Step Mother

Step Mother
Sapaan Hangat Di Pagi Hari


__ADS_3

Satu hari bekerja di tambah malam harinya sungguh membuat semua pekerja mengeluh tanpa suara. Bagaimana mereka berani mengeluh bahkan Arbi dengan berani menarifkan bonus lembur dengan tiga kali lipat gaji mereka.


Semua bekerja dengan teliti meski kantung menyerang bahkan pinggang terasa sangat pegal.


Begitu juga dengan pria tampan setengah baya ini. Arbi dengan fokus bekerja di ruang kerja tanpa memperhatikan sang istri yang sedari tadi sibuk menonton live. Entah live apa yang jelas suara orang ramai seperti sedang membeli sesuatu.


“Win, itu suara apa sih?” Arbi bertanya tanpa menoleh ke sang istri. Tangan pria itu fokus menari di atas keyboard laptop miliknya.


Beberapa saat hening tanpa ada jawaban, akhirnya Arbi mengangkat wajah. Wajahnya menghela napas lega kala melihat sang istri yang berbaring di sofa ketiduran. Tangan wanita itu masih setia menggenggam ponsel di atas perutnya.


Pemandangan yang lucu sekaligus membahagiakan untuk Arbi dan juga para pekerja. Jika sang ratu terlelap itu artinya mereka sudah boleh pulang.


“Astaga, apa ini? Baju harganya 15 k itu artinya apa? Satu juta lima ratus ribu atau…” Arbi tampak terpelongo saat sejenak menyempatkan diri melihat apa yang sang istri dengar dan tonton sedari tadi.


Matanya membulat kembali setelah mendengar host di dalam sana menyebut harga lima belas ribu. Terasa berputar kepala pria itu mendengar harga baju yang sang istri lihat berjam-jam lamanya sampai terlelap.


“Kamu ada-ada saja sih? Dari mana tahu belanja baju macam ini?” gerutunya tak habis pikir setelah paham baju apa yang sang istri lihat.

__ADS_1


Baju yang bahkan sudah terpakai di jual murah semurah-murahnya.


Fokus ia alihkan pada sang istri usai mematikan ponsel itu.


Secepat mungkin Arbi mengemasi barang dan menggendong sang istri. Sembari melangkah, pria itu berkata.


“Ayo kita boleh pulang. Segera istirahatlah kalian.” pintahnya pada setiap karyawan yang ada di perusahaan.


Tepat pada pukul sepuluh malam, akhirnya perusahaan resmi mematikan lampu pertanda jika tak ada lagi yang bekerja.


“Wah sering-sering saja nyonya boss ngidam. Kita jadi kaya raya kalau begini.” ujar salah satu pekerja dan yang lain pun setuju.


Dua puluh lima menit lamanya Arbi mengendarai mobil, akhirnya kini mereka tiba di rumah. Pelan ia menggendong sang istri.


“Hah, untung saja suami mu ini awet muda dan awet tulang, Win. Kalau tidak bisa patah tulang aku.” keluhnya merasakan bobot tubuh sang istri yang tidak begitu berat.


Malam itu Arbi tidur memeluk sang istri tanpa berani membangunkan Windi. Jujur bukan takut tapi lebih tepatnya tak sanggup jika saja sang istri meminta sesuatu yang aneh saat ini.

__ADS_1


Tubuh Arbi sudah sangat lelah setelah lembur. Ia ingin istirahat dengan tenang.


Jarum jam bergerak mengiringi tidur malam keduanya. Rumah yang sunyi menambah kesan nyenyak untuk sepasang suami istri beda usia itu.


Windi pun juga sama lelahnya dengan Arbi usai cukup lama berada di luar rumah.


Hingga tak terasa pagi telah menyapa keduanya. Dimana Windi mual dan muntah-muntah.


“Tuan. Tolong aku…” Windi bergegas ingin bangun namun kesulitan saat merasa kaki Arbi dan tangannya menindih kuat tubuh mungil wanita itu.


“Tuan…” panggilnya lagi namun tak juga Arbi terbangun dari tidurnya.


Hingga suara dan lelehan cairan pun terasa menyapa kulit tangan pria itu.


Huek! Huek! Huek!


Windi muntah tak hanya satu kali. Ia berkali-kali memuntahkan isi perutnya di tangan sang suami yang berada di atas dadanya.

__ADS_1


__ADS_2