
Meski berusaha menolak, sayang kedua tubuh itu tak mampu berkutik di kala seluruh anggota Arbi memaksa mereka menaiki pesawat bahkan mengawasi keduanya hingga tiba di tempat tujuan.
Yah semenjak kepergian keduanya, Windi sangat damai menikmati perannya sebagai istri. Statusnya bukan hanya istri dari Arbi melainkan wanita yang tengah berbadan dua.
Dimana ia akan sangat merepotkan sang suami dengan ngidam yang menurut Arbi super sulit untuk di tangani.
Bukan mencari makanan dimalam hari, bukan pula meminta beli ini itu. Windi hanya mengidam di setiap malam melihat kantor sang suami tetap terisi para karyawan yang lembur. Ia sangat benci jika malam hari melihat kantor sepi.
Sampai suatu hari dimana masa ngidam di mulai.
“Tuan, mengapa sudah sepi? Aku bahkan baru saja tiba di sini.” Windi baru saja tiba di kantor tepat pada pukul lima sore.
Dimana seluruh karyawan tentunya akan memilih pulang mengistirahatkan tubuh mereka.
“Sayang, kau datang? Iya semua sudah pulang. Ini kan sudah sore. Ayo kita pulang.” ajak Arbi hendak menarik tangan sang istri keluar ruang kerja dimana pria itu baru saja menutup laptopnya.
__ADS_1
Namun, langkah kaki Arbi terhenti saat merasa tubuh Windi tak ada pergerakan sama sekali. Windi menatap nanar sang suami.
“Ada apa, Win?” tanyanya dengan nada suara yang sabar.
“Aku bosan di rumah. Setiap hari harus melihat rumah.” ujarnya dengan suara yang terdengar sedih.
Arbi yang notabennya sebagai suami bucin segera mendekat dan mengusap kedua sisi rambut Windi.
“Maunya apa? Hem? Liburan? Kita liburan kemana? Sebutkan saja.” pintahnya yang begitu mudah meminta sang istri menyebut.
Windi bukannya langsung mengatakan kemauan, justru ia menggelengkan kepala.
Perkataan itu hanya di tanggapi santai oleh Arbi. Sebab pria itu masih menganggap ucapan sang istri hanya candaan belaka. Hingga tawa pria paruh baya itu terhenti saat melihat ada air mata yang jatuh di kedua pipi wanita hamil di depannya kini.
“Sayang, kamu serius, Win?” tanyanya menatap dalam kedua bola mata Windi.
__ADS_1
Pelan Windi menganggukkan kepalanya mengiyakan. “Aku ingin kantor ini ramai seperti siang, Tuan.” keluhnya yang menyampaikan keinginan aneh itu.
Sejenak Arbi terdiam memikirkan ucapan sang istri hingga akhirnya ia pun menyanggupi.
“Sekarang kamu duduk di sini. Okey? Saya akan suruh mereka semua kembali segera.” Wajah yang sedih semula kini sudah berubah cerah. Windi patuh duduk menunggu sang suami yang menelpon beberapa orangnya untuk memberi tahu jam kerja tambahan. Tentu ia juga harus memberi upah yang tak sedikit.
“Huh akhirnya selesai juga misi calon anakku. Semoga besok-besok kamu tidak meminta yang aneh-aneh lagi sama Papah yah?” gumam Arbi menatap Windi yang sibuk dengan cemilan di pangkuannya.
Wanita itu tengah asik duduk di sofa dengan kaki yang ia selonjorkan. Malam ini Windi akan sangat senang sebab ia tak lagi melihat rumah sepanjang malam. Entah mengapa tiba-tiba saja ia muak melihat tempat tinggalnya yang baru itu.
Sementara Arbi yang berstatus sebagai duda, tentu saja paham jika sang istri bertingkah aneh, pasti dari calon anak mereka.
Dan dalam waktu dua puluh menit akhirnya semua pekerja tiba di perusahaan dengan berbondong-bondong menduduki tempat kerja mereka masing-masing.
“Sayang, mereka sudah tiba. Tapi kita tidak boleh meminta mereka sampai larut malam yah? Kasihan mereka besok pagi juga harus bekerja.” ujar Arbi memberi pengertian pada sang istri.
__ADS_1
“Kalau begitu buat saja mereka masuk siang. Biar besoknya lagi tidak apa-apa jika lembur lagi.” Semakin kaget mendengar ucapan sang istri. Arbi pikir Windi meminta para karyawannya lembur hanya malam ini. Ternyata tidak. Dan entah sampai kapan waktu yang Windi inginkan untuk mereka lembur di kantor.
“Jadi maksud kamu bukan hanya malam ini saja?” tanya Arbi dan Windi menganggukkan kepala membenarkan.