengan senyuman di wajahnya.


Clara pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Di saat aku sadarkan diri, aku baru tahu jika kamar ku kini berada di sisi laut." Ucap Clara dengan mata yang menatap ombak laut yang terus saling beradu.


"Aku sengaja memindahkannya," Jawab Joker.


"Menurutmu cinta itu seperti apa?" Tanya Clara dengan mata yang menatap sayu ke arah Joker.


"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu kepada ku?" Tanya Joker.


"Kau tinggal jawab saja, kenapa harus balik bertanya." Jawab Clara dengan mata yang kembali menatap ke arah langit malam.

__ADS_1


"Hem.. Cinta itu ketika hati dan pikiran kita terus tertuju pada satu orang, ketika jantung terus berdebar-debar saat berada di dekatnya, dan ketika perasaan senang saat bersamanya. Menurutku cinta seperti itu dan ketika jiwa dan raga kita ingin melindunginya meski keadaan memaksa kita harus menyakitinya.." Jawab Joker dengan mata yang melihat ke arah Clara.


Dengan senyuman tipis Clara memejamkan matanya, dia mendengarkan suara deburan ombak yang membuat pikirannya seakan melayang jauh ke dalam samudra.


Perlahan Joker berjalan mendekat ke arah Clara, tangannya mulai memeluk Clara dari belakang. "Maaf.." Ucap Joker seraya menatap sayu wanita di dalam pelukannya.


"Maaf?" Tanya Clara dengan mata yang masih tertutup dan enggan melihat ke arah Clara.


"Keadaan memaksa ku," Jawab Joker dengan nada rendah.


Perlahan Clara mulai membuka matanya, "Jadi kau akan membunuhku?" Tanya Clara dengan tatapan mata yang sendu.


"Menurut lah kepadaku, aku jamin kau akan hidup bahagia." Bujuk Joker.


"Apa itu?" Tanya Joker dengan senyuman di wajahnya.


"Jangan jadikan anak ku sebagai mesin pembunuh, aku tidak ingin jika suatu saat anak ku akan menanggung beban yang berat atas kejahatan yang dia lakukan." Ucap Clara.


"Tidak bisa, ini semua sudah di rencanakan oleh semua orang yang ada di organisasi ku dan aku tidak mungkin membatalkannya begitu saja." Jawab Joker.


"Kau pimpinan di dalam organisasi mu, aku yakin kau bisa membatalkan rencana itu." Ucap Clara berusaha memohon kepada Joker.


"Tidak Clara, aku memang pimpinan organisasi. Tapi tanpa orang-orang yang mendukungku dan memiliki peran penting dalam organisasi ku, aku bukan siapa-siapa mungkin aku hanya orang biasa. Jika aku melakukan hal ini, orang-orang ku pasti akan kecewa dan mungkin mereka akan melakukan pemberontak." Jawab Joker karena dia adalah orang yang menjunjung tinggi aturan dalam organisasinya meski dirinya sendirilah pemimpinnya.


"Kau tidak lebih dari pecundang, kau bahkan tidak bisa melakukan hal itu karena takut dengan anak buah mu?" Tanya Clara dengan tatapan kesal dan meremehkan.

__ADS_1


Mendengar hal itu Joker hanya tertawa ringan, "Clara, jika aku tanpa anak buah ku ataupun tanpa orang-orang yang mempercayai ku sebagai pimpinan mereka. Aku tidak lebih seperti seorang raja tanpa kerajaan." Jawab Joker.


"Memangnya apa pentingnya seorang anak buah? Kau bisa mencari yang lain." Jawab Clara.


"Clara, apa kau tahu berapa banyak organisasi penjahat seperti ku yang pada awalnya mereka berjaya dan akhirnya mereka kalah, dan bahkan tidak sedikit pimpinan organisasi yang di bunuh oleh anak buah mereka sendiri. Kau tahu alasannya kenapa?" Tanya Joker dengan tatapan serius. "Itu semua karena orang itu sudah tidak mendapatkan kepercayaan dari bawahannya, organisasi itu sama seperti sebuah negera. Jika seorang presiden sudah tidak di percayai dalam menjalankan urusan negara, maka para menteri akan menurunkan jabatannya dan menggantinya dengan orang baru." Sambung Joker menjelaskan.


Tapi Clara hanya diam dan enggan untuk menjawab. "Sebuah organisasi seperti ku, bukan hanya hasil kerja keras ku saja. Tapi anak buah ku, dan kau tidak bisa menganggap remeh orang-orang yang berada di bawah pimpinan sebuah organisasi. Karena mereka seperti sebuah pilar yang menopang sebuah rumah, jika pilarnya hilang maka rumahnya akan hancur." Ucap Joker dengan tatapan dan senyuman yang dingin.


"Jika kau tidak bisa melakukan hal itu karena kau seorang pemimpin, maka aku memintamu untuk tidak menjadikan anak kita sebagai senjata. Dan aku mohon karena kau ayah mereka, apa kau tidak merasa kasihan melihat anakmu malah melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan." Pinta Clara dengan segala cara.


Tapi Joker kembali menggelengkan kepalanya, "Sebaiknya kau diam, Arg.." Nampak Joker kembali merasakan sakit di bagian perutnya.


"Aku salah telah menilai mu, kau sangat egois. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri," Jawab Clara.


"Aku egois? Siapa yang sebenernya egois di sini, Clara? Aku atau kau? Aku menentukan pilihan ini karena menguntungkan banyak orang terutama organisasi ku tapi kau? Kau menginginkan hal itu hanya untuk dirimu sendiri, hanya untuk memuaskan nafsu dan ego mu sendiri tanpa memikirkan orang-orang yang sudah bekerja keras untuk apa yang mereka inginkan." Ucap Joker yang kembali berusaha mencuci otak Clara.


"Aku tidak egois, kau yang egois.. Lagi pula orang tua mana yang mau melihat anaknya menjadi mesin pembunuh." Jawab Clara yang menyangkal tentang dirinya.


"Orang tuamu! Mereka yang telah menjadikanmu seorang mesin pembunuh yang telah membunuh ratusan nyawa manusia." Jawab Joker.


Mendengar hal itu Clara terdiam sesaat mengingat kenangan terakhir saat dia berada di panti asuhan, "Kau tahu kenapa mereka membuang mu? Karena mereka tidak menginginkan mu? Dan begitu juga dengan anak kita, aku tidak akan selamanya hidup begitu juga denganmu. Terutama dengan identitas ku yang seperti ini, pasti akan banyak musuh yang mengincar anak kita." Ucap Joker.


Lalu Joker memegang pundak Clara, perlahan Clara melihat ke arah Joker.


"Jadi apa yang kau pilih! Melihat anakmu membunuh atau di bunuh?"

__ADS_1


__ADS_2