
Lalu lalang kendaraan terlihat sangat padat kala waktu kepulangan semua pekerja hampir bersamaan menuju rumah masing-masing. Jalanan yang luas mendadak penuh dengan berbagai macam kendaraan. Padat dan macet inilah yang menjadi alasan Jenson selalu nyaman memakai kendaraan roda dua.
Motor berbadan besar dan suara yang memekakkan telinga itu begitu lancar melewati celah-celah antara mobil satu dengan yang lain.
Hingga tak sampai 20 menit pria itu tiba di halaman rumah. Melepaskan helm berjalan masuk ke dalam rumah. Tatapannya seketika tertuju pada dapur yang nampak terdengar kegiatan para pelayan di sana menyiapkan makan malam.
Langkah yang mulanya hendak menuju kamar kini berubah menuju ke dapur.
“Nyonya Windi, saya ke belakang sebentar mau angkat jemuran. Nyonya sebaiknya duduk saja biar bibi yang lanjut setelah ini.” Rasa tak enak tentu saja membuat wanita paruh baya itu sadar akan pekerjaannya. Dan Windi adalah majikannya saat ini yang tidak boleh kelelahan.
Dengan bibir melengkung tersenyum, Windi bersuara. “Sudah bibi pergi saja. Saya bisa kok melakukan ini semua. Biar pekerjaannya cepat selesai.”
“Tapi, Nyonya…”
“Sudah, saya tidak apa-apa kok.”
Berat rasanya meninggalkan Windi. Namun, sang bibi yang hendak bersuara seketika terhenti kala melihat sosok Jenson memberi isyarat agar diam, detik berikutnya tangannya melambai seolah meminta sang bibi untuk pergi.
__ADS_1
Patuh tanpa berani berucap, wanita paruh baya itu segera berlalu pergi. Ia meninggalkan Windi yang tengah asik mengaduk masakannya bersama Jenson yang pelan semakin mendekat.
Rasanya tentu saja bibi tak tega, mengingat kejadian pagi tadi. Namun, posisinya yang hanya pelayan tak mungkin membuat wanita itu ikut campur dengan masalah yang ia sendiri tidak tahu kebenarannya.
“Sayang,” pelan namun begitu mengejutkan.
Windi sampai terlonjak dan menjatuhkan alat pengaduk masakan.
“Mau apa kamu?” pekiknya membalik badan secepat kilat saat merasa sosok di belakangnya begitu dekat.
Windi menatap awas pria di depannya saat ini. Berbeda dengan reaksi Jenson yang hanya tersenyum menatap tubuh Windi dari atas sampai bawah.
Mendengar ucapan itu, buru-buru Windi mematikan kompor dan hendak berlari meninggalkan Jenson di dapur. Ia enggan jika berdebat dengan pria yang saat ini pikirannya kacau.
“Minggir! Jangan sentuh aku, Jen.” ucapnya dengan tubuh yang bergetar. Windi sangat takut, inilah sebabnya ia tak ingin di rumah ketika Arbi pergi keluar kota.
Namun, jujur semua pada sang suami rasanya tidak mungkin. Dan memilih diam itu artinya Windi akan menghadapi semuanya seorang diri.
__ADS_1
Bukannya menuruti permintaan Windi, Jenson justru terkekeh. “Jangan menyentuh? Kamu ragu dengan uang gajiku? Semahal apa bayaran pria tua itu untukmu? Hah?”
Windi menggeleng tak suka mendengar ucapan sang mantan. Meski sebenarnya ia tahu ini buka Jenson yang sebenarnya.
Pria yang ia cintai ini sangatlah baik bertutur kata sopan. Sungguh Jenson tak pantas berucap seperti sekarang. Hati Windi sakit melihat pria di depannya berubah karena hal yang tidak ia ketahui.
“Jen, aku mohon berhentilah. Tenangkan dirimu dan fokus pada masa depanmu. Aku mohon.” Windi tak kuat untuk diam. Ia ingin Jenson tetap menjadi pria baik yang pernah ia cintai. Sayang, tutur kata permohonan dari Windi tak membuat Jenson paham.
“Pergilah! Kau tidak mau uangku? Pergilah!” Teriaknya seketika membuat Windi hampir meloncat.
Ketakutan tentu saja Windi sangat takut. Lantas wanita itu berlari meninggalkan sang mantan di dapur. Ia menutup kencang pintu kamarnya dan menangis di kamar itu seorang diri.
Tanpa ia tahu, di luar Jenson tengah menelpon salah satu temannya.
“Halo, Son. Bagaimana? Bagaimana? Apa perlu nih?” Seorang pria menyapa Jenson kala sambungan telpon tersambung.
“Ada barang nggak? Satu bawa ke rumah gue sekarang.” ujarnya dan sontak membuat seseorang di seberang sana terkejut serta terkekeh tak percaya.
__ADS_1
“Wuhahaha lo nggak lagi mabuk kan? Apa lu amnesia? Hei Jen, ada apa bro?” Mendengar ucapan demi ucapan sang teman, Jenson justru memutar malas matanya.