
Samar suara orang muntah dan cairan hangat yang di rasakan oleh Arbi membuat pria itu tersadar dari tidur lelapnya. Ia mengerjap beberapa kali demi menyadarkan diri dari rasa kantuk hingga seketika kedua matanya membulat sempurna. Arbi terkejut melihat sang istri yang sudah berlari ke arah kamar mandi usia pria itu mengangkat tangannya.
"Sayang, kamu muntahin aku?" tanyanya dengan wajah tak tahu lagi harus berbuat apa.
Arbi menatap kepergian sang istri bergantian dengan tangannya yang sudah kotor. Sumpah demi apa pun ingin marah namun sadar itu adalah ulah anaknya. Hanya helaan napas yang mampu ia lakukan saat ini. Arbi bergegas menyusul sang istri dan membantu Windi.
"Ayo muntahkan lagi, biar aku bantu memijat lehermu." pintahnya pada istrinya itu.
Beberapa menit keduanya berada di kamar mandi, barulah Arbi membersihkan tangan. Segera pria itu memapah istrinya yang lemas menuju sofa bed di kamar mereka. Lalu ia meminta pelayan untuk menggantikan seprai kasur mereka. Tak mungkin jika ia menyuruh istrinya yang bahkan berdiri saja sudah tidak kuat.
"Sudah selesai, Tuan." Pelayan menatap kedua majikannya dengan kepala menunduk sedikit.
"Baiklah. Terimakasih Bi. Bibi boleh buatkan bubur untuk Windi? Perutnya pasti sangat kosong setelah muntah." Permintaan Arbi langsung di sambut dengan anggukan patuh dari pelayan itu.
Keduanya bergegas untuk segera kembali ke tempat tidur. Belum saja sempat Arbi membaringkan sang istri, Windi sudah nampak menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin tidur lagi." jawabnya lemas.
"Lalu? Apa kau ingin sesuatu?" tanya Arbi dan Windi hanya menggelengkan kepala.
Ia sebenarnya tidak tahu ingin melakukan apa yang jelas rasa bosannya pada rumah begitu terasa. Windi hanya ingin suasana yang ramai, ia sangat tidak suka dengan keadaan yang sepi.
"Aku bosan." jawabnya manja.
Tanpa berkata apa pun lagi, Arbi begitu mengerti keinginan sang istri. Pria setengah baya itu bergegas membantu istrinya mandi bersiap dan di sinilah mereka berada. Bandara internasional dengan tujuan penerbangan ke Jepang.
"Tidak bosan lagi?" tanya pria itu dan Windi menggelengkan kepala sembari tersenyum lebar.
Keduanya begitu sangat bahagia saat ini tanpa adanya Jenson dan Mami Kely. Keduanya sudah berada di dalam pengawasan anggota Arbi. Entah sampai kapan keduanya boleh menginjak tanah air lagi. Yang jelas Arbi akan menghabiskan waktu hidupnya dengan wanita yang di cintainya.
"Nanti setelah kamu lahiran, kita akan berlibur bersama anak kita dan juga ibu dan adikmu." Betapa terkejutnya Windi mendengar ucapan sang suami.
__ADS_1
Wajahnya sontak menoleh dengan pandangan syok. "Tuan tidak bercanda kan? Dengan adik dan ibu?" tanyanya tak percaya.
Arbi menganggukkan kepala. Ia melihat jelas bagaimana pandangan mata sang istri yang berkaca-kaca padanya.
"Saat ini kita berlibur ke Jepang adalah waktu yang tepat. Di sana tengah turun salju pasti sangat indah." Arbi kembali menjelaskan.
Rasanya Windi begitu tidak sabar menantikan kedatangannya di Jepang. Tak pernah terduga jika hidupnya yang pas-pasan bisa berlibur keluar negeri.
"Setelah pulang ke Jepang aku ingin kita tidur di rumah Ibu. Aku ingin makan masakan Ibu, Tuan." ujar Windi kembali mengutarakan keinginannya. Arbi benar-benar tak habis pikir dengan tingkah anaknya yang sangat banyak maunya.
Pelan pria itu menunduk dan terkekeh memandang perut sang istri. Tangannya mengusap lembut dan berkata, "Kamu harus jadi anak yang baik. Jangan seperti kakakmu itu yang nakal." tuturnya menyebut sosok Jenson.
Saat itu raut wajah Windi berubah pias. Pria yang di katakan nakal oleh sang suami sebenarnya tidaklah seperti itu. Jenson sosok yang sangat baik semasa mereka bersama. Namun, cinta yang bertepuk sebelah tangan membuat pria itu benar-benar berubah dan hilang harapan hidupnya.
"Aku yang salah, Tuan. Bukan Jenson." ujar Windi menggenggam tangan sang suami yang masih mengusap lembut perutnya.
__ADS_1
"Bagaimana pun hancurnya hati seseorang tidak ada alasan yang membenarkan untuk seorang pria yang merusak kualitas dirinya." Telak Windi tak sanggup bicara apa pun lagi. Ia hanya diam tanpa kata dan akhirnya tibalah keberangkatan mereka berdua.