Step Mother

Step Mother
Kesedihan Karena Penolakan


__ADS_3

Pelan langkah Mami Kely mendekati keberadaan Windi dan Arbi. Hingga langkah terakhir wanita tua itu dapat Arbi lihat dengan jelas sangat dekat dengan tubuh sang istri. Windi yang semula merasakan kantuk luar biasa hilang seketika. Tubuhnya menegang rasanya mendapat tatapan menyelidik dari wanita tua di depannya. Tatapan sinis dari Mami Kely sungguh memuakaan di mata Arbi.


"Mami, cukup." ujar Arbi menghentikan sayangnya sikap Mami Kely tampak lebih tegas darinya. Ia menaikkan satu jari telunjuk di depan wajah sang anak seolah memberikan perintah agar tidak bersuara.


Kesal Arbi pun memijat kepalanya, tak sengaja indera penglihatan miliknya menatap ke arah Jenson yang tak menunjukkan respon apa pun selain wajah datar dan kedua tangan yang ia lipat di depan dada.


"Ini pasti gara-gara anak nakal itu." geram Arbi menduga dengan benar. Jika sang anaklah yang menjadi pemanggil mami Kely ke Indonesia.


Kembali melihat bagaimana kasihannya eskpresi takut sang istri, Arbi tak tega. Segera ia menggenggam tangan sang istri.


"Arbi, mami tidak habis pikir bagaimana mungkin selera kamu daun yang belum muda seperti ini? Dia ini bahkan masih pucuk daun." ujar Mami Kely menatap tajam sang anak.

__ADS_1


"Menikah tanpa bicara apa pun pada Mami, kamu benar-benar durhaka, Arbi. Apa karena wanita ini membuat kamu lupa siapa orangtua kamu? Hah?"


"Mami, tolong jaga ucapannya. Windi tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua." jawab Arbi tak ingin sang istri di salahkan. Kemudian ia menoleh ke samping dimana wanita cantik itu tengah menunduk saat ini.


"Sayang, pergilah ke kamar. Biarkan aku yang bicara dengan Mami sekarang." Mendengar perintah dari sang suami, rasanya Windi ingin bernapas lega. Namun, ia sadar posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk mengikuti ucapan sang suami.


Yang ada masalah akan semakin besar jika ia pergi dengan dalih perintah dari sang suami. "Mas, biarkan aku pergi ke kamar setelah Mami, maksudnya Nyonya selesai bicara." Ucapan yang ia lontarkan di buat selembut mungkin agar tidak mengurangi rasa hormatnya pada sang mertua.


"Mami!" Arbi lepas kendali kala mendengar kata dari bibir sang mami yang sangat tidak layak ia ucapkan pada sang istri. Seketika itu juga Windi pun melangkah tanpa kata ke arah kamar.


Melewati Jenson yang tampak menyunggingkan senyum kecil lantaran puas mendengar ucapan ketus dan perlakuan sang mami. Windi  acuh, ia tak perduli lagi akan keberadaan sang mantan. Kali ini ada rumah tangga yang jauh lebih besar artinya di banding mantan kekasih.

__ADS_1


"Mau kemana kamu, Arbi?" teriak Mami Kely melihat sang anak hendak berlalu juga meninggalkan dirinya berdiri di sana.


"Mami sudah keterlaluan. Anak Mami inilah yang salah dan wajar mendapat hinaan. Bukan wanita yang tidak tahu apa-apa yang justru Mami rendahkan. Anak Mami inilah yang sangat rendah mengemis cinta dengan wanita pucuk daun sepertinya." Setelah usai mengatakan hal itu, Arbi melangkah pergi meninggalkan sang mami yang tercengang.


Gelengan kepala pusing terlihat di tubuh wanita tua itu. Ia merasa kepalanya berdenyut padahal baru saja sebentar berada di rumah ini.


"Arbi benar-benar berubah. Wanita itu harus segera di singkirkan." ujarnya menatap marah pada pintu kamar yang tertutup dimana di sana berisi sepasang suami istri yang tengah tidak baik-baik saja.


Windi tampak meneteskan air mata namun tak mengeluarkan suara tangis. Sementara Arbi sudah berjongkok di depan sang istri yang tengah duduk di sisi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Windin yang terasa dingin namun berkeringat itu.


"Win, maafkan Mami. Dia tidak akan bisa melakukan apa pun dengan pernikahan kita. Okey?" Lama Arbi menunggu respon sang istri hingga akhirnya Windi pun bersuara juga.

__ADS_1


"Mami kamu benar, aku ini wanita yang tidak baik. Tidak pantas menjadi seorang istri di usia ku yang masih seperti pucuk daun. Aku belum layak menjadi istri dan ibu yang baik." jawab Windi lirih.


__ADS_2