
Rasa lapar dan lelah begitu terasa di tubuh wanita yang sampai saat ini tepat pada pukul setengah sebelas siang masih berkutat di rumah megah sang suami dengan kemoceng dan lap di kedua tangannya. Peluh terus berganti menetes di pelipis wajah cantik itu. Windi benar-benar semakin lemas sebab sedari pagi pun ia belum sempat sarapan. Melihat bagaimana sang mertua yang mengawasinya bekerja saat ini, tentu saja tidak mungkin ia dapat meminta jeda waktu untuk mengisi tenaga kembali.
Mami Kely dengan bersedekap dada tampak menatap tajam Windi dengan setiap pergerakannya. "Cepat selesaikan. Tunggu apa lagi lihat-lihat saya?" Windi menghentikan pergerakan tangannya.
"Maaf, Nyonya. Sudah jam setengah sebelas, tadi Tuan Arbi meminta di masakkan makan siang dan di antar ke kantornya." jawab Windi tak ingin menjadi kesalah pahaman jika menjelaskan sedikit saja. Ia menjelaskan semua agar wanita di depannya akan mengerti dan ini murni perintah bukan alasannya untuk pergi dari pekerjaan yang melelahkan.
"Oh, yasudah pergilah. Tapi setelah itu segera pulang sebab pekerjaan sudah banyak menantimu." ujar Mami Kely yang mendapat anggukan cepat dari Windi.
Ia berjalan menuju dapur memasak hanya sedikit untuk satu orang lebih. Yah, Windi sengaja melebihkan masakannya agar ia sendiri juga bisa makan di sana bagaimana pun caranya. Rasanya tidak akan mungkin ia bisa makan di rumah jika tak ada sang suami yang menemaninya.
Setengah jam ia kerjakan dengan tekun masakan request sang suami, kini Windi baru saja usai membersihkan tubuh dan bersiap pergi. Dimana langkahnya terhenti kala mendapatkan halangan dari sang mertua.
"Siapa yang menyuruhmu memakai baju bagus seperti itu?" tanya Mami Kely protes melihat pakaian yang tak asing menurutnya. Yah pakaian mahal dengan brand ternama jelas terlihat di matanya.
Seketika tangannya menarik keras tali pinggang dari baju itu dan Windi terkejut. "Nyonya, apa yang anda lakukan?" tanya Windi.
"Tidak ada cocok sedikit pun kamu memakai baju dari brand mana pun, Windi. Ganti bajumu dengan ini. Cepat!" pintah Mami Kely memberikan baju polos dengan kain yang sudah buram. Sepertinya ini adalah pakaian bekas dan sudah lama.
__ADS_1
Mengingat sang suami yang sudah banyak menyediakan pakaian untuknya dan memperingatkan Windi jika ia harus membawa nama sang suami baik di depan para orang-orang termasuk karyawan di perusahaan, kini Windi mundur ke belakang satu langkah berniat menjauhi sang mertua untuk menolak baju pemberiannya.
"Kenapa mundur? kau tidak mau memakai ini? Sini biarkan aku yang memakaikan ini untukmu. Biar semua pelayan tahu seperti apa tubuh wanita seperti mu ini." Mami Kely tampak kesal sekali bahkan tangannya bergerak begitu kasar saling bertarikan dengan Windi.
"Tidak, jangan Nyonya. Saya mohon." Windi menahan tangan Mami Kely yang hampir merobek pakaiannya.
Dimana waktu yang Windi lihat sudah semakin mepet untuk ia mengantar bekal siang sang suami. Tak ingin membuat sang suami menunggu, akhirnya Windi pun mengiyakan.
"Baik. Baik, Nyonya. Saya akan mengganti pakaian ini. Tolong biarkan saya berganti sendiri di kamar." tuturnya dengan memohon.
Saat itu juga tangan Mami Kely pun terlepas dari pakaiannya. Wanita tua itu tersenyum puas usai melihat Windi pergi dengan membawa baju serta makanan yang akan ia bawa ke kantor.
Sebab bukan tak asing ia sering kali melihat banyaknya kejadian di film mau pun dunia nyata makanan yang di beri campuran lainnya agar rasanya tak enak dan yang memakan akan sangat marah padanya.
Usai mengganti pakaian, Windi menatap pantulan tubuhnya di depan cermin besar di kamar itu. Beberapa kali tangannya menggenggam baju itu untuk memastikan apakah layak di tampilkan di depan banyak orang. "Huh baju ini bahkan sangat payah dari bajuku yang jelek dan murah. Tapi, jika aku tidak memakainya Mami pasti akan sangat marah. Sudahlah, tidak apa. Sebaiknya aku hindari saja bertengkar terus dengannya. Aku takut tensinya akan naik drastis." ujar Windi yang pasrah keluar kamar dengan penampilan yang sangat beda.
Terbiasa memakai pakaian bagus beberapa waktu membuatnya jauh berbeda kala memakai pakaian usang seperti ini. Dan itu tentu saja membuat Mami Kely tersenyum puas. Ia bahkan berdiri berjalan mengelilingi tubuh Windi sembari memperhatikan setiap lekuk tubuh wanita di depannya.
__ADS_1
"Ini sangat indah. Kau cocok memakai seperti ini, bukan yang seperti tadi. Dan sekarang pergilah." ujar Mami Kely yang tak di jawab apa pun oleh Windi.
Melangkah menuju mobil yang sudah siap mengantarnya ke kantor, Windi menunduk memperhatikan setiap gerakan kakinya dengan balutan baju yang tak nyaman rasanya. Bahkan bau apek pun terasa begitu kuat.
"Mami sepertinya mengambil baju ini dari gudang yang kotor sekali. Ya Tuhan, maafkan aku Tuan. Aku tidak bermaksud membuatmu malu." tutur Windi membayangkan bagaimana sang suami akan marah dan tidak suka melihatnya seperti ini.
Beberapa saat berlalu dengan menatap banyaknya bangunan tinggi di pusat kota itu, akhirnya wanita dengan baju usang pun turun dari dalam mobil. Tangannya tampak memperbaiki anak rambut yang berterbangan lalu ia menuju ke loby perusahaan. Kedatangannya di sambut ramah dengan resepsionis di perusahaan itu meski tatapan matanya sedikit tak nyaman menurut Windi. Ada ekspresi sinis dan menghina terlihat jelas di sana.
"Mari, Nyonya. Ini ruangan Tuan Arbi." tuturnya mempersilahkan Windi masuk setelah mengetuk pintu meminta izin pada sang boss.
"Masuk." teriakan dari dalam membuat dada Windi kian sesak. Pelan wanita itu menarik napasnya panjang lalu menghembuskan napasnya kasar.
"Tuan," Sapaan yang seketika menghilangkan senyum di wajah tampan Arbi ketika menengadah menatap kehadiran sang istri di depan pintu. Jelas Windi melihat bagaimana kening Arbi mengerut banyak.
Tak ada kata yang Arbi ucapkan selain tubuhnya bergerak melangkah mendekat meninggalkan kursi kerjanyanya. Kini langkah pria itu berakhir di depan tubuh sang istri. Matanya mengedar dari atas hingga ke bawah.
"Apa maksudnya ini, Win?" tanya Arbi tak paham.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan. Saya salah memakai pakaian." jawab Windi yang sejujurnya juga sangat bingung harus berkata apa saat ini. Sebab ia sendiri pun tahu jika semua bajunya yang menurut Arbi jelek sudah mereka berikan pada orang yang membutuhkan di jalanan.
Arbi pun terkekeh sekilas. "Cih salah memakai pakaian katamu? Win, pakaian dari mana ini? Kau dapat di mana pakaian seperti ini? Di lemari bahkan aku sendiri yang sudah memilah bajumu dan aku berani pastikan tak ada satu lembar pun yang seperti ini tertinggal di sana." kekeuh Arbi pun berkata demikian.