
Pulang masih dalam keadaan hening selama di perjalanan, Windi beberapa kali menatap wajah sang suami yang mengeratkan rahangnya. Tak berani bersuara, ia pun hanya diam menunggu tiba di rumah. Arbi yang terus diam tampak bertengkar dengan pikirannya sendiri. Sumpah demi apa pun ia tak habis pikir dengan semua yang terjadi. Rasa bersalahnya kembali hadir memikirkan sang istri yang bahkan rela menutupi ini semua.
Setibanya mereka di rumah, Windi di gandeng sang suami ke kamar. Mereka masih sama-sama diam. Tak betah dengan keadaan seperti ini, Windi berpikir bagaimana caranya agar ia bisa memecah suasana tegang ini? Jujur ia tidak suka dengan keadaan seperti ini. Arbi adalah suaminya, tidak sepantasnya mereka saling diam.
"Tuan,"
"Win," panggilan bersamaan tanpa sengaja membuat Windi menunduk. Sementara Arbi menatap dalam wajah sang istri.
"Tuan katakan duluan saja." titahnya mengalah.
"Katakanlah ada apa?" sahut Arbi yang justru meminta sang istri mengatakan sesuatu.
Ragu, namun Windi mengangkat wajahnya demi melihat wajah sang suami. "Apa Tuan mengetahui semuanya?" tanyanya yang ragu namun ingin memastikan. Sebab kemarahan Arbi bahkan tidak perdulinya Arbi pada Nyonya Kely sudah menjawab semua pertanyaan Windi.
"Kenapa tidak bicara padaku semuanya? Apa kau tahu aku sangat marah melihat hal itu, Win." Arbi sampai menggenggam erat kedua lengan sang istri.
Windi terdiam beberapa saat. "Maafkan saya, Tuan." hanya kata maaf yang mampu ia katakan tanpa membuat Arbi semakin marah.
Saat ini pria itu tengah terbakar emosi, Windi tak ingin banyak bicara yang akan menambah masalah semakin besar. Ia juga tidak ingin membuat hubungan antara anak dan ibu jadi renggang.
__ADS_1
"Mami salah, tidak sepatutnya kamu memikirkan dia. Besok kita akan pindah rumah dari sini." Terkejut mendengarnya. Windi sampai mengangkat wajahnya tinggi menatap sang suami.
Bayangan bagaimana Jenson dan Mami Kely semakin membencinya membuat Windi tak setuju. Ia menggelengkan kepala tidak ingin menuruti permintaan sang suami.
"Tuan, kenapa harus pindah? Ini rumah anda. Saya mohon jangan pindah, Tuan." bujuknya sampai berani menggenggam tangan Arbi.
"Jangan menghalangi ku, Win. Siapa pun tidak bisa merubah keputusanku." Arbi melangkah memasuki kamar mandi tanpa mendengarkan kata sang istri lagi.
Kali ini ia akan tegas tanpa memikirkan apa pun lagi. Arbi tak mau mengambil resiko apa yang terjadi ke depannya pada sang istri. Melihat perlakuan sang ibu pada istrinya sungguh melukai harga diri Arbi sebagai suami. Dimana suami seharusnya melindungi sang istri dari apa pun bersama keluarganya, namun justru orangtuanya sendiri lah yang berbuat hal menyakitkan pada sang istri.
Arbi tak akan bisa mentolerir itu semua. Ia ingin hidup bahagia bersama Windi. Sepanjang aktifitas mandi, pria itu tampak diam memikirkan semuanya. Sama halnya dengan Windi yang bingung berpikir di tempat tidur. Ia gelisah takut jika benar sang suami akan pindah bersamanya esok hari.
"Bagaimana ini? Tuhan bantu aku. Aku tidak ingin membuat mereka semakin membenciku." berdoa berharap ada jalan keluar, namun Windi justru melihat sang suami yang sudah keluar kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Kasar ia meneguk salivah susah payah. Pelan namun pasti Arbi melangkah mendekati wanita yang tengah berdebar jantungnya itu.
Bukan rasa takut yang hadir, sebab ketakutan itu sudah berganti menjadi rasa ketagihan. Yah Windi sudah merasakan candu akan sentuhan duda beranak satu ini. Hingga ia dengan berani menatap tubuh polos suaminya yang saat ini sudah berdiri kokoh di depannya.
"Peganglah," pintah Arbi membawa tangan mungil Windi ke arah intinya.
__ADS_1
Matanya terpejam seketika merasakan sentuhan yang penuh kelembutan itu. Tak tinggal diam, pria mapan itu pun turut memainkan tangannya pada bagian tubuh Windi yang menonjol. Hilang sudah kekesalan yang menjalar di kepalanya berganti rasa gairah yang ingin segera di tuntaskan.
Cukup lama keduanya bermain tangan hingga berganti menjadi permainan antara bibir. Arbi sangat suka bibir Windi.
"Tuan, saya belum mandi." ujarnya ingin menghentikan permainan namun segera Arbi membungkam bibir ranum itu dan mengangkat tubuh sang istri berbaring di atas ranjang.
Permainan pun bergerak semakin jauh hingga entah siapa yang mulai, tampak tubuh mereka sama-sama polos. Erangan demi erangan mulai bersahutan serta suara decapan bibir yang semakin terdengar seakan membakar gairah yang sudah menyala
Menjelajahi setiap inci tubuh sang istri, permainan pun tanpa terasa sudah semakin jauh. Keduanya sudah menyatu tanpa ada jarak yang menghalangi. Windi menikmati terus setiap hentakan yang Arbi berikan. Tak ingin menjadi penikmat, ia pun inisiatif mengambil kendali permainan.
"Win," Arbi kaget mendapati sang istri yang bergerak ingin menindihnya.
"Biarkan aku memberikan yang terbaik juga, Tuan." Windi tersenyum melihat sang suami yang kaget.
Mendengar ucapan sang istri, tak menolak Arbi sangat menunggu waktu ini. Ia pun membiarkan Windi menguasai tubuhnya hingga beberapa kali pria itu memejamkan mata terbuai dengan sentuhan nikmat itu.
Peluh tanpa sadar sudah mulai membasahi tubuh mereka. Hingga gerakan semakin cepat seiring kasur yang bergelombang mengikuti irama goyangan wanita muda itu.
"Windi! Win..." beberapa kali Arbi menyebut nama itu hingga tubuhnya menegang dan mengerang panjang.
__ADS_1
Gerakan terhenti kala mendapat pelepasan yang membuat tubuh Arbi hampir habis. Ia memeluk erat tubuh sang istri yang juga tak kalah lemasnya.