
Wajah gugup dan malu membuat Windi tak kuasa untuk bersuara. Ia hanya memejamkan matanya sejenak untuk menahan malu dari bayangannya. Kepergiannya kali ini pasti akan menyisahkan cemoohan dari para teman kuliahnya. Sungguh memalukan jika membayangkan bagaimana Jenson akan mengatakan yang buruk tentangnya.
“Kuat Win, kamu harus kuat. Jangan perdulikan lagi kata mereka mau pun Jenson. Mereka tidak tahu apa-apa tentangmu. Ayo tenang dan hadapi semuanya dengan baik. Sekarang kehidupanmu adalah Tuan Arbi. Dia suamimu.” gumaman hati Windi membuat Arbi menoleh melihat sang istri yang tak kunjung melangkah.
“Win, ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya Arbi memperhatikan sang istri yang baru terlihat membuka matanya.
Windi kaget, ia kaku untuk mengembangkan senyumannya. “Em ti-tidak, Tuan. Saya baik-baik saja.” jawabnya menoleh sekilas pada tiga pria yang duduk menatapnya.
Jelas terlihat bagaimana Jenson menatap sinis dan jijik padanya. Masa bodoh mungkin sulit namun itulah satu-satunya jalan untuk Windi bisa meneruskan kehidupannya kedepan dengan baik.
Helaan napas mengiringi langkahnya yang di gandeng sang suami. “Ayo.”
__ADS_1
Mereka berdua duduk di dalam mobil meninggalkan Fendi dan Bisma yang bersenggolan siku. Keduanya menatap manik mata Jenson yang terus memandang ke arah pintu utama. Bahkan tatapan benci sama sekali tak terlihat. Hanya kekecewaan yang mereka bisa artikan saat ini.
Pelan keduanya memberi kode untuk bersuara. “Hem.”
“Ehem, Jen.” sapa Fendi.
“Sudah bro. Kita nggak tahu apa alasan Windi memilih ayah mu. Tapi yah meskipun kita juga syok, semua orang punya jalan takdir masing-masing. Yah mungkin Tuhan nyiapin jodoh yang lebih tepat untukmu. Dan itu bukan dia. Percaya deh, meski rasanya sangat berat sih serumah lagi.”
Jenson berdecih kala mendengar penuturan sang teman. Ia sampai menunduk terkekeh.
“Wanita itu harus pergi dari sini. Gue nggak sudi serumah dengan wanita bermuka dua sepertinya.” Tatapan penuh dendam Jenson perlihatkan.
__ADS_1
Haikal dan Fendi sontak saling menatap. Mereka juga merasa kemarahan Jenson tak akan mampu tersaingi oleh nasihat mereka.
“Iya benar, kata Fendi. Lu nggak terima ini semua. Tapi menurut gue, Jen. Apa nggak sebaiknya lu tanya ke ayah lu dulu. Siapa yang memulai dan bagaimana bisa mereka menikah? Kita nggak tahu nih Windi yang memang bermuka dua atau justru maaf yah, ayah lu sendiri yang meminta paksa.”
Merasa tak ada yang mendukung firasat buruknya, Jenson merebahkan tubuhnya di sofa untuk bersandar. Kepalanya ia pijat begitu erat lantaran sangat pusing.
Sementara di pusat perbelanjaan, kini Windi dan sang suami akhirnya tiba. Keduanya berjalan dengan Windi yang melangkah di belakang pria tampan itu tak lupa ia menundukkan kepalanya.
Arbi yang merasa lama menunggu langkah sang istri, segera menoleh.
“Hei? Apa yang kau tunggu? Ayo cepat!” ujar Arbi melambaikan tangan untuk meminta Windi di sisinya. Cepat Windi menengadah melihat wajah sang suami. Langkahnya ia tambah kecepatan hingga berjalan bersama.
__ADS_1
“Tanganmu.” ujar Arbi menggenggam tangan yang terasa kaku seketika.
Bukannya melihat jalan di depan, Windi justru menatap tangan mereka yang saling bertautan.