Step Mother

Step Mother
Mengirim Ke Luar Negeri


__ADS_3

Beberapa kali Windi menatap sekeliling rumah baru yang ia masuki bersama dengan sang suami. Arbi memperhatikan Windi yang begitu antusias mendatangi setiap sudut rumahnya. Memastikan semuanya begitu enak di pandang. Hingga senyuman puas pun terlihat di wajah cantik wanita muda itu.


"Bagaimana rumah baru kita?" tanya Arbi.


Bibir Windi terasa kaku untuk mengucapkan kata, sebab ia sudah tak bisa mengatakan apa pun dengan keadaan rumah yang sangat indah dan besar.


"Tu-tuan, rumah ini seperti istana. Apa tidak berlebihan dengan kita yang tinggal hanya berdua saja?" tanya Windi menatap sang suami yang justru terkekeh mendengarnya.


Arbi berjalan meninggalkan sang istri, Windi tentu saja bingung. Hingga tak lama kemudian Arbi datang membawakan sebuah dokumen di tangannya.


"Kemari, Win." panggilnya pada Windi untuk mendekatinya yang kini sudah duduk di sofa ruang tengah.

__ADS_1


Dengan hati yang penasaran, Windi mendekat. Duduk di samping sang suami. Perasaannya masih saja takjub dengan semua perabot rumah baru itu. Meski baru, namun semua isi di dalamnya sudah benar-benar lengkap. Windi menoleh kembali pada sang suami, dan kedua matanya menatap arah yang Arbi tunjuk dengan gerakan mata.


"Lihat, ini atas nama kamu. Rumah ini aku beli untukmu. Aku rasa tidak ada salahnya jika kita pindah ke rumah yang baru. Lagi pula rumah itu juga bekas peninggalanku dengan istri pertamaku. Yang kelak berhak untuk di ambil oleh Jenson." ujarnya menjelaskan dan Windi di buat menganga tak percaya.


Matanya berkaca-kaca melihat surat kepemilikan rumah yang di berikan sang suami. Sumpah demi apa pun Windi tak pernah menyangka jika pria yang menikahinya begitu baik padanya.


"Tuan, ini benar untuk saya? apa anda tidak bercanda? Tapi kalau Nyonya besar dan Jenson tahu ini akan jadi masalah besar, Tuan." Takut jika di sebut wanita matre, Windi tidak ingin hal itu terjadi.


Sebab Arbi tak ingin memberikan rumah dengan lokasi yang tidak sesuai dengan standarnya.


"Tugasmu hanya menerima saja, Win. Selebihnya biarkan aku yang mengurus. Kita akan hidup tenang di rumah ini tanpa ada yang menindasmu lagi. Dan urusan Mami dan Jenson, mereka akan aku kirim ke luar negeri untuk beberapa saat. Sampai mereka bisa melepaskan amarahnya padamu. Aku ingin menikmati pernikahan kita ini dengan tenang."

__ADS_1


Arbi mengurai rambut sang istri dan pelan ia mendaratkan kecupan di kening Windi. Mendapat sentuhan hangat itu Windi sontak memejamkan mata meresapi betapa tulus cinta suami padanya. Pernikahan yang berawal dari kesakitan rasanya berbuah sangat manis saat ini.


Sumpah demi apa pun ia tak pernah menyesali pernikahan dengan pria matang ini.


Tanpa ia tahu jika di rumah yang pertama, Jenson begitu marah. Kala di rumah ia mendapat paksaan perintah dari anak buah Arbi untuk berangkat hari itu juga ke luar negeri bersama sang nenek.


"Apa-apaa ini? Kalian memaksa kami pergi dari rumah kami sendiri?" Jenson berteriak saat mendapat perintah dari anak buah Arbi.


Ia meradang mendengar seolah dirinya dan sang nenek di usir dari negara mereka sendiri.


"Iya, apa-apaan ini? Tidak. Kami tetap di negara ini dan tinggal di rumah ini." Kini Nyonya Kely yang turut bersuara.

__ADS_1


__ADS_2