Step Mother

Step Mother
Perjanjian Dengan Tuhan


__ADS_3

Tanpa tahan mengendalikan diri lagi, Arbi merasa sedih mendengar penuturan sang istri segera tangannya menarik erat tubuh Windi dan  memeluknya begitu erat. Sekuat tenaga Windi  menahan akhirnya ia meneteskan air matanya juga. Ia lelah sekali rasanya menghadapi ini semua. Pernikahan yang terpaksa berusaha ia terima dengan ikhlas meski sampai saat ini rasanya masih canggung dengan pria yang memeluknya saat ini.


Hingga banyaknya cibiran dari sekeliling yang menilai dirinya bukanlah wanita yang baik hingga mau menikahi pria berumur seperti Arbi, bahkan di rumah sang suami sendiri pun ia harus menghadapi musuh terbesarnya yaitu Jenson dan saat ini bertambah dengan kehadiran sang mami yang tak kalah menyakitkan kala mengeluarkan suaranya.


"Aku lelah," lirih namun Arbi masih bisa mendengar dengan jelas. Ia tahu bagaimana jadi Windi saat ini. Meski tak bisa merasakan namun memikirkan setiap pandangan orang saja ia tahu bagaimana tak nyamannya menjadi Windi.


"Buat mereka bungkam dengan apa yang kau bisa, Win. Buatlah dirimu bahagia dengan mereka yang tak bisa berkomentar negatif lagi. Aku akan bantu semuanya." Arbi berucap sembari melerai pelukan mereka. Ia menatap dalam kedua netra milik sang istri.


Mendengar hal itu tentu saja Windi  merasa bingung. Apa sebenarnya yang di maksud oleh sang suami. Ia pun bertanya, "Maksudnya bagaimana?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku ingin kau tetap meneruskan masa depanmu dan karirmu. Capailah apa yang tertunda selama ini. Usiaku tidak muda lagi, jadi aku tidak ingin kau kesulitan saat aku tiada nanti." Ucapan support yang Arbi katakan dan berakhir kata-kata yang menakutkan bagi Windi.


Entah mengapa Windi takut mendengar jika suatu saat ia akan kehilangan sosok Arbi. Cepat ia menggelengkan kepala dengan mata yang memerah kembali. "Tidak, aku tidak ingin mendengar kata itu. Kau tidak boleh pergi, Tuan." ujarnya ketakutan.


Tersenyum Arbi mendengarnya, ia senang melihat ketakutan di wajah cantik istrinya itu artinya Windi kini menginginkan dirinya sebagai pendamping hidup selama-lamanya.


"Kau ingin tetap bersamaku?" cepat Windi mengangguk. Kembali Arbi memeluk tubuh sang istri lagi.


Lagi Windi menggelengkan kepala tak ingin menjawab ucapan sang suami. Arbi yang paham pun hanya bisa mengusap kepala istrinya lembut.

__ADS_1


Bukan ia tak ingin menyerahkan perusahaan atas nama sang istri, namun dunia bisnis terlalu berisiko untuk wanita yang ia cintai ini. Arbi ingin Windi memiliki usaha yang menjanjikan meski tidak begitu besar namun menguntungkan. Bagaimana pun perusahaan akan ia serahkan sepenuhnya kepada Jenson kelak.


"Yasudah, ayo kita istirahat. Segeralah ganti baju dan cuci muka dan gosok gigi. Sudah sangat malam." pintah pria itu dengan sabar tak ingin melanjutkan pembahasan masa depan lagi untuk saat ini. Windi sedang tidak baik untuk mendengar celotehannya.


Rasanya Arbi pun juga sudah lelah usai bekerja seharian tanpa istirahat kini harus pergi kembali dengan sang istri untuk acara yang cukup menguras tenaga. Bertemu sang mami yang membuatnya emosi, Arbi ingin memejamkan mata mendinginkan kepala sejenak agar esok hari ia bisa kerja dengan semangat lagi.


Patuh Windi pun melakukan semuanya dan menyiapkan pakaian untuk sang suami juga. Kala merasa selesai semua keduanya pun tidur di atas tempat tidur yang sama saling berpelukan. Nyaman tentu saja Windi sangat nyaman mendapatkan pelukan dari sang suami.


Pelan rasa benci dan marah yang ia rasakan pada pria di depannya kini berganti menjadi kenyamanan dan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan artinya. Yang jelas Windi takut kehilangan pria di depannya saat ini.

__ADS_1


"Tuhan, panjangkan usia suamiku. Aku takut engkau mengambilnya begitu cepat. Dia pria yang baik untukku. Aku berjanji akan mengabdikan diriku untuknya sepenuhnya." Dalam hati Windi berjanji pada sang pencipta untuk sang suami.


Kini ia sadar Arbi adalah pria yang Tuhan pilihkan tepat untuknya.


__ADS_2