Step Mother

Step Mother
Berusaha Menunjukkan Yang Terbaik


__ADS_3

Kepergian Arbi dan Windi membuat Mami Kely menghela napas kasar. Ia duduk kembali di sofa dimana Jenson tengah menatap tanpa ekspresi.


"Jangan  bilang Mami akan luluh melawan ayah." cibir Jenson yang langsung mendapat balasan tatapan tajam dari sang nenek.


Diam tak ada yang di ucapkan wanita tua itu. Sepertinya ia tengah berpikir keras saat ini, hingga pada akhirnya ia pun memilih melamun dan membuat Jenson kesal. Pria tampan itu memilih meninggalkan sang nenek di sofa menuju kamarnya.


Beralih ke kamar bukan untuk tidur, Jenson justru kembali lagi keluar kamar setelah berhasil mengambil dompet dan juga jaket untuknya jalan. Sontak melihat sang cucu keluar di malam yang larut Mami Kely nampak kaget. Matanya mendelik menatap Jenson.


"Jen, mau kemana?" tanya Mami Kely yang berdiri seketika.


"Mau ketemu teman-teman, Mi. Ada acara malam ini." jawabnya acuh.


Segera tangan Mami Kely mengangkat pergelangan tangan yang terdapat jam mewah di sana. Matanya kembali mendelik lebih bulat lagi. "Acara? ini sudah hampir menjelang subuh, Jen. Tidak, Mami tidak setuju kamu acara larut malam seperti ini. Ayo cepat masuk ke kamar lagi." pintah Mami Kely yang di tolak oleh Jenson.


"Mami, cucu Mami ini sudah dewasa. Bukan anak SMA kayak dulu yang selalu di rumah sebelum sore." tutunya berusaha berkata dengan sopan.


Tak ada yang perhatian padanya lagi selain sang nenek. Dan Jenson sangat sayang pada wanita tua yang tengah bertentangan dengannya saat ini. Kekeuh Mami Kely tetap tak mengijinkan sang cucu keluar.


"Jen, ayo masuk kamar. Kalau tidak Mami akan ikut kamu keluar malam ini juga ke acara kamu itu." tutur Mami Kely yang membuat kedua bola mata Jenson membulat.


Ya tidak mungkin kan ia membawa sang nenek ke club malam bertemu teman-temannya. Bisa jadi dirinya akan menjadi bahan ledekan teman-teman di sana.


Dengan perasaan lemas Jenson membalikkan tubuh melangkah kembali ke dalam kamar. Ia menutup pintu kamar rapat dan hal itu rupanya tak membuat Mami Kely puas. Ia menyusul masuk ke dalam kamar sang cucu. Rasanya sulit percaya jika Jenson akan patuh padanya.

__ADS_1


"Mami, kok masuk?" Jenson terlonjak kaget melihat pintu kamarnya terbuka kembali.


Bukannya menjawab, Mami Kely justru diam dan hanya tangannya saja yang bergerak mengambil kunci kamar dan menutup pintu kamar itu. Bibir Jenson terbuka lebar syok melihat pintu kamarnya yang terkunci dari luar.


"Astaga." umpatnya tak habis pikir. Jenson terduduk di tempat tidurnya dan merebahkan tubuh yang lemas itu.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Kini waktu sudah beranjak pagi. Semua bangun dengan semangat baru tentunya. Tak terkecuali Windi yang sudah lebih dulu berkutat di dapur bersama pelayan. Dengan tekun tangannya bergerak memasak sarapan yang sehat tentunya.


Tinggal di rumah sang suami, ia terbiasa memasak masakan yang lebih mengutamakan kesehatan yang memakan tanpa mempertahankan masakan yang ia sukai seperti serba minyak dan serba pedas. Hingga pelan ia pun terbiasa mengikuti makanan di rumah itu.


Keasikan para pelayan memasak, membuat mereka tak sadar jika ada seseorang yang baru saja datang di dapur.


"Ehem..." deheman yang terdengar mengheningkan dapur seketika kala semua yang di dapur membalik badan dan  melihat siapa yang berdiri di sana.


Semua pelayan menundukkan kepala begitu juga dengan Windi yang sadar akan dirinya yang belum mendapatkan restu. Sayang wanita tua di depan sana begitu acuh padanya.


"Maaf Nyonya, tadi sarapan anda sudah di buatkan oleh Nyonya muda. Rasa dan semua bumbu sudah saya bantu, Nyonya." pelayan tampak menunjuk sarapan untuk wanita tua itu yang tengah di tata di atas piring oleh salah satu pelayan lainnya.


Melihat itu Mami Kely tak tertarik sama sekali. "Saya bilang buatkan saya sarapan seperti biasa, Bi. Saya tidak mau tahu." ketus wanita itu menjawab dan meninggalkan dapur. Sementara pelayan tampak mengangguk patuh.


"Tidak apa, Bi." jawab Windi yang sadar akan masakannya mungkin belum mau di terima juga.


Singkat waktu, kini semua hidangan sudah tertata rapi di meja makan. Windi pun turut bekerja menata makanan di meja makan. Dari jauh Arbi yang melihat sang istri bekerja kesana kemari segera mendekat.

__ADS_1


"Win, apa yang kamu lakukan?" tanyanya seketika.


"Saya hanya mengambil bagian saya saja, Tuan. Tidak ada yang berat-berat." jawab Windi apa adanya.


Sayang obrolan keduanya di tangkap oleh indera pendengar Mami Kely yang tengah duduk di meja makan. Wanita tua itu bediri dari duduknya dengan tangan yang ia lipat di depan dada keduanya.


"Memangnya kamu mau dia melakukan apa di rumah ini, Arbi? Jangan pernah meratukan wanita yang dari sananya berniat tidak baik. Kamu jangan pernah menjadi penguasa di rumah ini atas semua isi rumah ini selama ada mami di sini. Ingat! Termasuk semua yang tinggal di sini juga." Arbi tampak memijat keningnya sakit mendengar ucapan sang mama.


Windi yang tahu bagaimana kerasnya wanita tua di depannya saat ini segera mengangguk kecil pada sang suami. Berharap Arbi akan diam dan membiarkan Windi melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.


Dengan berat Arbi pun meninggalkan sang istri ke meja makan, tak lupa tangannya mengusap kepala sang istri dan berkata, "Jangan terlalu lelah. Jika lelah segeralah beristirahat." patuh Windi tersenyum dan mengangguk.


Mami Kely pun tampak meninggalkan Windi menuju ke meja makan kembali. Duduk tenang dan memulai sarapannya.


Sedangkan Jenson yang terakhir tiba tampak menatap sang nenek kesal. Pintu kamar yang entah jam berapa di buka ia pun tidak sadar.


"Mi, Arbi akan segera ke kantor. Tolong perlakukan Windi dengan baik di rumah." pesannya sebelum usai menenggak air putih.


Mami Kely pun hanya merespon dengan acuh, ia terus mengunyah makan lezatnya saat ini.


Merasa usai dengan kegiatan di rumah, Arbi bergegas pergi ke kantor mencium pucuk kepala sang ibu dan berlalu ke arah Windi yang masih berkutat di dapur. Ia tak malu di depan para pelayan menicum kening istrinya. Arbi pergi dengan di antar oleh Windi.


Kini keduanya berada di depan pintu utama rumah besar milik Arbi. "Kamu belum sarapan, pergilah sarapan setelah ibu dan Jenson tidak di meja makan. Malam ini aku akan mengajak mu makan malam di luar." begitu perhatian Arbi berucap pada sang istri.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya akan sarapan setelah ini." ujar Windi patuh.


"Yasudah, selesai di dapur istirahat dan jangan lupa makan siang yang saya minta tadi malam di bawakan ke kantor yah?" Windi lagi mengangguk tanpa tersenyum.


__ADS_2