
Tatapan yang seharusnya tertuju ke depan kini terus menunduk, dan saat itu juga Arbi sadar. Pelan ia mengeratkan genggaman tangan itu pada sang istri.
“Ayo, angkat wajahmu.” patuh tanpa bantahan, Windi menuruti. Ia tak mampu berkata apa pun lagi.
Keduanya memasuki ballroom dengan beberapa mata menatap acuh pada pasangan beda usia itu. Wajah mungil Windi jelas terlihat seperti gadis belia.
Hingga pertengahan acara tampak Arbi menikmati jamuan makan malam. Suara yang tak asing kembali terdengar.
“Tuan Arbi,” sapaan hangat menggema di indera pendengaran Arbi kala itu. Windi dan sang suami menoleh seketika menghentikan suapan makan mereka.
“Tuan Khali?” Arbi segera berdiri dari duduknya. Ia bergegas menyambut dengan pelukan hangat serta tepukan pelan di bahu pria itu.
Tak ada yang menyadari dua wanita saling menatap tanpa kata. Windi terlihat meneguk kasar salivahnya. Sementara wanita itu seketika mengulurkan tangan dengan bibir yang nyaris menyunggingkan senyum kecil.
“Hai,” sapanya dengan ramah namun tentu saja tak serama wajahnya.
“Hai juga, senang bertemu anda.” jawaban Windi tak mendapat balasan balik saat ini.
__ADS_1
“Tuan Arbi, kenalkan putri saya Gracia.” ujar Tuan Khali.
Sepasang mata Arbi beralih menatap wanita manis di samping sang teman. Ia pun mengulurkan tangan dan wajah yang hangat tanpa senyum.
“Apa kabar, Gracia? Kamu sudah besar sekarang.” ujar Arbi dengan sapaan hangat.
Gracia tampak mengembangkan senyum lalu seketika memeluk pria itu. “Hai Paman, iya aku sudah besar. Lama tidak bertemu.” jawabnya.
“Oh iya kenalkan ini Windi, istri saya.” Dengan bangga Arbi mengatakan siapa wanita yang bersamanya saat ini. Dan hal itu sontak membuat Gracia dan sang ayah sangat terkejut. Mereka pikir Windi hanyalah teman yang di bawa oleh Arbi atau ikatan kekeluargaan.
Rupanya tidak, Windi adalah istri yang memiliki usia cukup jauh dari Arbi.
“Em Tuan Khali, mari kita bicara di sana. Sepertinya lama kita tidak bertemu apalagi dengan mereka.” tunjuknya pada beberapa pria yang usianya lebih di atas Arbi dan juga paras pria itu tentunya.
Tak menolak, Arbi pun berjalan bersama dengan sang teman. Meninggalkan Windi yang duduk di kursi meja makan bersama wanita bernama Gracia.
“Ehm kirain kupu-kupu malam. Rupanya label istri? Keren yah? Nggak bau tanah yah, Win? Tapi yah nggak papalah setidaknya ini bisa ngebuka kedok lu sama teman kuliah kita.” Tanpa basa basi Gracia berucap.
__ADS_1
Merasa berkali-kali di jatuhkan oleh orang yang tanpa tahu apa-apa, Windi merasa kebal saat ini.
“Ayo makan, aku masih lapar.” ujar Windi yang menikmati makannya tanpa merespon ucapan sang lawan bicara.
Gracia mendengus kesal. Ia menggeratkan ragangnya keras. “Makan? Seenak apa pun makanan rasanya bikin eneg liat muka lu.” ujarnya ketus.
“Terus? Mau tetep berdiri di situ sambil lihatin aku makan? Yah nggak apa-apa sih.”
Kesal Gracia pun menarik kursi di depannya dan duduk. Melihat dirinya pun tak kenal siapa-siapa di sini belum lagi banyaknya orang yang usianya di atas mereka. Rasanya canggung jika harus berjalan seorang diri.
Akhirnya Gracia duduk menatap benci pada Windi. Sementara wanita yang ia tatap saat ini tampak tenang sekali.
Berbeda dengan keadaan di kediaman Arbi. Suara ketukan high heels menyentuh lantai marmer kediaman Arbi membuat semua pelayan yang gugup mendengar kemarahan Jenson, mereka menunduk hormat.
“Selamat datang, Nyonya.” Sapa mereka serempak.
Tentu saja mendengar hal itu Jenson menoleh. Ia menatap siapa yang berdiri di depannya kali ini.
__ADS_1
Wajah marah dan sedih seketika cerah. Ia berjalan mendekat dan memeluk wanita tua di depannya yang sudah merentangkan kedua tangan siap menyambut pelukannya.