Story Of Love Life

Story Of Love Life
BAB 30 "Ini Semua Demi Kamu"


__ADS_3

Malam hari ,pukul 19.00


🌻


Dikamar Nasya


Nasya terduduk di meja riasnya, ia sedang memainkan ponselnya sambil bercurhat dengan Melly dan Ranti.


Rupanya Nasya masih tetap bersedih, Ranti dan Melly pun punya ide, mereka pun mengajak Nasya ikut dengan mereka ke Mall malam ini.


"Udah deh daripada kamu bersedih terus ,ayo kita have fun malam ini..." ajak Ranti.


Melly ikut setuju, ia kemudian membujuk Nasya.


Awalnya Nasya menolak ,namun akhirnya kedua sahabatnya itu berhasil membujuk Nasya.


"Bersiap-siap lah, kami akan menjemput tuan Putri Nasya malam ini" ucap Kedua sahabatnya dengan gembira dan tertawa ria dengan tujuan membuat Nasya tertawa.


Nasya akhirnya bisa tertawa juga kala itu,ia pun akhirnya bersiap-siap dan memakai style pakaian andalannya.


Yah,gaya casual nya. setelah selesai memilih pakaian dan memakainya, ia berdandan sedikit ,setidaknya wajahnya tidak nampak sembab lagi.


Ranti menjemput Melly dahulu, setelah itu mereka bergegas menjemput Nasya. di perjalanan tiba-tiba Ranti menyuruh sopir pribadinya berhenti di toko cokelat.


"Tunggu sebentar yah,Om. Kami mau membeli cokelat sebentar" ucap Ranti dengan sopan sambil menyuruh Melly ikut turun di toko itu dengannya.


"Mau apa ke sini?" tanya Melly tidak mengerti.


"Kamu lupa? Nasya kan suka cokelat,setidaknya moodnya bisa makin meningkat setelah memakan cokelat" ucap Ranti menjelaskan.


Melly terperanjat ia hampir tidak mengerti tadi, setelah ia paham ia pun ikut memilihkan cokelat kesukaan Nasya.


Mereka kembali ke mobil dengan tas berisi cokelat ditangan mereka.


Kemudian sopir pribadi Ranti kembali melajukan mobil menuju rumah Nasya.


Dirumah Nasya menunggu kedatangan Melly dan Ranti menjemputnya, Nasya keluar dari kamar kemudian berjalan menuju sofa ruang tamu , ia terduduk dengan ponsel di tangannya. tatapannya semu. rupanya kesedihan masih tampak namun samar-samar ada di wajahnya.


Tiba-tiba kakaknya Nasya (Verrel) muncul dari arah dapur kemudian memergoki Nasya.


"Hayo sedang apa" ucap Kakaknya, namun ia terperanjat karena melihat mata Nasya yang tampak sembab.


"Kenapa? habis nangis kah de?, ayo cerita ke kakak siapa yang membuatmu bersedih" tanya Verrel lagi namun dengan antusias sambil memegang pundak Nasya dan menatap Nasya kala itu.


Verrel adalah kakak yang baik ,ia sangat menyayangi adiknya ,meskipun mereka terkesan tidak akur dan suka bertengkar,namun jika ada kesempatan Verrel bisa saja menghabisi orang yang mengusik kebahagiaan adik bungsunya itu.


Di tanya seperti itu oleh kakaknya, Nasya hanya terdiam, ia takut kalau bercerita nanti malah kakaknya adukan ke papa kalau Nasya berpacaran kemudian putus karena di selingkuhi.


"Aku gak apa-apa kak, habis nonton drakor tadi ,makanya keliatan nangis begini" ucap Nasya dengan santai ,ia berusaha menutupi yang sebenarnya, ia bermaksud ingin menenangkan dirinya sendiri dulu.


Jawaban adiknya terdengar tidak logis dan menganjal dihatinya, namun ia tidak meneruskan pertanyaannya,takut kalau ia malah kelahi dengan adiknya .


"Ya sudah,kau sedang menunggu siapa disini? mau jalan sama Farel ya?" ujar Verrel dengan meledek, Yah ke jailan nya muncul lagi kala itu.


Nasya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa ucapan kakaknya itu salah, akhirnya Nasya teringat bahwa Farel tadi siang berpesan kepadanya agar tidak kemanapun hari ini, namun terlanjur sudah buat janji dengan Melly dan Ranti malam ini, mau di apa, ia mungkin besok hanya bisa meminta maaf kepada Farel karena tidak menuruti kata sahabatnya itu.


"tok... tok... tok... Assalamualaikum Nasya"


terdengar suara Melly dan Ranti mengetok pintu dan mengucap salam. rupanya mereka telah sampai dan menjemputnya.


"Wa'alaikumsalam... kenapa sedikit telat , macet ya" ucap Nasya kaget dengan keterlambatan mereka.


"Tada.........."


Melly dan Ranti berseru sambil menyerahkan bungkusan cokelat itu pada Nasya.


"Apa ini? " tanya Nasya tidak mengerti.


"Moodbostermu dong..." ucap Melly dan Ranti dengan semangat.


"Oke aku buka ya"


Nasya membuka bungkusan itu, dan terperanjat saat yang didapati adalah cokelat.


"Wah ini edisi terbaru,dimana kalian membelinya" tanya Nasya dengan wajah senang.


"Tidak penting beli dimana, yang penting tuan putri kami bahagia ,Ayo..." ajak Melly .

__ADS_1


"Eh bentar ada kak Verrel" ucap Ranti.


Melly tidak melihat Verrel tadi ,ia pun masuk dan berpamitan dengan kak Verrel ,begitupula Ranti.


"Kemana?, jangan malam-malam, kalau ada apa-apa telepon aku." Verrel menawarkan jasanya.


"Siap!" ucap Ranti dan Melly.


"Nasya jalan-jalan ke Mall dulu yah ,kak" ucap Nasya sambil mendekat kearah Verrel kemudian mencium punggung tangan Verrel. "kasih tau mama dan papa ,aku sebentar saja kok" tambah Nasya lagi.


"Oke, ingat jangan sedih-sedih lagi. " pesan Kakaknya.


Nasya tersenyum lalu menutup pintu.


Mereka masuk ke mobil dan mobil itu melaju ke arah Mall yang mereka tuju.


"Wah sudah pukul 20.00 , aku dengar-dengar ada yang mau bertanding silat malam ini!" ucap Ranti.


"Benarkah? siapa? " tanya Melly.


"Entahlah..." jawab Ranti tidak tahu.


Disitu Nasya terdiam sambil memakan cokelatnya,kedua temannya merasa kasihan, gara-gara Fandy, Nasya berubah menjadi 180° lebih pendiam dari biasanya ,biasa ia paling banyak bicara.


Namun kedua temannya itu membiarkan Nasya memakan cokelatnya itu sampai mereka sampai di Mall Citra Niaga.


***


Di gedung Silat, Farel dan Fandy telah siap untuk memulai pertandingan.


mereka nampak gagah dengan busana silat berwarna putih yang mereka kenakan.


Farel dengan sabuk hitam, sedangkan Fandy dengan sabuk hijau.


Mereka saling bertatapan ,Farel nampak tegas ,ia menatap Fandy dengan pasti.


"Ini semua demi Nasya , aku akan memenangkan pertandingan ini" ucap Farel dalam hati.


Sedangkan Fandy memandang Farel nampak seperti musuh yang tidak tahan ingin melahap mangsa saat itu juga .


***


Nasya,Melly dan Ranti telah sampai di Mall itu, Ranti berjanjian dengan sopir pribadinya dan menyuruhnya kembali lagi tepat jam 22.00 setelah bermain di Mall.


Nasya melihat ke sekeliling Mall, saat pandangannya terpaku ke gedung Silat ,ia merasa aneh, seperti ada kontak batin yang memanggilnya untuk kesana.


"Ran... tadi kamu bilang ada yang tanding silat kan malam ini" tanya Nasya namun tatapannya tetap ke gedung itu tidak menoleh kearah Ranti sekalipun.


"Iya.. kenapa?" ucap Ranti tidak mengerti.


"Aku merasa mendapat kontak batin untuk melihat kesana . ayo kita kesana" ucap Nasya seraya bergerak ke arah gedung itu.


Namun Melly menarik tangan Nasya dan mengatakan


"Kami ingin menghibur kamu ,Sya. kalau kamu menyaksikan orang bertanding apakah suasana hati mu akan membaik?" ucap Melly dengan tatapan terenyuh.


"Benar,Sya... ayo kita ke playstand yang ada di dalam Mall ini,bukankah dulu kamu sangat menyukainya" ucap Ranti lagi dengan semangat.


Nasya menatap kedua sahabatnya itu dengan mata berkaca-kaca ,mereka ada benarnya, Nasya pun menurut dan mengangguk tanda menyetujui ajakan mereka berdua.


Akhirnya Melly dan Ranti merangkul Nasya dan berhasil membawa Nasya ke Playstand dilantai 3.


***


Babak Pertama telah selesai , skor dimenangkan oleh Fandy, hanya selisih 1 skor mereka.


Farel tidak menduga Fandy sangat ber emosi saat mendaratkan pukulannya ,Farel sempat kewalahan sedikit ,namun sampai juga mereka ke babak selanjutnya.


Wasit memberikan aba-aba istirahat akan segera selesai, setelah membangkitkan semangatnya, Farel kembali berdiri dengan kokoh kemudian berancang-ancang dengan sikap sempurna.


Sedangkan Fandy disana nampak angkuh,ia tertawa sambil berkata "Menyerahlah,kau pasti kalah!".


Farel tidak menghiraukan perkataan Fandy, ia tetap menjalankan pertandingan itu dengan sportif, ia tidak mau melanggar peraturan silatnya.


"pritz........."


Peluit di tiupkan oleh Wasit.

__ADS_1


Mereka berdua mulai berancang-ancang. Farel nampak sangat serius kali ini ,ia salah jika meremehkan Fandy, namun inilah strateginya,nampak santai di babak awal, namun nampak mengerikan dibabak akhir nanti.


Di playstand lt.3


Nasya, Melly dan Ranti sedang memainkan game disana ,mereka tertawa ria, seru-seruan bersama ,lalu bermain ayunan gantung bersama ,Nasya tertawa bahagia dan ceria kala itu,mereka pun mengambil pose foto bersama setelah meminta bantuan kepada seseorang untuk memfoto kan mereka.


Mereka bergaya ala-ala mereka, tiba-tiba pandangan Nasya tertuju pada layar siaran diatas , rupanya pemandangan yang tidak Nasya duga ,jadi ini yang membuat ia berkontak batin tadi, Farel sedang disorot kamera di layar tersebut, Nasya tercenggang, makin tidak percaya lagi ia berkelahi dengan siapa,dengan Fandy. ia tercenggang sambil terus memandang ke arah layar itu .


Sedangkan Ranti dan Melly sibuk berfoto-foto berdua. Saat mereka mendapati Nasya tercenggang, mereka ikut menatap layar itu mereka berdua sama-sama ikut terkejut,Nasya langsung memudarkan lamunannya kemudian mengajak Melly dan Ranti ke gedung silat.


***


Babak kedua telah usai,mereka di beri waktu istirahat 5 menit sebelum melanjutkan ke babak akhir.


Farel memegang ujung bibirnya yang tadi terkena pukulan Fandy, ia hanya tersenyum sambil berkata "sabar Farel,sebentar lagi"


Nasya sampai ke gedung itu setelah berlari-lari kecil, ia berteriak ke arah Farel, Farel melihatnya tidak percaya ,sampai ia tak sadar bahwa peluit ternyata sudah di bunyikan, karena ia sibuk tercenggang,ia mendapat serangan tiba-tiba dari Fandy,Fandy menyerangnya dengan kejam , sampai Farel jatuh tersungkur keluar arena.


Nasya melihatnya sambil memelototkan matanya, begitu juga dengan Melly dan Ranti mereka juga terkaget melihat Farel tersungkur sesampainya mereka menyusul Nasya.


Semula Farel tidak bisa bangun karena badannya kesakitan mendapati serangan kejam dari Fandy.


Wasit memberikan aba-aba kepada Farel dalam hitungan ke-3 , Fandy tertawa ia mengira bahwa ia yang akan memenangkan pertandingan itu.


Namun beruntung, Farel berdiri dengan gagahnya sambil mengerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan.


Fandy terperanjat ,begitupula Wasit ,ia pun memberikan aba-aba pertandingan dimulai lagi.


Farel kali ini sangat berhati-hati dengan Fandy, ia mengeluarkan jurus terbaru yang ia pelajari kemarin,kemudian meluncurkan kepada Fandy, Fandy terkejut menerima serangan itu, Farel melakukan gerakan membanting, terbanting lah Fandy tanpa perlawanan dari nya lagi.


Hitungan ke 3 wasit menghitung, tamatlah pertandingan, akhirnya pertandingan di menangkan oleh Farel.


Juri memberikan tepuk tangan atas kemenangan Farel yang ke sekian kalinya.


"Dan inilah dia... juara silat kita 3 tahun berturut-turut ini" ucap MC kepada seluruh penonton .


Farel tersenyum kemudian senyuman itu ia jatuhkan kepada Nasya.


Nasya tersenyum bangga atas kemenangan Farel.


Farel turun dari arena kemudian menghampiri Nasya.


Namun, Fandy terbangun dari tempatnya terbanting,ia merasakan badannya sakit semua, ia memperhatikan Farel yang berjalan ke arah Nasya, dengan sisa tenaganya diiringi emosi yang menggebu-gebu karena Farel berhasil mengalahkan nya dengan serangan kejam ,ia pun merasa tidak terima ,ia berlari ke arah Farel berniat akan menendang Farel.


Nasya berteriak "Awas....." atas tendangan yang akan di luncurkan oleh Fandy.


Dengan sigap Farel menangkal tendangan itu malah berbalik membanting badan Fandy kedua kali.


Fandy kesakitan, Farel mengeluarkan sepucuk kertas dan juga pulpen


"Tanda tangani surat ini!" ucapnya kepada Fandy.


Fandy menatapnya sinis,karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa ,Fandy pun mau menuruti Farel.


Setelah itu kertas tersebut diambil kembali oleh Farel, Farel melepaskan Fandy, mengulurkan tangan sebagai pertolongan maaf dan berterima kasih karena telah menjadi rivalnya malam ini.


Fandy terkesiap,ia pun pergi entah kemana dengan wajah merah marah.


Farel menyodorkan surat itu,yang ternyata surat perjanjian bahwa Fandy tidak akan menggangu Nasya lagi.


Nasya terkejut, ia menatap Farel dengan pandangan tidak menyangka.


"Kau rela babak belur demi menyelamatkan ku dari Fandy?" ucap Nasya dengan mata berbinar.


"Ya... ini semua demi kamu." ucap Farel dengan tersenyum lebar kemudian memeluk tubuh Nasya.


"Oh terimakasih banyak ,Rel . Aku tidak menyangka" ucap Nasya dengan terharu.


"Mari aku akan mengobati lukamu" Nasya menawarkan diri.


Mereka pergi ke klinik kesehatan untuk mengobati luka Farel.


Malam itu ,Nasya memberikan sejuta perhatian hanya kepada Farel, Farel pun menerimanya dengan sangat bahagia, meskipun badannya ia rasa pegal-pegal karena menerima serangan kejam dari Fandy sebelum akhirnya Fandy berhasil ia taklukan.


BERSAMBUNG....


Terimakasih untuk pembaca setia, author bakal update terus sampai tamat ya,jangan lupa dukung author terus ya^^

__ADS_1


__ADS_2