Step Mother

Step Mother
Tamat


__ADS_3

Hari yang di nantikan tanpa terasa telah tiba. Suasana menegangkan terjadi di depan ruangan bersalin. Yah, ibu Windi bersama sang adik begitu gelisah menantikan kabar di ruang dalam sana.


“Ya Allah semoga anakku baik-baik saja. Cucuku lahir dengan selamat.” Begitulah harapan dari sang ibu untuk anaknya yang berjuang hidup dan mati di dalam ruang bersalin.


Meski tak banyak waktu ia bersama Windi, kekhawatiran seorang ibu tetaplah begitu besar ia rasakan. Beberapa kali tangan kasar wanita paruh baya itu mengusap wajahnya. Berharap doa yang ia panjatkan segera terkabul.


Sama halnya dengan keadaan di dalam ruang bersalin. Arbi sudah bermandikan peluh kala mendapat jambakan kasar dari tangan Windi.


“Sayang, lepaskan tanganmu. Rambutku bisa semakin botak, Win. Ayolah aku mohon.” Arbi beberapa kali merintih kesakitan memohon pada Windi untuk melepaskan cengkraman di kepala.


Sayang ucapannya tidak terdengar jelas bahkan mengalahkan suara Windi yang berteriak semakin keras. Wanita itu memejamkan mata sekuat tenaga mengejan.


“Ayo lagi, Bu. Tarik napas dalam….” Aba-aba dari sang dokter kian mengiringi perjuangan Windi. Dan detik berikutnya suara tangisan bayi pun menggema di ruangan bersalin itu.

__ADS_1


Windi meneteskan air mata begitu pun dengan Arbi yang tersenyum lebar dan meneteskan air mata bahagia.


“Anak kita sudah lahir, Win.” Pria itu mengecup kening sang istri penuh cinta.


Keduanya berpelukan dan tersenyum bersama. Anak yang baru saja lahir pun segera di bawa suster untuk di bersihkan.


“Alhamdulillah…” sang ibu di depan ruang bersalin tersenyum mengusap wajahnya lega.


Hal yang berbeda terjadi. Di sisi lain Jenson giat bekerja di bawah pimpinan perusahaan sang ayah. Sementara Mami Kely berusaha menekunkan hoby menjahit di rumahnya.


Meski masih tak merestui hubungan Windi dan Arbi, keduanya memilih untuk sibuk dengan kehidupan masing-masing. Niat untuk kembali ke negara asal pun sudah tidak ada sama sekali.


Mereka tak perduli lagi bagaimana di indonesia. Tanpa mereka tahu Arbi tengah menyambut kebahagiaan dengan lahirnya buah hati mereka.

__ADS_1


***


“Selamat yah, kalian sudah menjadi orangtua. Begitu pun dengan ibu yang sudah menjadi nenek. Rasanya bahagia sekali.” Windi memeluk tubuh paruh baya itu dan memejamkan mata.


Pelukan terhangat yang ia rasakan sungguh membahagiakan saat ini, sumpah demi apa pun Windi adalah satu-satunya orang yang begitu bahagia.


“Arbi, kamu adalah pria yang beruntung. Anak kalian begitu lucu. Ibu sangat berharap kamu mampu membimbing Windi dan anakmu ke jalan yang benar. Kelak kalian akan hidup bahagia dan tak kekurangan apa pun juga.” Arbi tersenyum mengangguk. Membenarkan apa yang sang mertua ucapkan barusan.


“Pasti, Bu. Aku adalah orang yang paling bahagia. Aku sangat bersyukur memiliki anak ibu dan mendapatkan anak dari pernikahan kami. Harta yang paling berharga telah saya dapatkan, tak ada alasan lagi untuk saya mencari kebahagiaan di luar sana. Windi adalah rumah yang damai untuk saya pulang.”


Windi, Arbi, ibu, dan bocah kecil yang tak lain adalah sang adik saling berpelukan. Mereka sama-sama tersenyum bahagia di tengah-tengah sang bayi yang tampak tenang di pelukan sang ibunda.


Hari terasa kian damai dan sejuk seketika kala bayi merah itu lahir ke dunia.

__ADS_1


__ADS_2