Step Mother

Step Mother
Kepergian Arbi dan Windi


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang di katakan, Arbi tak merubah keputusannya sekali pun Windi sudah memohon padanya dengan sangat. Kini pagi yang cerah semua barang sudah di kemas rapi oleh pelayan. Windi hanya berdiri menatap barang-barang yang siap ikut mereka pindah yang Windi sendiri pun tidak tahu akan kemana.


“Win, ayo sarapan cepat. Segera kita pergi dari sini.” Tangan Arbi tergenggam cepat oleh Windi.


Hati wanita itu merasa ada yang mengganjal saat ini. Berusaha berani, ia mendekat.


“Tuan, ada yang ingin saya bicarakan.” Ragu namun yakin Windi harus tetap mengatakan pada sang suami.


Pelan ia menundukkan kepala demi mengumpulkan keberaniannya.


“Katakanlah.” titah Arbi menatap dalam sang istri.


“Sebenarnya…sebenarnya Jenson itu adalah em dia mantan saya.”


Memejamkan mata usai mengatakan hal itu, Windi merasakan detak jantungnya yang semakin berdebar kencang.

__ADS_1


Ia pun menggigit bibir bawahnya.


“Win,” pelan Arbi mendekat dan memegang kedua bahunya. Lembut suara itu terdengar membuat Windi heran. Seharusnya Arbi akan bersikap sesuai dengan bayangannya. Pria itu akan syok dan marah.


Namun, beda kenyataan. Arbi justru memegang dagu Windi memberi perintah untuk menatap wajahnya.


“Terimakasih sudah jujur.” tuturnya tersenyum hangat. Windi tampak mengernyitkan kening.


“Anda tidak marah, Tuan? Apa anda tidak cemburu?”


“Apa anda tidak mengatakan saya wanita jahat dan mengincar harta anda, Tuan?” Lagi Windi bersuara. Sebab ia tak menyangka jika respon suaminya akan seperti ini.


“Kamu mencintaiku, aku tahu itu. Dan semuanya berjalan baik-baik saja. Mengapa aku harus menuduh hal yang tidak kamu lakukan? Kita akan mulai hidup kita bersama sampai Jenson bisa benar-benar mengikhlaskan mu. Di sini ada Mami yang bersama Jenson.” Windi tampak baru bisa menghela napas yang ia tahan.


“Apa-apaan ini, Arbi?” Menggema suara lantang Mami Kely yang berjalan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Matanya menatap nyalang pada sosok wanita yang berdiri di samping sang anak. Lantas Windi cepat menundukkan pandangan tak ingin bersitatap dengan Mami Kely.


“Cih, mau menguasai pria tua dengan cara apa lagi, Win?” Jenson yang kesal melihat barang-barang yang siap di angkat lantas bersuara.


“Tutup mulut kamu, Jeson!” sentak Arbi kesal.


“Dan untuk Mami, apa Mami sudah selesai dengan drama dokter-dokterannya? Bagaimana? Apa ada alat yang bisa ku belikan di toko mainan untuk melanjutkan permainan Mami?” Mendengar pertanyaan sang anak, Mami Kely membulatkan mata kaget.


“Arbi, Mami sakit. Kenapa kamu bicara seolah menuduh Mami berbohong?”


Arbi terkekeh. “Mami jangan berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya tentang kejadian yang Mami sengaja itu. Mami berharap aku akan menceraikan Windi karena telah menganiaya Mami? Apa Mami lupa jika Mami adalah wanita kuat tak ada bandingannya dengan Windi yang sama sekali tidak ahli bela diri?”


Susah payah Mami Kely meneguk kasar salivah yang terasa seperti bongkahan batu.


Terdiam, Arbi pun menarik tangan sang istri di ikuti beberapa pelayan yang membantu membawa barang mereka.

__ADS_1


“Tetaplah di sini bersama Jenson, sebab aku tidak akan kemari selama kalian tidak bisa menerima wanita yang tulus padaku.” Amarah terlihat jelas semakin mendidih di wajah Jenson yang putih.


__ADS_2