Step Mother

Step Mother
Mengetahui Sebenarnya


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan, kini semua panik menunggu hasil rontgen dari rumah sakit, keluhan yang Mami Kely katakan sungguh membuat Windi sangat ketakutan. Membayangkan akan semurka apa sang suami mengetahui ia telah mendorong mertuanya sendiri.


“Bi, bagaimana ini?” Windi bertanya pada pelayan yang bersamanya saat ini.


Namun, yang di tanya justru menggelengkan kepala sembari menunduk. “Nyonya, maafkan saya, saya juga tidak tahu harus bagaimana. Nyonya besar pasti akan mengatakan yang tidak-tidak pada Tuan, meskipun anda tidak melakukan hal yang di tuduhkan nyonya besar. Dan semoga saja Tuan tidak marah besar pada anda dan kami semua.”


Mendengar perkataan pelayan, Windi justru merasa semakin takut dan gugup. Hingga kegugupannya itu bertambah kala melihat seorang pria baru saja tiba di sana. Bukan Arbi, melainkan Jenson,


“Heh kau apakan Mami? Jawab!” Manik mata yang sedari dulu selalu menatap teduh kini tak lagi Windi lihat. Jenson sangat beda saat ini. Dan Windi tahu ini semua karena dirinya.


Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan selain menunduk meneteskan air mata, kasar Jenson pun mendorong tubuh Windi ke dasar tembok itu hingga tubuh wanita yang pernah ia cintai terhempas kasar.

__ADS_1


Dari arah lain, Arbi melihat jelas perlakuan sang anak pada istrinya, “Kurang ajar!” umpatnya.


“Jenson, apa yang kau lakukan?” teriaknya menggema. Semua mata tertuju pada Jenson yang tersenyum sinis menatap sang ayah. Tak ada ketakutan atau segan sedikit pun pada sang ayah. Ia hanya berjalan menuju kursi yang tak jauh dari ruang sang mami berada.


Arbi yang ingin memberi pelajaran terhenti kala melihat Windi meringis sakit memegang lengannya.


“Win, apa yang terjadi?” tanya Arbi perhatian.


Windi yang mendapat perhatian sang suami sungguh bingung. “Tuan, kau tidak marah denganku?”


Windi menatap pria yang menatapnya begitu tajam dari arah tak jauh.

__ADS_1


“Aku tidak sengaja mendorong Nyonya, aku minta maaf. Benar aku tidak ada niat mendorongnya, Tuan.” Windi bingung harus mengatakan apa saat ini, tidak mungkin jika ia berterus terang mengenai apa yang terjadi.


Mendengar itu, bukannya marah atau bertanya lagi, justru Arbi memeluk tubuh istrinya.


“Jangan meminta maaf atas kesalahan yang bukan kau lakukan. Itu teguran untuk Mami, aku seharusnya meminta maaf padamu.” Mendengar penuturan sang suami, Windi sungguh kaget. Pelan ia mendorong pelukan Arbi dan menatapnya lekat seolah meminta penjelasan.


“Aku baru mengecek semua keadaan rumah, maaf aku tidak tahu jika Mami memperlakukanmu tidak baik selama aku di luar. Sekarang jangan merasa bersalah lagi. Justru aku bangga mendapatkan istri yang tidak menjelekkan mertuanya sendiri meski itu sebuah kebenaran. Sekarang ayo pulang.”


Lagi Windi di buat kaget mendengar kata pulang.


“Pulang? Lalu…” ucapan Windi menggantung kala Arbi menarik erat tangannya meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


Ia membiarkan Jenson dan lainnya menunggu sang Mami di rumah sakit. Sementara dalam pikirannya, ia hanya ingin membawa Windi kembali ke rumah dan istirahat. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahan sang istri.


Kepergian keduanya semakin membuat Jenson sangat kesal. Ia mengepalkan tangan saat melihat mantan kekasihnya berlalu pergi dari hadapannya bersama sang ayah.


__ADS_2