Story Of Love Life

Story Of Love Life
BAB 31 "Demi Sahabatku"


__ADS_3

Jakarta, 20 Juli 1997


🌻


Semenjak kejadian taruhan 3 hari lalu,hati Melly tidak karuan ,sudah lama ia menyukai Farel, namun ia paham betul kalau Farel menyukai Nasya.


Melly terduduk di bangkunya, tenggelam dalam lamunan saat bu Vina menjelaskan pelajaran.


Matanya berbinar-binar ia tidak tau mengapa perasaan nya begitu sedih .


Kemudian ia kembali mencoba fokus kepada apa yang Bu Vina jelaskan.


Tring.... Tring.... Tring....


Bel istirahat berbunyi.


Nasya dengan gembira mendatangi kelas Melly dan Ranti yang jaraknya 4 ruang dari kelasnya, karena kelas mereka berdua di kelas 9E.


"Assalamualaikum..." salam Nasya kepada seisi kelas.


Murid di kelas itu menjawab salam dan senyuman Nasya, mereka semua mulai meninggalkan kelas karena segera menuju kantin.


Nasya menghampiri Melly dan Ranti dengan wajah bersinar, ia nampak sangat senang dan bahagia, sepertinya kepribadiannya mulai kembali lagi seperti sedia kala.


"Ayo ke kantin... hari ini aku yang traktir" ucap Nasya dengan semangat.


"Wah tumben, biasanya makan bekal sama Farel" ujar Ranti.


"Ah tidak... Farel sedang kedatangan Bimo dikelas, jadi aku ke kelas kalian mengajak kalian makan, maafkan aku karena akhir-akhir ini aku sangat jarang bersama kalian ke kantin." ujar Nasya dengan sedikit menggerutu.


"Tidak masalah kok, iya kan Mel..." tanya Ranti kepada Melly.


Melly terperanjat saat mendengar nama Farel disebut Ranti tadi, perasaannya mulai tidak karuan lagi, lalu ia menatap Nasya dengan tatapan semu.


"Mel.... " tegur Ranti.


"Ah iya.. ayo kita makan aku lapar" ucap Melly dengan semangatnya merangkul kedua sahabatnya itu.


"Bahkan kau tidak menjawab pertanyaan ku" ucap Ranti dengan kesal.


"Huh? pertanyaan yang mana?" ucap Melly sambil tetap merangkul kedua sahabatnya itu.


"Sudah tidak apa-apa, Ran.


Mel, lupakan saja . Ayo kita ke kantin sekarang ,aku sudah sangat lapar" ujar Nasya sambil memegangi perutnya yang sudah bersuara.


Mereka pun ke kantin andalan mereka dulu, memesan makanan dan minuman kesukaan mereka masing masing.


Kali ini memesan minuman yang sama yaitu Thai Tea kesukaan mereka dengan cincau sebagai topingnya.

__ADS_1


Setelah makanan dan minuman mereka datang,mereka bersulang kan minuman mereka dan berseru;


"Sahabat sejati selamanya." ucap mereka sambil tertawa bahagia.


Mereka sama sama menyeruput minuman itu.


Melly melirik Nasya,ia teringat akan lamunannya tadi.


"Apa aku beritahukan Nasya sekarang saja kalau aku berhenti menyukai Farel"


ucap Melly dalam hati sambil melirik kearah Nasya.


Nasya tersadar kalau Melly melirik nya,ia pun menanyakan Melly apa yang terjadi.


Melly terperanjat, kemudian ia mulai membuka suara dengan pelan.


"Sya... aku mau bilang sesuatu" ucap Melly perlahan dengan sendok dan garpu di tangannya.


"katakan lah..." ujar Nasya sambil menyuap makanan dimulut nya kemudian mengunyahnya perlahan.


Ranti nampak tetap fokus pada makanan sambil sesekali melihat ke arah mereka berdua.


Melly terdiam, ia menghembuskan napasnya sejenak, ia menyeruput minuman agar tidak terbata-bata saat berbicara, kemudian ia mulai membuka mulutnya.


"Aku berhenti menyukai Farel mulai sekarang" ucap Melly dengan senyum kecil yang menghiasi bibirnya.


"Huh?" ucap Nasya kaget, ia sempat lupa kalau dulunya Melly pernah menyukai Farel. kemudian ia menjawab lagi;


Melly mendengar pernyataan Nasya dengan mata berbinar, kemudian ia berkata lagi.


"Iya aku paham kok, itu karena ia mencintaimu, Sya." ucap Melly dengan tersenyum semu.


Ranti ikut terkejut kala itu, namun akhirnya membenarkan argumen Melly jikalau apa yang dikatakan Melly benar, bahwa Farel mencintai Nasya.


"Huh?" Nasya tidak mengerti dengan apa yang Melly dan Ranti katakan.


"Hmmm....... jadi selama ini kamu tidak peka ya... Farel mencintaimu, Nasya. kalau tidak mengapa selama ini ia sangat perhatian padamu, sampai ia rela babak belur demi membelamu dari belenggu Fandy. kalau ia tidak mencintaimu mengapa ia selalu mengawasi dan melindungi mu, kau tau selama ini Farel selalu bersikap dingin ke semua perempuan, tetapi tidak denganmu." Ucap Melly dengan serius.


Nasya yang semula menyesap kuah makanannya, menjadi terkekeh hampir tidak percaya dengan apa yang Melly ungkapkan.


ia pun membuka mulut dan berkata


"Ia hanya menganggap ku sahabatnya, percayalah." ucap Nasya dengan santai sambil terus memakan makanannya.


"Sya.... dengerin aku, semua yang Farel lakukan buatmu itu lebih dari sekedar sahabat, ia mencintaimu. Aku yakin itu. Mulai sekarang kau harus lebih peka" ucap Melly lagi. kini ia mulai menyantap makanannya.


"Iya, Sya. Melly benar. kau harus lebih peka lagi." ucap Ranti menambahi.


"Tapi, Mel... perasaanmu?" tanya Nasya tidak tega dengan Melly.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, pasti Allah akan mempertemukan ku dengan sosok lelaki idamanku suatu hari."


ucap Melly dengan tersenyum lebar lalu menyantap makanan nya dengan lahap.


Nasya terdiam dan terus memikirkan argumen Melly. ia pun berniat akan bertanya kepada Farel saat kembali ke kelas nanti.


Setelah selesai makan, Nasya membayarkan makanan dan minuman Ranti dan Melly sesuai janjinya tadi.


kemudian mereka berjalan ke arah kelas sambil tetap saling rangkul.


Sampai di depan kelas Nasya, mereka berpisah disitu sambil saling melambaikan tangan, Nasya pun masuk kedalam kelas .


Ia melihat Farel sedang bercengkrama dengan Bimo sambil tertawa. akhirnya Farel melihat Nasya telah datang.


"Bim, pemilik kursi ini sudah balik,ayo cepat kembali ke asal mu." ucap Farel sambil tertawa.


"Baiklah... dadah kalian" ucap Bimo kepada Farel kemudian juga tersenyum ke arah Nasya yang sedang berjalan ke arah kursi duduknya.


Saat duduk di samping Farel seperti biasanya, Nasya nampak ragu-ragu, Farel menatap nya dengan heran, lalu menempelkan punggung telapak tangannya memastikan bahwa Nasya tidak sakit.


"Ih apaan sih, kamu kira aku sakit" ucap Nasya sambil tertawa kecil dan mengembalikan tangan Farel ke atas meja.


"Kau nampak pucat, ada apa?" tanya Farel lagi.


Nasya gugup, ia tidak tau harus memulai pertanyaan darimana, ia takut kalau salah bicara atau apa.


"Kenapa?" kali ini Farel bertanya kepada Nasya dengan sedikit mendekat ke wajah Nasya dan menatap kedua bola mata Nasya dengan pupil yang berwarna coklat itu.


Jantung Nasya berdebar-debar, sesekali ia menggigit pelan bibirnya kemudian menutupnya rapat-rapat.


Farel memandanginya dengan heran, ia tetap menatap Nasya sampai Nasya mau mengatakan sesuatu padanya.


Nasya menghembuskan napas perlahan lalu mulai membuka mulutnya dan berkata


"Rel... ada yang mau aku tanyakan padamu"


ucap Nasya dengan tatapan ragu melihat kedua bola mata Farel yang selalu terlihat membulat itu.


"Silahkan...." jawab Farel sambil tersenyum lebar.


Nasya tersentak saat melihat senyum Farel, ia kembali terperanjat, namun karena sikap tegasnya, ia pun berani berbicara lagi meski mungkin terdengar aneh.


"Katakanlah ayo... sebelum bel masukan berbunyi." tukas Farel.


Nasya menarik napas kemudian berkata;


"Rel.... apakah kau mencintai aku? jawablah dengan jujur" ucap Nasya dengan tegas.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


#Marhaban Yaa Ramadhan, maafkan author kalau ada kesalahan dalam menulis atau berkata, semoga semua pembaca suka dengan karya saya , dan semoga amal ibadah kita semua Ramadhan ini diterima oleh yang maha kuasa. 😊


__ADS_2