Step Mother

Step Mother
Berbelanja


__ADS_3

Wajah datar tanpa ekspresi pria tampan yang tak lain adalah Arbi. Kini tampak tersenyum sembunyi-sembunyi. Sebelah tangannya memijat pelipis yang terasa sakit kala melihat bagaimana Windi hanya bisa menggelengkan kepala melihat banyaknya pakaian yang di tawarkan oleh wanita pekerja di toko itu.


“Ini cocok, Nyonya. Body Nyonya yang bagus lebih terlihat.” ujar wanita itu menatap baju serta tubuh Windi yang berdekatan.


Gelengan kepala kembali Windi berikan. Ia kemudian beralih kembali pada dress yang mewah dan sedikit lebar di bagian bahunya.


“Jangan memberikan saya pakaian yang terlalu terbuka seperti ini. Saya tidak suka.” jawab Windi pada akhirnya lantaran lelah menggelengkan kepala terus menerus.


Satu wanita kembali datang membawa dress hitam yang sedikit longgar. Namun terlihat di bagian pinggang transparan.


“Sudah, berhentilah. Biar saya yang carikan sendiri.” Arbi bergera menelusuri banyaknya gaun mahal di toko itu.


Sementara Windi hanya berdiri seperti patung. Bukan karena gugup namun dadanya sesak setiap kali melihat harga gaun yang jutaan.


Selama ini ia hanya memakai baju di bawah harga 200 atau 300 ribu saja. Itu termasuk pakaian yang paling bagus ia miliki.


Tak lama berselang setelah memperhatikan satu demi satu gaun yang ia temui, pilihan Arbi jatuh pada gaun berwarna hijau tua yang berbentun slim bagian atas di bawah tidak ketat. Sederhana dan menurutnya cocok untuk seusia istrinya.


Melihat gaun yang di bawa Arbi, Windi pun tak menolak. Sebab ia sendiri juga suka dengan gaun pilihan sang suami.


“Apakah ini cocok dengan pilihanmu?” tanya Arbi yang mendapatkan anggukan kepala dari Windi.


Bergegas pria itu membayar lalu pergi dari toko menggandeng sang istri dan membawa paper bag tersebut.


“Tuan,” langkah Windi terhenti seketika saat melihat mereka berada tepat di tengah-tengah pintu masuk sebuah toko berlian.


Bukan tidak tahu, meski tak mampu membeli namun Windi tahu pasti toko yang akan mereka masuki harganya sangat mahal. Pelan wanita itu menggelengkan kepalanya.


“Ini untuk istriku. Ayo cepat masuk.” ajak Arbi yang kembali menarik pergelangan tangan sang istri. Secepat kilat Windi kembali menahan langkahnya.


“Win, kau istri ku. Bukan Windi yang dulu lagi. Bawalah namaku dengan baik di mata orang-orang.” Patuh akhirnya keduanya masuk.

__ADS_1


Tak berani mengangkat wajah, Windi hanya menunduk tanpa berniat melirik satu pun perhiasan di depannya. Di sampingnya, Arbi tampak berbicara dengan seorang wanita yang bekerja di toko perhiasan tersebut.


“Baik, Tuan.” jawab wanita itu hendak menunduk mengambil perhiasan yang Arbi tunjuk. Namun, fokusnya teralihkan pada sosok wanita yang membuatnya mengerutkan keningnya.


“Eh Win? Windi? Ini benar Windi? Ya ampun kita ketemu di sini.” seru wanita itu yang ternyata adalah teman kuliah Windi.


Barulah setelah mendengar suara itu, Windi mengangkat pandangannya. Tersenyum kikuk Windi pada sang teman.


“Hai, Vin.” sapa Windi gugup. Senyuman di wajahnya pun tak selebar biasanya.


Di detik berikutnya manik mata Vina beralih menatap pria di depannya kembali. Arbi yang mendengar kedua wanita ini saling mengenal segera mendaratkan tangannya di pinggan Windi dan membuat jarak mereka berdua sangat dekat.


“Dia istri saya.” Arbi dengan bangga berucap. Windi hanya senyum tanpa bisa mengelak atau pun mengangguk.


Seketika wajah Vina berubah. Ia menghilangkan senyum berganti dengan lamunan yang membuatnya tak bergerak sama sekali. Ingatannya adalah Windi sangat mencintai Jenson. Pria dan wanita yang selalu terlihat seperti romeo dan juliet.


Melihat kembali sosok Arbi, rasanya Vina sulit percaya pria di depannya adalah suami sang teman.


“Mba, tolong ini saya mau bayar. Kami harus segera melanjutkan perjalanan.” ujar Arbi membuyarkan lamunan Vina.


“Oh iya baik, Tuan.” jawabnya sembari menatap Windi yang kembali menunduk.


Meski tak mendengar satu kata pun, Windi tahu pasti Vina sedang memikirkan hal yang buruk padanya. Sungguh rasanya sangat menyakitkan. Pelan, kedua mata Windi pejamkan dan menarik napas dalam.


Lalu ia keluarkan pelan juga hingga m berulang kali ia lakukan demi mendapat ketenangan di hatinya.


“Kuat, ayo Win kamu kuat. Kamu akan mencintai suami kamu dan buktikan pada mereka semua. Jika kamu bukan wanita murahan.” ucap Windi dalam hatinya.


Usai membayar kini Arbi membawa Windi keluar. Di sanalah pria itu baru bertanya. “Mengapa tidak akrab jika itu teman kuliah?” Pertanyaan Arbi terbalaskan dengan senyum samar.


“Hanya sekelas tidak dekat, Tuan.” jawab Windi seadanya. Ia tak berniat menjelaskan sebab jika menjelaskan itu artinya akan menjelaskan hubungannya juga dengan seorang pria yang bernama Jenson.

__ADS_1


Windi tak mau membahas hal yang menurutnya tak akan membuahkan apa pun. Jenson hanya masa lalunya dan Arbi adalah masa depannya.


“Mau makan?” tanya Arbi.


“Tidak, Tuan. Saya hanya ingin membelikan sesuatu untuk Ibu dan Sinta.” Arbi setuju mendengar ucapan sang istri.


Tanpa keberatan ia mengikuti langkah Windi yang ternyata menuju ke arah toko batik. Di sana manik mata Windi terlihat lebih berbinar. Dress batik dengan berbagai macam harga membuat Arbi tak habis pikir. Padahal di butik lainnya banyak yang memiliki harga lebih tinggi dan kualitas batiknya sangat bagus.


“Tuan, ada apa?” Tiba-tiba saja Windi terkejut mendapat tarikan di tangannya.


“Jangan beli di situ. Kita ke sana.” tunjuk pria itu. Windi tahu itu adalah toko yang terkenal dan uangnya pasti tidak akan cukup.


“Tuan, di sana itu sangat mahal.” akhirnya Windi pun jujur.


Namun, Arbi tetap kekeuh untuk memasuki toko yang ia pilih. Niat hati ingin membelikan sang ibu sendiri, justru kini Windi diam mematung. Hanya kedua bola matanya saja yang terus memperhatikan kembali harga masing-masing baju. Tubuhnya tak bisa bergerak untuk memilih sebab bingung harus membayar dengan apa.


“Ini, Tuan.”


“Baik, terimakasih.” Tanpa di sadari, Arbi justru sudah memilihkan pakaian dan membayarnya sendiri untuk sang adik dan mertuanya.


“Ayo,” Windi tersadar saat tangannya di tarik kembali oleh sang suami untuk keluar.


“Tuan, itu?”


“Iya, saya sendiri yang memilihnya. Pilihanmu pasti sangat buruk. Kasihan Ibu punya anak seleranya buruk sepertimu. Untung saja selera suamimu begitu baik.” Tiba-tiba saja ucapan ambigu terdengar sangat menggelitik perut Windi.


Apa itu artinya Arbi adalah pria yang sangat baik di dapatkan oleh Windi?


Usai berbelanja, keduanya pun memutuskan untuk pulang, namun Windi kembali di buat terkejut kala melihat jalur perjalanan mereka bukanlah ke rumah.


Mengerti akan tatapan sang istri, Arbi segera menjawab. “Kita harus antar baju untuk Ibu dan Sinta dulu. Lagi pula tidak begitu jauh juga.” tuturnya membuat Windi hanya diam.

__ADS_1


Dalam hatinya ia merasa senang sekali malam ini.


__ADS_2