Step Mother

Step Mother
CCTV Benyawa


__ADS_3

Melewati makan malam demi mengamankan diri kini perut lapar milik Windi terasa berdemo. Semakin ia tahan semakin terasa perih hingga beberapa kali wanita itu tampak membolak balikkan tubuhnya untuk memejamkan mata. Namun, tetap saja kedua mata itu tak bisa menuruti permintaannya. Lapar yang melanda tanpa bisa lagi Windi tahan.


Ia bangkit dari tempat tidur dan mencoba mendekati pintu. Mendengarkan kalau saja ada suara Jenson. Namun, rupanya keadaan di luar sana tak menandakan keberadaan pria itu.


Pelan tangannya membuka handle pintu. Kepala paling dulu ia keluarkan menengok keadaan dan aman, ia pun segera berjalan cepat menuju meja makan.


Hidangan yang tampaknya belum tersentuh sama sekali membuat Windi buru-buru mengambil ke piring dan hendak membawa masuk ke dalam kamar.


"Euh..." beberapa kali suara lenguhan terdengar di kala kaki Windi hendak melangkah. Keningnya pun mengernyit.


"Siapa yah? Aku tidak salah dengar kan?" gumamnya yang mendekati sumber suara. Semakin melangkah suara itu semakin dekat di indera pendengarannya.


"Honey, mengapa? Ayo pegang dadaku?" seorang wanita duduk di pangkuan pria saat itu. Mata Windi membola setelah sadar siapa pria yang ia lihat saat ini. Matanya memerah melihat Jenson mendapat perlakuan mesra dan intim dari seorang wanita yang ia tak tahu siapa itu.


Ruang keluarga yang tersekat dengan meja makan menjadi saksi bisu adegan demi adegan yang wanita seksi itu berikan pada Jenson. Tampak Jenson yang duduk hanya diam menikmatinya, tak lupa mata Windi melihat satu botol minuman alkohol sudah kosong di meja depan Jenson duduk.


"Jenson, apa yang dia lakukan?" gumam Windi tak habis pikir. Kepalanya menggeleng tak percaya bagaimana bisa Jenson berbuat seperti itu bahkan di rumah sendiri.


Pikiran Windi  menerka bisa saja wanita itulah yang mencoba merayu Jenson dengan dalih untuk minum saja. Hingga tanpa sadar Windi berjalan cepat mendekat dan mendorong wanita itu.


"Minggir!" pekik Windi kasar.


"Awh!" wanita yang tengah dalam keadaan bergairah tampak meringis saat tubuhnya terdorong tanpa persiapan. Ia tersungkur di lantai dengan menatap nyalang sosok Windi.


"Pergi dari sini!" teriak Windi kesal.

__ADS_1


"Pergi? siapa anda? Saya harus menyelesaikan waktu saya dengan Jenson. Anda yang pergi dan jangan mengganggu waktu kami berdua." celetuk wanita itu tersenyum sinis.


Melihat penampilan Windi yang sederhana dan wajah lembut membuatnya tak bisa takut sama sekali. Bahkan dalam pikirannya Jenson tentu akan memilihnya yang jelas sudah ia panggil ke rumah ini.


"Hei apa yang kau lakukan? Pergilah!" Akhirnya Jenson pun angkat suara.


Windi menoleh. "Jen, tidak baik seperti ini. Biarkan dia pergi." ujar Windi yang ingin melindungi sang mantan. Windi sadar ini semua pasti karena dirinya.


Tawa sinis Jenson tunjukkan pada Windi. "Cih tidak baik? Lalu yang baik itu menurutmu seperti apa? Menjual diri dengan menikahi pria tua? Iya?"


Kedua pundak Windi tersentak kaget mendengar teriakan Jenson, ia meneteskan air mata kembali lagi. Hingga tak bisa menghentikan Jenson yang justru sudah menggendong wanita itu ke dalam kamarnya. Pandangan berair mata Windi terus memperhatikan langkah Jenson yang semakin menjauh ke arah kamar pria itu.


Tak lupa pandangan mengejek wanita itu berikan pada Windi, seolah mengatakan ia adalah pemenangnya. Dan pada akhirnya pintu kamar tertutup tinggallah Windi seorang diri di ruang keluarga itu. Rasa lapar yang membuatnya keluar tiba-tiba hilang entah kemana. Ia pun kembali meletakkan piring itu di meja makan dan menuju kamarnya sendiri.


Berusaha ikhlas, nyatanya tak semudah yang ia bayangkan. Selama ini ia berusaha kuat lantaran melihat Jenson masih seorang diri. Namun, malam ini Windi merasakan apa yang Jenson rasakan. Melihat sang mantan kekasih yang masih sangat ia cintai bermesraan dengan orang lain. Rasanya begitu sakit menyesakkan dada.


"Auh Jenson, apa yang kau lakukan?" di dalam kamar Jenson tampak wanita yang bersamanya berteriak mengaduh sakit. Kala tubuhnya terhempas kasar di atas lantai kamar beralaskan ambal mewah.


"Cepat layani aku! Jangan melebihi batasmu!" pekik pria itu memperingatkan agar tak ada pelayanan hubungan suami istri. Ia hanya meminta di puaskan dengan cara sederhana dan tak berisiko tentunya.


Mendengar itu wanita di depannya tampak menghela napas. Sebelumnya ia mengira jika Jenson tak akan bisa mengendalikan diri lagi usai mendapat sentuhan-sentuhan sensual darinya. Nyatanya pria di depannya masih cukup baik mengendalikan dirinya.


Hingga melewati waktu tepat pada pukul sepuluh malam, di luar rumah tampak sosok pria gagah memasuki rumah usai turun dari mobil. Ia melangkah menuju kamar dengan langkah tegapnya.


"Selamat malam, Tuan." sapa salah satu pelayan yang membuka pintu padanya. Tak ada sahutan melainkan acuh pria itu menuju kamar dan memutar handle pintu. Rupanya tak terkunci.

__ADS_1


Di bukanya kamar utama, di sana sosok wanita tertidur dengan air mata yang masih tersisa di ujung matanya. Pelan tangannya mengusap air mata itu dan mencium kening.


"Hah? Tu-tuan?" Windi terlonjak kaget menyadari ada sosok pria yang datang tanpa ia ketahui.


"Tidurlah, aku akan membersihkan tubuhku." Pria itu tak lain adalah Arbi.


Bagaimana Windi tak terkejut, setahunya sang suami berada di luar kota dan akan pulang beberapa hari ke depan. Dengan setengah sadar Windi beranjak dari tempat tidur untuk segera menyiapkan pakaian sang suami. Tak bisa ia tahan kesedihan masih bisa di rasakan dengan jelas. Bahkan bayangannya saat ini Jenson tengah menikmati malam yang indah sepertinya dengan sang suami.


"Ada apa? Ada yang sakit?" tanya Arbi entah mengapa terdengar begitu perhatian.


Windi tampak menggelengkan kepala pelan. "Tidak," jawabnya.


Pelan namun pasti tangan kekar Arbi memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Tanpa perduli jika tubuhnya saat ini belum mengenakan pakaian hanya berlapis dengan bathrobe saja. Windi mematung di tempatnya tak bisa membalas pelukan itu.


Hening beberapa saat hingga akhirnya Arbi bersuara, "Maaf, pernikahan ini memang bukan keinginanmu. Tapi biarkan semua berjalan dan jangan pernah menyesalinya. Sebab aku akan menjadi pria yang bertanggung jawab atas istriku." ucapan serius terdengar begitu meyakinkan.


Windi tak membalas ucapan Arbi sama sekali, sebab ia sendiri pun bingung harus berkata apa.


Tak ada percakapan, Pria itu memilih membawa tubuh sang istri ke tempat tidur dan mencumbunya. Perasaan sesak terasa begitu memenuhi dada Windi saat ini. Air mata kembali jatuh untuk kesekian kalinya. Bagaimana mungkin dirinya bisa melayani sang suami sementara pikirannya tertuju semakin dalam pada kamar di mana Jenson menghabiskan malam yang sama dengan seorang wanita asing menurutnya.


Jarum jam yang terus berputar kini tampak melewati waktu malam. Dengan pagi yang sedikit mendung semua penghuni rumah megah itu sudah bangun dari tidur singkat mereka. Hidangan di meja makan  menyapa mata Windi dan sang suami pagi itu. Bergadang semalam menghabiskan malam panas membuat tubuh Windi tak mampu bangun di pagi hari.


"Dimana Jenson, Bi?" tanya Arbi yang duduk di meja makan bersama Windi. Bahkan pria itu pun tak meceritakan penyebab ia pulang semalam pada sang istri. Dan Windi sendiri tak berani untuk sekedar bertanya pada Arbi. Hanya diam yang bisa ia lakukan seolah menjadi boneka yang hanya bisa melayani tanpa berbicara.


"Pergilah, aku harus bekerja." Suara dari arah kamar sontak menjawab pertanyaan Arbi pagi itu. Matanya seketika bertemu dengan mata Jenson yang juga kaget melihat kehadiran sang ayah.

__ADS_1


Melihat sepasang suami istri yang begitu memuakkan, tentu saja Jenson justru membuat drama baru lagi. Bibirnya tampak mencebik menatap ke arah Windi.


"Wah wah rupanya ada cctv bernyawa di rumah ini." sindiran Jenson pada Windi begitu jelas sembari matanya menatap sosok wanita yang dulu pernah menjadi belahan jiwanya.


__ADS_2