
Malam harinya, keduanya tampak baru keluar kamar bersama. Wajah Windi masih tak ada perubahan, hanya menunduk sembari terus melangkah mengikuti sang suami ke arah ruang televisi.
“Tuan, biar saya siapkan untuk makan malamnya.” Windi ingin bergegas untuk menghindari sang suami.
Kecanggungan begitu terasa kala ia dan Arbi duduk hanya berdua. Meski di depan suara televisi terus menyala, nyatanya terasa hening sekali.
“Apa gunanya pembantu?” Gerakan tubuh Windi pun terhenti saat mendengar pertanyaan sang suami.
“Duduk di sini dan tidak perlu lagi ke dapur. Ingat posisimu adalah istriku.” Kikuk Windi hanya diam. Menatap sang suami pun ia tidak ada keberanian.
Hingga suara pintu kamar lain terdengar tertutup kembali. Rupanya Jenson yang mendengar percakapan singkat mereka ketika hendak makan urung melangkahkan kakinya. Tak sudi rasanya melihat kedekatan sang mantan pada ayahnya.
“Sialan. Aku harus apa sekarang? Mereka tidak boleh bersama terus. Windi harus pergi dari rumah ini.” gumamnya menatap kesal langit kamar yang tak memiliki salah itu.
Hingga pikirannya jatuh pada sosok wanita tua yang bisa ia jadikan alat. Senyuman licik terbit di wajah Jenson saat itu juga.
“Halo…” suara serak khas wanita tua di seberang sana terdengar menyapa.
“Mami,” Jenson memanggil dengan senyuman di wajahnya.
“Jen, cucuku? Bagaimana keadaanmu? Mami rindu sekali.” Wanita tua itu bahkan sampai menitihkan air matanya mendengar suara sang cucu kala menyadari siapa yang menelponnya.
“Hem…semuanya tidak baik, Mi. Perempuan itu merusak semuanya. Kehidupanku bahkan keadaan rumah ini juga.” Tanpa mengatakan basa basi, Jenson seketika menceritakan keluhannya.
Di seberang sana sang mami tampak mengernyit. Cucu kesayangannya tengah membicarakan seorang perempuan.
“Siapa? Siapa yang sudah membuat hati cucu Mami berantakan? Berani sekali wanita itu.” ujarnya penuh rasa geram.
Jenson pun segera menceritakan semua apa yang terjadi tentu menurut pengetahuannya. Menceritakan bagaimana liciknya Windi merusak hatinya dan masuk ke dalam rumah mereka. Sungguh, mendidih darah sang mami mendengar keluhan sang cucu. Tangannya bergetar menahan amarah.
“Mami akan segera kesana secepatnya. Ini tidak bisa di biarkan. Kamu tenang saja, Mami akan menyelesaikan ini semua. Beraninya dia masuk ke rumah itu?” Mendengar bagaimana kemarahan sang mami, Jenson tampak tersenyum puas.
__ADS_1
Perbincangan mereka pun akhirnya usai saat itu setelah panjang lebar berbicara. Dan kini Jenson menghela napasnya merasa lega. Satu jalan sudah ia tempuh. Tinggal jalan kedua lagi.
“Aku harus memanggil mereka sekarang juga.” ujarnya memikirkan sosok yang akan ia jadikan alat malam ini.
Ponsel yang baru saja ia gunakan menghubungi sang mami akhirnya ia gunakan untuk menelpon orang.
Tak berselang lama telepon pun terdengar di angkat.
“Wah Jen, ada apa nih tumben nelpon? Di telpon orang penting beda banget dering ponsel gue?” Di seberang sana Bisma yang merupakan teman kuliah Jenson dan Windi berbicara.
Jenson yang mendengar bukannya bersuara. Ia tampak menghela napas kasar.
“Apaan sih? Nih gue panggil kalian ke rumah sekarang juga. Bantuin gue buat bikin Windi malu.” ujarnya yang seketika membuat sang teman di seberang sana mengerutkan keningnya.
Setahu mereka Windi adalah kekasih Jenson, bagaimana bisa pria ini ingin membuat kekasihnya malu. Dan mereka sangat tahu Jenson adalah pria baik tak mungkin melakukan hal yang buruk terlebih pada seorang wanita.
“Jen, lu nggak lagi ulangtahun kan bro? Kok buat cewek sendiri malu? Atau Windi yang ultah?” tanya Bisma berusaha positif thingking.
Betapa kaget Bisma dan temannya yang bersama saat mendengar penjelasan Jenson. Rasanya sulit percaya jika Windi adalah wanita yang seperti itu.
“Ah lu bercanda kan, Jen? Si Fendi sampai ngakak denger lu cerita. Gimana mungkin Windi yang kita kenal tulus banget menjelma jadi wanita seperti yang lu ceritain. Yang bener aja?” Mendengar bagaimana para teman yang tidak percaya dengan ucapannya Jenson hanya bisa memutar kedua bola matanya malas.
“Sudahlah, jangan banyak ngomong. Kalian nggak percaya kesini sekarang. Kita buktiin siapa yang benar dan salah.” Sambungan telepon pun terputus.
Merasa tak percaya, namun Fendi dan Bisma penuh rasa penasaran. Akhirnya mereka berdua bergegas untuk segera menuju ke rumah teman.
Selama di perjalanan Fendi dan Bisma terus berdebat mempertahankan sosok Windi yang menurut penilaian mereka adalah wanita baik-baik.
“Gila aja si Jenson. Kok segitunya sih nuduh Windi? Jangan-jangan karena salah paham terus nggak terima akhirnya fitnah si Windi?” ujar Bisma menduga.
“Tapi Windi sama Jenson itu pasangan yang nggak neko-meko. Masa iya mereka jadi kekanakan gini menghadapi masalah? Pasti ada yang nggak beres nih.” sahut Fendi lagi.
__ADS_1
Sementara di kediaman Arbi, tampak Windi menikmati makan malam bersama sang suami tanpa sosok Jenson. Keduanya makan dengan tenang setelah Windi memberikan lauk lengkap dengan nasi di piring sang suami.
“Besok malam ada gala dinner, malam ini kita pergi untuk mencari dress dan perlengkapan lainnya.” Ucapan Arbi membuat Windi kesulitan menelan makanannya.
Hanya anggukan patuh tanpa bantahan yang ia berikan pada sang suami.
“Permisi, Tuan. Di depan ada tamunya Tuan Jenson.” wanita paruh baya yang merupakan pelayan datang menghampiri sang tuan rumah.
Windi menoleh refleks melihat ke arah pintu. Dua pria tampak berdiri di depan sana tak begitu jelas terlhat.
“Suruh saja masuk dan panggilkan Jenson.” titah Arbi dan sang pelayan patuh mengangguk lalu pergi.
Singkat cerita di sinilah para tiga pria duduk di ruang tamu. Arbi dan Windi yang merasa sudah selesai bersiap segera melangkah hendak keluar dari rumah itu.
“Mana? Lu bercanda kan? Ah sepanjang jalan kita sudah penasaran banget.” gerutu Bisma kala tak melihat Windi.
Jenson tampak santai. “Sebentar lagi kalian pada lihat. Tadi kata pelayan mereka sedang bersiap mau pergi. Habisin duit pria tua itu kali.”
Bisma dan Fendi hanya menggelengkan kepalanya. Hingga gelengan terakhir mereka terhenti kala melihat seorang wanita di gandeng oleh pria yang usianya jauh lebih banyak darinya.
“Astaga,” Tegukan kasar salivah Fendi dan Bisma lakukan.
Mereka bahkan sampai mengucek kedua mata mereka berharap apa yang mereka lihat tidaklah benar.
Sosok Windi yang berbeda di depan mereka saat ini tampak jauh lebih cantik dan modis.
“Bersenang-senanglah.” Ujar Arbi yang melihat dua teman sang anak menatap ke arah mereka.
“Tterimakasih, Om.” jawabnya gugup.
“Ayo, Sayang.” ajaknya membuat Windi melangkah kembali setelah terhenti.
__ADS_1