Step Mother

Step Mother
Keterkejutan Arbi


__ADS_3

Duduk berdua di sofa malam itu dengan banyak kisah menyedihkan Jenson menceritakan apa yang terjadi, tentu saja hal itu membuat sang nenek syok. Yah, kini di hadapan Jenson ada seorang wanita tua yang biasa di panggil Mami Kely. Wanita yang teramat sayang pada sang cucu.


"Mami, kalau wanita itu masih di rumah ini biarkan saja aku tinggal di luar dan bekerja dengan tenang. Biarkan saja semuanya terjadi seperti ini." Memelaskan wajah, Jenson sukses membuat sang nenek iba. Dengan cepat Mami Kely menggelengkan kepala tak setuju.


"Tidak. Mami tidak akan setuju itu Jenson. Apa yang kau katakan? Tidak ada yang keluar dari rumah ini selain wanita itu. Kau tenang saja Mami yang akan turun tangan menghadapi wanita itu selama di rumah ini." ucapnya dengan mantap.


Jenson sendiri yang tahu bagaimana tunduknya sang ayah pada neneknya kiniĀ  merasa puas. Ia yakin meski pun Windi menunjukkan sikap baiknya di depan sang nenek. Wanita tua ini tetap tidak akan percaya lagi.


"Tatapan tajam terlihat di kedua bola mata Mami Kely saat ini. Pikirannya sudah terbang kemana-mana. Hingga tak berapa lama kemudian pelayan datang membawakan makan yang Mami Kely sebutkan barusan. Seperti biasa ia akan datang dengan permintaan yang membuat pelayan senang.


Masing-masing tangan katanya ada rasa yang membuatnya rindu masakan pelayan di rumah ini.


"Ini Nyonya makannya." ucap sang pelayan sopan.

__ADS_1


"Apa mau di bawa di meja makan saja, Nyonya?" tanyanya yang langsung di tolak oleh Mami Kely. Sigap tangan wanita tua itu meraih piring dan meminta pelayan segera berlalu biar ia memakan dengan lahap.


Benar saja perut yang lapar membuatnya tak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan di piring. Sementara Jenson beberapa kali mengecek ke arah pintu dengan kedua mata yang menghunus tajam itu. Berharap sepasang suami istri yang menyakiti hatinya akan segera tiba.


***


"Wah kalian sangat serasi untuk berteman yah?" celetuk Tuan Khali yang kala itu bergabung kembali dengan dua wanita yang ia dan Arbi tinggal barusan.


Seketika wajah kesal Gracia berubah dengan senyuman di wajahnya. "Tentu saja kamu serasi kan seumuran." jelas Gracia semakin membuat wajah Windi tertunduk.


"Tapi jangan salah, Tuan Khali. Istri saya sifatnya sangat dewasa sekali. Itu sebabnya saja jatuh hati padanya dan tergila-gila. Di luar sana banyak usianya sama dengan istri saya tetapi sikapnya masih sulit untuk di kontrol." Bukan Windi yang menunjukkan respon, melainkan Gracia yang mengepalkan tangan.


Namun, ingin berdebat mulut dengan Arbi rasanya tidak mungkin. Sebab ia tak ingin sang ayah marah jika sampai membuat malu di acara penting ini. Akhirnya Arbi memutuskan untuk segera pulang sebab acara sudah selesai.

__ADS_1


Di perjalanan tampak Arbi melirik beberapa kali sang istri di sampingnya. Windi yang tak sadar sudah terlelap membuatnya tersenyum kecil.


"Bisa rupanya tidur tanpa mengeluarkan uneg-unegnya. Aku tahu kau pasti kesal dan marah pada wanita tadi, Win. Tapi sikapmu yang lama kelamaan bisa aku baca tak bisa membuatmu berbohong padaku lagi." gumam Arbi seraya mengusap pelan anak rambut yang menutup kedua mata sang istri.


Selang lima belas menit kemudian mobil pun kini telah tiba di pelataran rumah megah yang sudah menanti kepulangan sang tuan dan nyonya. Tak ingin mengganggu sang istri yang menikmati alam mimpi, Arbi bernisiatif menggendong tubuh Windi. Membawanya keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah.


"Oh akhirnya..." suara yang jelas Arbi tahu suara siapa itu lantas membuat wajahnya menengadah menatap sosok anak dan ibu di depannya tengah duduk di sofa.


Tatapan tajam sudah di berikan oleh Mami Kely. Arbi tampak memohon untuk tidak bersuara. Jemarinya ia letakkan di tengah bibir namun sayang Mami Kely tampak tak bisa di ajak kompromi.


"Arbi, turunkan dia!" pekik Mami Kely seketika membuat Windi terlonjak kaget lantaran suara menggema di rumah itu masuk ke alam mimpinya.


"Hah?" wajahnya canggung dan meloncat dari gendongan sang suami. Windi menoleh ke arah sumber suara dengan mata sayup-sayup kemudian membulat.

__ADS_1


"Mami, kenapa teriak-teriak seperti itu?" Arbi pun di buat geram oleh sikap sang mami yang tidak biasa bernada tinggi padanya atau pada siapa pun.


__ADS_2