
Satu jam dua jam hingga tiga jam lamanya pekerjaan yang cukup melelahkan masih belum usai. Bahkan tanpa di awasi lagi oleh Mami Kely, Windi dengan tekun menyetrikan semua baju yang ada di ruangan itu. Sangat banyak dan cukup memakan waktu. Kedua kakinya terasa kaku lantaran terlalu lama berdiri. Sejak di mulainya pekerjaan, ia pun tak pernah mengeluarkan keluhan sepatah kata pun. Hingga terdengar suara langkah mendekati ruangan yang tidak tertutup itu.
"Cepat ke kamar dan bersihkan tubuhmu itu. Arbi akan pulang sebentar lagi, awas kamu jika sampai mengadu." Mami Kely menunjuk wajah Windi dengan penuh ancaman. Patuh Windi berlalu meninggalkan sang mertua tanpa berkata apa pun.
Semua yang ia lakukan hari ini seolah terasa ringan saat melihat wajah yang sudah segar dan berpoleskan lipstik di bibirnya. Yah Windi sengaja mempercantik wajah agar sang suami tidak tahu wajah lelahnya saat ini. Bibirnya pun tampak pucat lantaran dehidrasi dan mengering jika tak memakai pelembab bibir berwarna itu.
"Win, cantik sekali? Wangi lagi." Pujian dari bibir Arbi kala pria itu di sambut kepulangannya oleh sang istri di depan halaman rumah megah miliknya.
Windi yang berdiri dengan tegap kini menunduk mencium punggung tangan sang suami. Benar terlihat seperti tak ada keterpaksaan lagi di hati wanita itu. Windi memilih ikhlas menerima takdirnya dan berusaha berdamai dengan apa yang sudah di gariskan untuknya saat ini.
"Kemarikan tas anda, Tuan. Biar saya bawakan." ujar Windi yang tak menghiraukan perkataan sang suami. Ia terlampau lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Sekedar bersuara pun rasanya enggan ia lakukan namun tak mungkin rasanya menyambut kepulangan suaminya dengan bibir yang terbungkam.
Keduanya pun berjalan memasuki rumah hingga terlihatlah di sana seorang wanita yang tersenyum ramah pada sang anak, namun tidak melihat sama sekali pada wanita di samping anaknya.
"Ar, kamu sudah pulang?" tanyanya basa basi.
"Iya, Mami. Bagaimana seharian di rumah, Mami tidak bertengkar dengan istriku kan?" cecar Arbi yang sama sekali tak menaruh curiga. Ia hanya ingin mendengar apa pendapat sang ibu tentang wanita pilihannya untuk hari ini. Berharap Windi tak membuat sang mami menilai minus pada wanita pilihannya ini.
"Kamu pikir Mami hobi bertengkar? Dan bagaimana mau bertengkar jika istrimu saja seharian mengurung diri di kamar. Apa kamu tidak salah memilih istri seperti itu? Sama saja memelihara ular yang kenyang. Sangat tidak sopan." ketus Mami Kely menarik kedua tangan untuk ia lipat di depan dada.
__ADS_1
Arbi yang mendengar terbungkam. Ia memilih untuk menuju kamar bersama sang istri. Mendengar ucapan sang mami, Arbi tampak ragu. Ia tak ingin menghakimi Windi di depan sang mami dan kini ia bertanya secara langsung di dalam kamar.
"Win?" panggilnya pada wanita yang sibuk melepas satu persatu kancing kemeja milik Arbi. Windi menengadah menatap wajah suaminya.
"Ada apa, Mas? Kamu percaya aku seharian di kamar?" tanya Windi balik tanpa menunggu kata apa yang akan di tanyakan pada suaminya ini. Ia yakin, sedikit Arbi pasti penasaran tentang ucapan sang ibu tadi.
"Aku tidak percaya, tapi apa salah jika aku bertanya agar aku tahu?" Arbi menggenggam tangan istrinya yang usai melepas semua kancing kemeja itu.
"Aku hanya melakukan pekerjaan seperti biasa, Mas. Tidak ada bermalas-malasan. Aku paling tidak bisa berdiam selama satu hari full. Jadi aku harap Mas tidak bertanya apa-apa lagi." jawab Windi yang berjalan menuju kamar mandi mempersiapkan air hangat untuk suaminya.
Terdiam Arbi menatap punggung sang istri. Ia yakin jika wanita yang bersamanya kini adalah wanita pekerja keras. Itulah sebabnya ia yakin menikahi Windi meski usianya jauh darinya.
"Apa yang kamu katakan pada Arbi?" Pertanyaan itu terdengar seketika mengejutkan Windi yang berjalan melamun menyiapkan piring di meja makan.
Sungguh di rumah ini terasa seperti tak ada pelayan sama sekali, bahkan hal kecil sekali pun Windi kerjakan seorang diri.
"Seperti harapan anda, Nyonya. Jika saya tidak mungkin mengatakan sebenarnya." jawab Windi singkat enggan meladeni sang mertua lagi.
Ia merasa kerjaan hari ini yang ia selesaikan bukanlah untuk mengambil hati wanita tua ini, namun justru memperdaya dirinya sendiri tanpa mendapatkan apa pun hal yang baik di mata wanita tua ini. Satu hari Windi kerjakan dengan keikhlasan berharap sang mertua mau melirik dirinya sedikit saja. Sayang, Windi terlalu naif untuk berpikir seperti itu. Seharusnya ia tidak berharap terlalu jauh. Sebab yang benci tak akan bisa melihat nilai positif pada diri kita selain negatif semuanya.
__ADS_1
"Selamat malam, Mi." sapaan yang ternyata berasal dari sosok pria yang satu hari ini tak menampakkan batang hidungnya.
Jenson pulang dengan wajah puas. Entah apa yang membuat mood pria itu membaik. Bahkan pagi tadi saat berangkat ke kantor wajahnya begitu emosi. Dan itu semua tentu karena sang mantan dan ayahnya.
"Kenapa lama sekali baru pulang?" tanya Mami Kely menatap sang cucu yang ingin berjalan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Aku ingin bersenang-senang. Wanita di luar sana begitu beda rasanya, Mami. Kasihan nasib Ayah merasakan wanita yang rasanya hambar." celetuk Jenson seperti bibir wanita.
Mendengar itu Windi hanya acuh, ia tetap melanjutkan pekerjaannya dan duduk di meja makan bersama sang mertua setelahnya. Keheningan pun terjadi kembali saat Jenson menuju kamar dan Arbi belum juga tiba.
Dua wanita yang saling berhadapan dengan beda usia tampak menegangkan. Windi hanya duduk menunduk sementara Mami Kely menatapnya tanpa berkedip.
"Harus dengan cara apa agar kau segera meninggalkan rumah ini dan putraku?" bertanya baik-baik sebab ingin semua lebih mudah.
Mendengar itu barulah Windi berani mengangkat wajah. Meski suara Mami Kely terdengar pelan namun masih jelas sampai di indera pendengaran Windi. "Saya tidak akan meninggalkan pernikahan ini, Nyonya. Saya bersumpah tidak akan mau menikah lebih dari satu kali. Pernikahan ini patut saya pertahankan." tegas Windi mengatakan sembari menatap dalam kedua manik mata sang mertua.
Mendengar kata itu, Mami Kely nampak mencebikkan bibir remeh mendengar ucapan sang menantu yang tak ia anggap. "Patut karena harta? jangan bermimpi untukmu bisa mendapatkan satu persen pun kekayaan keluargaku. Arbi tak akan ku biarkan melakukan itu." tekan ucapan Mami Kely.
Perbincangan serius yang hendak kembali berlanjut terpaksa harus terhenti kala Arbi bersuara. "Wah rupanya ada yang sudah mulai akrab nih?" celetuk Arbi bertanya tanpa ekspresi seperti biasanya.
__ADS_1