
Kemarahan tampak jelas di wajah Arbi pagi itu, tak bisa bersabar tangannya bergerak sangat cepat mengayun pada pipi Jenson.
Plak!!
Windi membungkam bibirnya syok melihat kejadian di depannya. Sementara Jenson tampak memegang pipinya dan menatap nyalang pada sang ayah.
“Apa yang kau lakukan, Jenson? Mengotori rumah ini? Apa begini tingkahmu di belakang? Hah! Jawab?” Arbi berteriak keras.
Suasana begitu hening seketika. Wanita yang ketakutan di dekat Jenson secepat mungkin berlari.
Bukannya takut mendapat tamparan, Jenson justru tersenyum kecut.
“Mengotori rumah? Bukankah rumah ini sudah sangat kotor? Wanita seperti dia lebih kotor dari wanita bayaranku!” Telunjuk Jenson menunjuk tepat pada wajah Windi.
Air mata menetes, mendengar penghinaan dari pria yang selama ini bersikap baik padanya.
Tentu saja Arbi tidak bisa menerima perkataan sang anak. “Tutup mulutmu!”
“Lihat, karena wanita kotor ini kau pulang bukan? Yah aku tahu kalian pasangan yang serasi.”
“Kurang ajar!” Arbi memaki mendengar penuturan tak sopan sang anak. Tangan dan kakinya bergerak serentak memberi pukulan dan tendangan. Windi panik bukan main.
“Tuan, hentikan. Tolong hentikan, Tuan.” Ia menjerit setengah mati memisahkan keduanya. Bahkan Jenson tak meminta ampun kala sang ayah terus menendang tubuhnya. Sudut bibir yang terkena tamparan mengeluarkan darah.
“Minggir, Windi. Minggir! Dia pantas mendapatkan ini semua.” Arbi mendorong tubuh Windi namun wanita itu tak mau melepaskan tangannya. Ia terus menarik paksa tubuh sang suami hingga tamparan yang seharusnya mendarat di wajah Jenson terkena pipi wanita itu.
“Win,” Arbi terdiam menurunkan tangannya. Di lihat Windi tampak tersungkur di lantai memegangi pipinya.
Meninggalkan Jenson dengan meraih wajah sang istri. Pipi merah bahkan terlihat jejak tangan besar di sana. Arbi merasa sangat bersalah saat ini. Ia membawa sang istri berdiri dan menuju kamar meninggalkan Jenson yang masih berbaring tak berdaya.
Suara ringisan terdengar beberapa kali namun tak ada yang menolong.
Di dalam kamar.
__ADS_1
“Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Mana biar aku obati.” Arbi mengompres pipi wanita itu dengan penuh kelembutan. Beberapa kali Windi tampak kesakitan meringis.
“Anak itu benar-benar keterlaluan.” Makinya terdengar oleh sang istri.
“Tuan, Jenson tidak salah. Aku yang hadir di rumah ini membuatnya tidak suka.” bela Windi mengerti Jenson semakin salah paham padanya.
Arbi menggelengkan kepala saat mendengar penuturan sang istri.
“Tidak, dia keterlaluan. Akan ku beri pelajaran setelah ini.”
Manik mata Arbi bergerak menatap tangan yang Windi genggam. Gelengan kepala Windi perlihatkan. “Jangan, Tuan. Jenson tidak salah. Ini semua karenaku. Biarkan ia tenang tidak mudah memang menerima ibu tiri. Jenson pasti berprasangka buruk padaku. Meski pada kenyataannya aku memanglah buruk. Tapi…”
“Ssst, tidak. Kau tidak buruk. Kau istriku. Kau ibu Jenson. Dia harus bisa menerima mu.”
Setelah merasa cukup baik, Windi meminta sang suami untuk menghentikan kompresan di pipinya. Namun, siapa sangka jika Arbi saat ini tengah mendaratkan kecupan sayang di pipi sang istri. Yang mana membuat kedua bola mata Windi membulat sempurna.
Bukannya meminta maaf telah lancang, justru pria itu tersenyum tanpa dosa padanya.
“Hari ini aku tidak kerja. Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?” Perasaan bersalah tengah menampar wanita ini membuat Arbi seakan hilang sisi dinginnya.
“Hey?” Tersentak tubuh Windi ia mengerjap.
“Hah iya, Tuan? Ada apa?” tanyanya.
“Mau pergi ke suatu tempat?” tanya Pria itu membuat Windi terfokus pada satu tujuan. Rumah, yah ia ingin mengunjungi adik dan ibunya tentunya.
Ragu namun pasti Windi mengangguk samar. Kening Arbi mengernyit. “Kemana?”
“Rumah Ibu.” jawab Windi tanpa basa basi.
“Baiklah!” Wajah yang semula terus menunduk membuat Windi menengadah terasa seperti mimpi. Ia sedang baik-baik saja kan? Pendengarannya tidak salah kan? Apa begitu mudahnya Arbi akan menuruti permintaannya untuk ke rumah orangtuanya?
“Ayo, bersiap. Tunggu apa lagi?” tanya Arbi dengan wajah yang hangat. Pagi ini Windi benar-benar di buat syok dengan tingkah sang suami yang jauh berbeda dari biasanya.
__ADS_1
Pria yang selalu angkuh dan dingin entah mengapa saat ini berubah jadi sosok suami yang baik. Apakah ini maksud ucapannya akan menjadi suami yang bertanggung jawab? Jika benar rasanya semua akan jauh lebih mudah.
Singkat cerita keduanya pun sudah berada di dalam mobil. Arbi dan Windi duduk di bagian belakang sementara di depan pak sopir mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan sedang.
Dari arah rumah, salah satu tirai jendela terbuka kecil. Jenson tengah mengintip mobil sang ayah yang sudah meninggalkan rumah megah mereka.
“Wanita ular. Bisa-bisanya dia menargetkan pria tua seperti ayah? Ini keterlaluan.” Jenson menggerutu kesal. Amarahnya semakin menjadi namun untuk saat ini rasanya ia tidak bisa melakukan apa-apa dulu. Sebab seluruh tubuhnya terasa begitu sakit.
Beruntung ada pelayan yang membantunya untuk masuk ke kamar tadi. Jika tidak, sampai saat ini Jenson pasti masih terbaring di lantai luar.
Tiga puluh menit waktu yang di habiskan oleh Windi dan Arbi selama perjalanan. Kini keduanya tiba di halaman rumah sederhana. Bahkan jauh dari kata sederhana. Sebab dari segala sudut rumah itu tampak banyak kerusakan.
Air mata Windi menetes kembali melihat punggung wanita tua yang tengah menjemur pakaian di halaman rumah. Rapuh dan tak berdaya. Bahkan tubuh sang ibu sudah begitu kurus. Meski ia tinggal baru beberapa hari.
“Tenanglah. Aku akan lakukan semuanya.” genggaman tangan Arbi pada punggung tangan Windi sebelum mereka turun membuat perhatian wanita itu teralihkan dari sang ibu.
Dan di saat itu juga, beberapa mobil datang di belakang mobil mereka.
“Tuan, itu siapa?” tanya Windi penasaran melihat banyak laki-laki yang datang turun dari mobil.
“Ayo.” Tanpa menjawab, Arbi menggenggam tangan sang istri keluar dan menuju sang ibu.
“Win?”
“Bu,” keduanya berpelukan haru meneteskan air mata.
Sementara Arbi tampak dengan gagahnya berdiri. Tanpa mereka sadari kedatangan mereka yang ramai justru mengundang perhatian para tetangga. Bisik-bisik dan lirikan sinis membuat Arbi sangat risih. Terlebih Windi yang memang menyadari bagaimana status dirinya saat ini.
“Win, ini?” Sang ibu menunjuk pada Arbi dengan bingung.
Windi diam sejenak bingung harus memperkenalkan dengan sebutan apa.
“Saya suami Windi, Bu.” sahut Arbi dengan mantap.
__ADS_1
Wajah tampan penampilan modis serta kulit dan tubuh yang sehat bugar sangat membuat sang ibu terpesona. Bahkan ia tak tahu jika usia pria di depannya saat ini sangat tinggi dari sang anak.
Senyuman hangat wanita itu berikan pada Arbi dan mengangguk. “Jadi ini pilihan anak Ibu? Matang yah? Ibu senang.” ujarnya membuat Windi sulit untuk ikut tersenyum.