
Singkat waktu yang berjalan, tak terasa malam yang di tunggu telah tiba bagi Arbi, namun tidak dengan Windi. Seharian wanita itu tampak gelisah bahkan ingin sekali memberikan alasan agar tidak pergi. Dress yang sudah tergantung rapi masih tak ia sentuh juga. Beberapa kali Windi tampak bolak balik di dalam kamar.
Seketika gerakan tubuh wanita itu terhenti kala mendengar suara pintu kamar yang terbuka.
“Tuan?” ujarnya kaget sembari mengusap keringat sedikit di keningnya. Arbi datang ia masuk ke dalam kamar dan mendekati sang istri.
Satu langkah Windi mundur kala melihat sang suami melangkah semakin dekat padanya.
“Ada apa? Tanganmu sangat dingin?” tanya Arbi cemas. Sontak Windi menggeleng meski dalam hatinya wanita itu sangat ingin menganggukkan kepalanya agar batal pergi malam ini.
Manik mata sang suami bergerak menoleh ke arah dress yang masih tergantung rapi. “Kau belum memakainya? Apa karena sakit? Kita ke rumah sakit saja.”
Gugup Windi menggeleng seraya menelan kasar salivahnya. Ia sungguh bingung mendengar kata rumah sakit. Keringat pun semakin banyak keluar dari keningnya.
“Tuan, saya baik-baik saja.” ujarnya.
Arbi pun menghela napas kasar. “Yasudah sekarang ganti pakaian dan bersiaplah. Kita harus segera berangkat ini acara penting dan saya akan bertemu dengan pengusaha dari beberapa negara. Aku harap kau mau menemaniku.”
__ADS_1
Mendengar bagaimana suaminya bertutur kata penuh permohonan, Windi akhirnya mengangguk.
“Sudahlah anggap saja aku membalas kebaikan Tuan Arbi pada keluargaku. Jika tidak dengan hal kecil ini dengan apa lagi aku bisa membalasnya?” ucap Windi dalam hati.
Pelan wanita itu tampak mempersiapkan diri dengan sapuan make up sewajarnya, namun Arbi suka itu. Bibir yang berwarna pink serta bedak yang tidak begitu tebal. Melihat sang istri bersiap, ia pun tersadar dari lamunan lantas melangkah menuju kamar mandi.
Seharian bekerja di kantor rasanya begitu segar kala bertemu dengan air serta sabun di tubuhnya.
Sementara di luar tampak Windi menghentikan aktifitasnya, ia bergegas menyiapkan pakaian sang suami lalu kembali menata rambutnya.
Lagi Windi tak sengaja berselisih dengan Jenson.
“Ayo, Sayang.” Arbi menggandeng tangan istrinya serta melirik sinis sang anak.
Jenson tampak tersenyum kecil seolah mengejek sang ibu tiri. Matanya menatap dari atas hingga ke bawah, bagaimana Windi berpenampilan sangat beda saat ini.
Merasa lelah, Windi memutuskan untuk acuh. Ia mengikuti langkah sang suami. Keduanya meninggalkan rumah megah milik Arbi dengan perasaan seperti biasa. Selalu ada batas di antara keduanya.
__ADS_1
Meski Arbi berusaha keras ingin memperlakukan istrinya dengan baik, namun kekakuan di dirinya begitu mendominasi sampai saat ini.
Jenson yang hanya berdiri di pintu rumah kini justru berteriak marah.
“Argh!! Kenapa harus begini?” ia tampak memaki takdir yang begitu tega padanya.
Sejenak suasana hening, para pelayan pun seketika menjauh kala mendengar kemarahan sang tuan muda mereka.
***
Pandangan gugup tampak jelas di kedua bola mata Windi. Ia berdiri mematung sebelum langkahnya memasuki ballroom yang tampak ramai di depan sana.
Arbi turut berhenti. Ia menggenggam tangan sang istri. Namun, Windi pelan menggelengkan kepala.
“Tuan, ini bukan tempat orang seperti saya.” Lirih Windi menunduk merasa tak percaya diri.
Di depannya tampak banyak wanita yang berada di sisi kanan prianya berpenampilan dengan sangat berkelas. Sungguh masuk ke dalam rasanya Windi hanya membawa tubuhnya ke tempat yang akan menjadikan dirinya bahan tawa dan ledekan.
__ADS_1