Step Mother

Step Mother
Pertengkaran


__ADS_3

Kekejaman tanpa belas kasih tak terasa sudah berjalan kurang lebih seminggu lamanya. Bahkan setiap hari Windi menahan perih di perutnya seperti hari-hari sebelumnya. Meski sabar masih banyak dalam dirinya, pelan ia mulai merasa tak kuat menahan semuanya. Keikhlasan yang ia tanamkan dalam diri selama menerima perlakuan tak mengenakkan dari sang mertua akhirnya hilang entah kemana.


Hari ini, Windi memutuskan untuk bicara serius dengan Mami Kely. Tak ada gunanya rasanya jika mengadu ke sang suami. Windi yakin semua justru akan membuat masalah semakin besar dan wanita tua itu akan semakin mencari cara yang mungin sulit di kendalikan.


"Nyonya, boleh saya bicara?" tanya Windi kala pekerjaan merapikan tempat tidur dan seisi kamar sang mertua hampir selesai.


Mami Kely yang semula duduk di kursi meja rias tampak menatapnya sinis. "Atas dasar apa kau berani bertanya begitu? Sadar siapa kau dan aku?" sentak Mami Kely tak membuat Windi goyah sama sekali.


"Maaf jika saya lancang. Mari berdamai, saya lelah seperti ini." ucap Windi dengan sopan meski wanita di depannya tak menilai sopan santunnya sama sekali.


"Tidak ada perdamaian selama kau berada di sini." tekan Mami Kely sekali lagi.

__ADS_1


Berulang kali tampak Windi menarik napas lalu menghembuskan secara perlahan, ia pun akan tetap bicara meski lawan bicaranya saat ini tak menggubris ucapannya.


"Nyonya, katakan apa yang harus saya lakukan agar saya bisa tetap mempertahankan pernikahan saya dan Tuan Arbi? Saya memang wanita yang tidak mampu, tapi saya memiliki harga diri dimana saya harus tetap menghargai pernikahan dan memperjuangkan hak saya. Saya mencintai suami saya dan begitu juga sebaliknya. Saya menghormati anda maka dari itu restu dari anda akan tetap berharga bagi saya."


Bukannya tersentuh mendengar penuturan Windi, Mami Kely tiba-tiba merasa darahnya mendidih. Ia mengayunkan tangannya menampar pipi sang menantu. Tak siap mendapatkan serangan Windi seketika merintih. Ia sungguh tak menyangka bahkan mengingat kata apa yang membuat Mami Kely semarah itu padanya.


"Kau benar-benar wanita tidak tahu malu. Pergi dari sini!" teriakan menggema yang hanya terdengar di dalam kamar itu tak membuat Windi takut.


Melihat Windi yang sama sekali tak goyah, Mami Kely justru melakukan penyerangan bertubi-tubi. Ia menjambak rambut Windi hingga melukai beberapa bagian wajah wanita itu. Windi yang terbaring di lantai mendapat serangan kesulitan menghindar. Hingga akhirnya ia refleks menendang perut wanita tua itu.


"Argh!!!" Mami Kely merintih sakit merasakan punggungnya terbentur oleh tembok.

__ADS_1


"Nyonya!" Windi bangkit dan mendekati sang mertua.


Di sana Mami Kely sama sekali tak bisa bergerak. Rintihan terus ia keluarkan sampai membuat Windi sendiri sangat panik.


"Nyonya, maafkan saya. Saya tidak sengaja." ujarnya bingung harus melakukan apa saat ini.


Mencari bantuan adalah jalan satu-satunya yang bisa Windi lakukan. Ia berlari membuka pintu kamar dan berteriak memanggil siapa pun di luar sana.


"Tolong! Tolong, Nyonya." teriaknya yang langsung mendapatkan sambutan dari para pelayan.


Berbondong-bondong mereka datang dan masuk ke dalam kamar. Semula semua kaget, namun melihat bagaimana wajah Windi yang berantakan mereka bisa menduga jika baru saja terjadi suatu adegan brutal di kamar ini antara kedua wanita di hadapan mereka.

__ADS_1


"Tolong bantu Nyonya ke atas tempat tidur." pintah Windi yang langsung sigap mereka kerjakan.


__ADS_2