
Rasa penasaran dari sosok Arbi terpaksa harus ia hilangkan saat ini sebab di depannya tampak Windi yang sudah menundukkan kepala menahan air mata sedih. Arbi sadar ia tidak seharusnya berkata frontal seperti itu, pelan pria itu akhirnya menghela napasnya kasar. Ia pun menggenggam satu tangan Windi di mana tangan satunya masih menenteng makan siang sang suami.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Sudah jangan bersedih lagi. Ayo temani aku makan siang." ajaknya menarik tangan sang istri menuju rofa yang ada di ruangannya saat ini.
Patuh, Windi pun mengikuti langkah pria di depannya ini dengan langkah kaki terburu-buru sebab langkah Arbi begitu lebar menurutnya. Sesampai di sofa tak tinggal diam, Windi dengan sigap segera membuka makan yang ia bawa, menata di atas meja lalu mengambilkan bagian untuk sang suami.
Kening Arbi mengernyit melihat ada sisa makanan yang di lihat masih cukup untuk satu porsi lagi. Sebagai pria berumur, ia tentu membatasi porsi makannya di setiap waktu. Hingga pada akhirnya semua usahanya terlihat sampai saat ini tubuh atletis, tegap, dan segar tentunya tak ada perut yang buncit seperti kebanyakan orang di usianya.
"Tuan, apa saya boleh memakan sisanya? Sayang jika tersisa dan harus di buang." ujar Windi yang beralasan. Mendengar itu tentu saja Arbi tak mungkin menolak. Ia pun mengiyakan dan bagaimana Arbi di buat kaget melihat wanita ini mengambil makan dengan gerakan cepat serta menikmatinya sangat lahap.
Beberapa kali Arbi pun tampak memperhatikan sendokan demi sendokan yang Windi masukkan ke dalam mulut. Ini bukan cara makan oang yang menikmati sisa makanan, namun jelas terlihat wanita ini sangat kelaparan. Tanpa sadar Windi mendahului sang suami menyelesaikan makan.
Satu porsi ia habiskan barulah meneguk air putih yang seharusnya untuk sang suami tadi. "Huh ya ampun perutku lega sekali rasanya terisi makanan. Aku sangat kenyang." gumam Windi yang tak dapat terdengar oleh Arbi.
"Eh Tuan?" ia terlonjak dari duduk bersandarnya kala menyadari tatapan sang suami yang menatap tanpa kedip ke arahnya.
Malu tentu saja. Windi sadar bagaimana ia makan tadi tanpa melihat ada orang yang juga makan bersamanya saat ini. Menunduk adalah satu-satunya jurus yang Windi miliki sedari awal bertemu Arbi. Ia menundukkan kepala dan siap mendengar ocehan atau pertanyaan sang suami.
__ADS_1
"Apa di rumah belum makan? mengapa makanmu lahap sekali seperti itu?" tanya Arbi yang sontak membuat Windi terdiam seribu bahasa.
Tidak mungkin ia jujur jika di rumah sang mertua bahkan tak memberikannya kesempatan untuk makan bahkan duduk semenit pun. Berpikir beberapa saat mencari alasan hingga akhirnya Windi pun menemukan alasan yang tepat saat ini.
"Em Tuan, saya tidak selera makan saat di rumah tadi. Itu sebabnya saya membawa makan siang lebih siapa tahu saya selera makan saat pindah tempat. Dan ternyata benar, selera saya berkali-kali lipat datangnya." ujarnya dengan tanpa ekspresi.
"Apa karena ada Mami di rumah kau tidak berselera makan?" tanya Arbi yang di jawab iya oleh Windi hanya dalam hati. Sebenarnya ingin sekali ia berterus terang namun mengingat jika ini adalah hal yang harus ia selesaikan sendiri akhirnya Windi memilih bungkam.
Tak mungkin ia meminta pada Arbi untuk mengatasi semuanya dan berakhir Mami Kely akan semakin benci. Ia tak ingin wanita tua itu bertindak semakin jauh. Biarkanlah Windi berusaha meluluhkan hatinya.
Arbi yang mendengar sama sekali tak menaruh curiga, hingga akhirnya pria itu memilih kembali melanjutkan makannya dengan lahap. Masakan sang istri benar sangat membuatnya bangkit semangat bekerja lagi. Tubuh yang mulai lelah di tengah siang itu terasa seperti pagi kembali segar dan penuh semangat.
"Ayo cepat, Bi. Itu tambah lagi pakaian Jenson. Masih kurang itu." tunjuknya pada tumpukan baju yang harus di setrika.
Dengan jeli mata Mami Kely mencari hal yang bisa ia perintahkan pada Windi. Meski kasihan, para pelayan hanya mampu patuh dengan perintah. Melihat banyaknya pakaian yang harus di setrika rasanya mereka bisa membayangkan bagaimana Windi akan sakit pinggang dan pegal tangannya usai mengerjakan semua ini.
"Biar tahu rasa dia. Dia pikir menikahi anak saya semudah itu akan jadi ratu? Heh tidak akan saya biarkan. Saya yakin seratus persen setelah anak saya semakin tua, pasti wanita itu akan suka rela menghambur-hamburkan uang Arbi. Dasar matre!" umpatnya dalam hati.
__ADS_1
Sadar dengan waktu yang sudah ia perkirakan, matanya pun menoleh ke arah pintu utama. Di sana belum terlihat kemunculan seseorang. Windi belum pulang, dan itu artinya ia sudah mencari gara-gara lagi dengan sang mertua.
"Jangan kamu kira saya bodoh, Windi. Kamu pasti sedang berlama-lama di sana biar tidak mengerjakan ini semua. Atau jangan-jangan kamu sedang mengadu pada Arbi?" geram rasanya membayangkan apa yang ia pikirkan saat ini.
Hingga belum sempat ia meraih ponsel untuk menelpon supir yang mengantar Windi ke kantor akhirnya di depan sana terdengar suara mobil yang tertutup pintunya. Artinya Windi telah pulang ke rumahnya. Secepat mungkin Mami Kely berjalan keluar tak lupa ia singgah di kamar mandi kamar tamu. Tangannya sudah membawa wadah yang terlihat bentuknya adalah teko kaca yang berisi satu liter air.
Byurrr!!
Satu kali siraman sukses membuat tubuh Windi basah dari wajah hingga kakinya. Bahkan bibirnya terbuka lebar lantaran terlalu kaget mendapat serangan dadakan dari sang mertua. Matanya menatap bagaimana bengisnya Mami Kely saat ini menatapnya.
"Nyonya?" ucapnya bergetar antara menahan amarah dan menahan kesabaran juga. Jika tak mengingat siapa wanita di depannya ingin rasanya Windi mendorongnya hingga tersungkur dan patah pinggang. Sayang, di depannya adalah sang mertua yang bagaimana pun jika ia melawan akan menjadi masalah besar.
Dan Windi tak ingin itu terjadi, ia ingin pernikahannya bersama sang suami harus tetap berlanjut dan baik-baik saja. Tak akan ia biarkan satu celah sedikit pun membuat Arbi ragu padanya.
"Tidak, aku harus sabar. Kamu harus kuat Windi. Pernikahan hanya terjadi satu kali saja, ingat itu." ucapnya dalam hati berkomitmen untuk baik-baik saja.
"Apa? Hah kamu marah? Mau marah dan melawan sama saya? Sudah saya katakan bukan segera pulang. Sekarang ikut saya." Tangan Mami Kely pun menarik kasar tangan Windi agar mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Dan di sinilah Windi saat ini berada, dengan pakaian yang basah bagian depan ia tampak berdiri mulai menyetrika satu persatu pakaian yang susah payah di kumpulkan oleh para pelayan tadi atas perintah sang nyonya besar.