Step Mother

Step Mother
Perasaan Berbeda


__ADS_3

Melihat beberapa belanjaan dari dalam mobil itu, Sinta antusias menyambutnya. Senyum lebar bocah itu tak bisa lagi ia tahan.


“Bu, ini untuk Ibu.” ujar Arbi memberikan beberapa paperbag.


Tangan keriput Fatih lantas menerimanya. “Ini semua Sinta dan Paman ini yang beli loh, Bu.” ujar Sinta memamerkan barang miliknya.


“Terimakasih yah? Seharusnya jangan repot-repot seperti ini.” Wanita paruh baya itu merasa sangat tak enak.


Sedangkan Windi yang melihatnya tampak datar. “Tuan, bisakah anda lain kali bicara jika ingin membawa adik saya? Ibu sangat cemas mencari Santi.”


“Win,” tegur sang ibu dengan tangan yang menyenggol lengan anaknya itu. Arbi mendengarnya dengan jelas.


“Maafkan saya. Tadi saya hanya berpikiran ingin membeli baju seragam sampai lupa untuk pamit.” Fatih merasa tak tega melihat pria di depannya merasa bersalah.


“Ehm tidak apa-apa. Bukan masalah kok lagi pula Sinta sudah besar ia akan tahu jika di bawa orang baik atau jahat. Abaikan saja ucapan Windi tadi, Tuan.” tutur Fatih tersenyum.


Windi yang usai mempersiapkan berbagai macam makanan yang Arbi beli akhirnya mempersilahkan makan di ruang tamu. Sebab rumah bagian dapur tengah renovasi.


Suara keributan pun akhirnya membuat Arbi kembali sadar. “Bu, sebaiknya kalian saya pindahkan sementara di kontrakan atau hotel. Selama rumah ini di renovasi. Rasanya sungguh ribut untuk tetap di sini.” ujar Arbi.


Ingin ia mengajak keluarga sang istri ke rumah, namun melihat keadaan Jenson yang tengah menolak hubungannya Arbi berpikir itu tidak mungkin.


Dan Windi pun mengetahui hal itu. “Tidak, kami di sini saja. Lagi pula pekerjanya sangat banyak itu pasti akan lebih cepat. Dan terimakasih banyak Tuan untuk semuanya. Windi benar-benar beruntung begitu juga kami yang memiliki anda. Anda sangat perhatian pada keluarga Windi.”


Arbi diam kembali. Santi yang merasakan makanan kali ini sangatlah nikmat beberapa kali meminta pada sang kakak untuk tambah nasi. Pendengarannya mengenai segala perbincangan di sekitar mendadak jadi tuli.


Hingga beberapa menit lamanya, mereka semua pun telah selesai makan. Arbi yang merasa semua urusan sudah selesai berniat membawa sang istri kembali pulang.


“Sudah semuanya kan? Ayo pulang.” ajaknya menatap sang istri yang sedari tadi hanya diam saja.


Windi beralih menatap sang ibu. Dan melihat ibunya menganggukkan kepala, Windi pun setuju. “Hati-hati di jalan yah? Baik-baik dengan suamimu. Ibu sangat tenang dengan kepergian kalian setelah melihat suamimu yang baik.” Ujar Fatih berbicara pelan saat Windi hendak meninggalkan mereka. Arbi yang sudah pamit lebih dulu kini menunggu di depan mobil.

__ADS_1


Pria itu tahu jika sang istri tengah butuh waktu bicara dengan sang ibu. Hingga mata Arbi terfokus pada Windi yang tampak memeluk adik kecilnya. Senyum di bibir pria mapan itu mengembang melihat pemandangan manis.


“Dia penyayang. Pasti akan sangat menyenangkan melihatnya merawat anak-anak kami kelak.” tutur Arbi membayangkan mereka akan memiliki anak.


“Tuan? Tuan?”


“Ah iya? Sudahkah? Ayo pulang.” Arbi terkejut saat yang ia tatap rupanya sudah berada di depannya.


Mereka berdua memasuki mobil dan kembali ke rumah. Banyak waktu yang Windi habiskan hari ini di luar rumah. Rasanya beban di tubuhnya pun terasa ringan. Melihat rumah sang ibu yang jauh lebih lengkap peralatan dan bahan makannya di banding saat ia ada.


Wajah tampan yang ia tatap dari samping kini membuat hati Windi berdesir. “Tuan, terimakasih banyak.” ujarnya yang tiba-tiba di dalam keheningan.


Arbi menoleh kemudian hanya mengangguk saja.


Hingga kendaraan roda empat itu pun memasuki gerbang rumah sore hari. Dari manik mata Windi, ia meyakini jika di rumah itu Jenson belum pulang. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah.


Setibanya di dalam kamar, betapa Windi sangat terkejut saat melihat prianya kini membuka baju. Matanya membulat tatkala kembali gerakan tangan Arbi melucuti celananya. Satu tegukan salivah ia lakukan dengan kasar.


“A-apa? Ma-mandi bersama?” tanyanya terbata namun Arbi tampak biasa menganggukkan kepala.


Ingin rasanya menolak namun keberanian Windi tak ada jika dengan pria di depannya ini. Dan jangan tanyakan bagaimana ekspresi wajah pria di hadapannya. Sangat datar tidak ada kelembutan sama sekali.


“Tuan…” ragu akhirnya Windi menghentikan ucapannya.


“Segera, aku tunggu di bathup.” Arbi melangkah dengan bathrobe di tubuhnya.


Takut melihat kemarahan sang suami, sampai air mata Windi menetes. Tubuhnya menegang ketakutan. Pelan namun pasti tangannya membuka pakaian demi pakaian hingga semua tak bersisa. Langkah kakinya pun tiba di depan kamar mandi.


Tangannya gemetar saat hendak membuka pintu.


Dan saat tiba di dalam Windi melihat jelas tubuh suaminya yang berbalur dengan busa. Satu jemari Arbi bergerak memberi kode untuk mendekat padanya.

__ADS_1


Sejenak Windi menarik napas dalam lalu menghembuskannya.


“Ayo Win, inilah hidupmu. Jangan sampai membuatnya marah. Lakukan dengan benar.” gumamnya kali ini yang tak ada ingatannya lagi pada Jenson.


Yah, pertama kali rasanya Windi tak mengingat sosok pria itu saat bersama sang suami.


Kehadiran Windi pun di sambut dengan tangan Arbi yang menariknya ke dalam bath up. Memeluknya dari belakang saat duduk bersama. Sejenak Windi merasa terbuai. Sentuhan yang suaminya berikan sedikit berbeda saat ini. Sangat lembut.


Dinginnya air tak membuat tubuh keduanya menggigil. Sebab saat ini mereka tengah saling menghangatkan. Sentuhan sentuhan kecil yang Arbi lakukan pelan mulai menjadi sentuhan besar dan menggairahkan.


Permainan pun berlangung tanpa ada penolakan lagi dari Windi dengan bahasa tubuh. Dan Arbi sangat menyukainya.


Keduanya menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam. Hingga saat mereka keluar kamar mandi tubuh mereka bukan hanya segar dengan air melainkan segar dengan olahraga sore itu.


“Terimakasih, istriku.” ucap Arbi mencium pundak Windi saat ingin memakai pakaian.


Hening tak ada jawaban yang Windi berikan. Keduanya kini berbaring di kamar merasakan lelah yang baru terasa di tubuh keduanya usai berpakaian.


Sejenak Windi berpikir saat duduk bersandar.


“Perasaan apa ini? Tuan sangat lembut padaku. Perhatian dengan keluargaku. Apa itu yang membuatku tenang? Atau aku telah jatuh cinta?” Menyadari perasaan yang tak biasa Windi bertanya pada dirinya sendiri.


Bahkan hari ini ia merasa nyaman menghabiskan waktu bersama sang suami. Tak gelisah seperti biasanya yang ingin segera berjauhan.


Sementara di luar rumah, sosok pria tampan yang masih muda baru saja memarkirkan motor di depan pintu utama rumah sang ayah.


“Bi, apa Ayah tidak kerja?” tanya Jenson melihat mobil sang ayah terparkir rapi padahal biasa pria itu pulang selalu paling akhir.


“Tidak, Tuan. Tuan besar pergi bersama Nyonya tadi.” jelas pelayan yang seketika membuat bibir Jenson mencebik remeh.


“Cih baru beberapa hari sudah membuat pengaruh buruk. Bisa-bisa bangkrut suaminya di buat.” rutuknya sembari melangkah memasuki kamar.

__ADS_1


Sang pelayan yang mendengar hanya berusaha acuh.


__ADS_2