
Tatapan penolakan yang selama beberapa hari ini Windi berikan pada Arbi, sang suami akhirnya memudar. Manik mata hitam wanita itu menatap haru. Melihat beberapa pria tampak mulai menyekat rumah sederhana sang ibu dengan pembatas. Sementara beberapa bahan bangunan lainnya turut berdatangan.
“Tuan, ini?” Ucapan Windi tertahan kala sorot mata tajam milik Arbi menatapnya. Seolah memberi perintah untuk tidak bicara apa pun. Apalagi harus memanggilnya dengan panggilan Tuan.
“Sayang, bantu ibu untuk menata isi rumah itu. Setidaknya yang penting-penting letakkan di satu tempat saja.” Patuh Windi mengangguk. Ia enggan banyak bicara.
Melihat percakapan sang anak dan sang suami, Fatih hanya tersenyum. Ia berpikir dari apa yang ia lihat tampaknya semua baik-baik saja.
“Win, suami kamu itu baik. Kenapa tidak bilang pada ibu kalau memilih suami seperti dia? Ibu pasti tidak akan cemas memikirkan kamu, Nak?” Hanya senyuman tipis yang Windi sematkan pada sang ibu. Andai saja hatinya bisa bersuara betapa peliknya hidupnya saat ini.
Di luar sana justru Arbi duduk tenang di dalam mobil mengerjakan pekerjaannya dengan laptop. Ia hanya ingin menggunakan waktu sebaik mungkin. Dan membiarkan sang istri bekerja untuk rumah ibunya.
“Tuan, permisi. Ini laporan dari kantor.” Ketukan dan suara terdengar dari arah luar. Kaca mobil terbuka pelan dan Arbi melihat sang sekertaris datang membawakan apa yang ia perintahkan.
“Baik, terimakasih. Kau boleh tunggu sebentar untuk aku menandatangani berkas ini.” Patuh wanita itu mengangguk tanpa bantahan.
Sepersekian menit menunggu, akhirnya wanita yang bernama Eka mendapat panggilan dari sang boss.
“Ya Tuan?”
“Ini,” ucap Arbi singkat. Dan meminta Eka segera pergi meninggalkannya. Lanjut dengan pekerjaan, Arbi menatap sesekali ke rumah di depan sana. Tampaknya Windi belum usai berkemas dengan sang ibu.
Hingga tatapan pria itu teralihkan dengan sosok gadis yang berlari dengan seragam merah putih.
“Kasihan masih kecil sekali dia.” gumam Arbi melihat anak kecil yang tak lain adalah adik iparnya.
Cepat Arbi membuka pintu mobil dan memanggilnya. “Sinta,”
Terhenti langkahnya. Sinta tersenyum lebar. Wajah penuh keringat dan pakaian yang sudah lusih itu mengingatkan Arbi dengan banyak anak di jalanan sana.
__ADS_1
Miris rasanya dengan kemewahan yang ia miliki namun baru tersentuh saat ini kala melihat bagaimana kehidupan sang istri serta keluarganya.
“Paman siapa?” tanya Sinta dengan polosnya. Senyuman di bibirnya tak ia lunturkan sama sekali.
“Bajumu sudah tak layak pakai. Mau beli baju baru bersamaku?” tanya Arbi cukup lama pria itu menunggu jawaban saat melihat wajah Sinta hanya diam dengan senyumannya.
“Perkenalkan aku suami Windi. Kakakmu,” Arbi berjongkok memperkenalkan diri pada Sinta.
Kening bocah itu mengernyit mendengar suami. “Suami? Apakah yang foto dengan baju princess? Lalu kapan kalian jadi pangeran dan princessnya?” Pertanyaan polos dari Santi membuat Arbi tersenyum.
Belum sempat pria itu memberikan jawaban, Sinta kembali bersuara. “Dan baju ini masih layak pakai, Paman. Kata Kakak Windi baju ini masih layak karena belum ada yang robek.”
Memang seragam sekolahnya belum ada yang robek, namun warnanya sudah tak seputih seragam lainnya.
“Sudah, anak sekolah itu di larang banyak bertanya. Kakak akan membawamu belanja. Ayo, biarkan Kakakmu di dalam bersama ibu membereskan rumah.” Wajah Santi menoleh ke arah rumah dan menatap berbinar.
“Di rumah ada Kakak Windi?” Anggukan Arbi membuat bocah itu hendak berlari menghampiri sang kakak.
“Kita belanja untuk mu dan untuk ibu. Baru setelah itu kau bertemu kakakmu.” Pelan Santi pun menganggukkan kepalanya.
Beberapa menit mereka menghabiskan waktunya untuk berdiam diri di dalam mobil. Arbi yang asalnya adalah pria kaku tentu merasa kebingungan kala menghadapi Santi yang juga masih merasa takut banyak bicara pada pria di depannya.
“Wah…kita ke mall, Paman?” Antusias Santi menatap bangunan tinggi di depan sana. Mobil pun kini memasuki area parkir. Dimana Arbi menggendong bocah itu menuju pusat perbelanjaan seragam sekolah.
***
“Bu, kok Santi belum pulang?” Kening Windi mengkerut melihat jam sudah lewat dari jam sekolah.
Sibuk bersimpun dan berbincang, Fatih baru sadar akan waktu pulang sang anak.
__ADS_1
“Eh iya, kemana yah? Masa iya Santi masih di jalan? Seharusnya setengah jam lalu ia sudah pulang. Sebentar ibu tanya ke tetangga dulu yah?” Windi ikut keluar dari rumah melihat sang ibu keluar.
Rasa panik tiba-tiba saja menguasai hati kedua wanita itu. Namun, saat tiba di depan Windi menatap halaman dimana mobil mewah tadi terparkir rapi.
“Dimana dia? Apa ke kantor? Apa aku akan tinggal di sini lebih lama?” ujar Windi bertanya dalam hati.
“Win, adikmu sudah pulang katanya. Itu sama Velo samaan pulang tadi. Ya ampun kemana sih adikmu?” Wanita tua itu mencari ke sekeliling sembari berteriak. Namun, tak juga mendengar sahutan sang anak.
Windi tak hanya diam melihat kekhawatiran sang ibu. Ia turut berlari ke beberapa rumah di sekitar untuk menanyakan sang adik. Semua tetangga menjawab ada yang tidak tahu, ada juga yang mengatakan sudah lewat di depan rumah mereka sejak tadi.
“Bu, kita cek ke sekolah saja.” Dua wanita berbeda generasi itu berjalan tergesa-gesa menuju sekolah yang tak jauh dari rumah mereka.
“Cari siapa yah, Bu?” Tampak seorang pria yang merupakan security baru saja hendak pulang usai mengunci sekolah itu.
“Pak, adik saya. Santi belum pulang. Apa ada di dalam? Tadi sudah pulang kata tetangga tapi belum ada di rumah.” Windi bersuara sembari menggenggam erat tangannya penuh rasa cemas.
“Waduh, Mba. Santi tadi sudah pulang sama teman-teman biasanya bareng. Di dalam sudah saya cek barusan nggak ada siapa-siapa.” ujar pria itu hingga tak lama pusat perhatian mereka semua tertuju pada mobil mewah yang masuk kembali ke arah gang rumah Windi.
“Win, itu mobil suami kamu.” tunjuk Fatih hapal jika tak ada mobil mewah lagi yang masuk ke rumah mereka selain mobil milik Arbi.
“Pak, stop.” Pintah Arbi kala tak sengaja melihat keberadaan sang istri bersama mertuanya. Tatapannya terfokus saat Sinta bicara tentang sekolahnya.
“Paman, itu kakak dan ibu?” Sinta tak sabaran untuk turun dan Arbi membantunya membuka pintu mobil.
“Ya ampun Sinta?” Mereka semua menghela napas lega melihat sosok mungil yang membuat jantung mereka hampir lepas karena cemas.
“Sinta,” Windi memeluk tubuh mungil sang adik.
“Kakak, Sinta kangen banget.” Mata Arbi mengembun melihat betapa kejam ia pada sang istri menahan untuk tidak bertemu keluarganya.
__ADS_1
“Ayo kita ke rumah. Kalian belum makan kan?” Ujar Arbi yang di angguki mereka semua.
Arbi melangkah menuju rumah tanpa mau menaiki mobil. Windi, ibu, Arbi dan juga Sinta berjalan kaki hingga tiba di dalam rumah sederhana.