
Setelah selesai bersiap-siap, Nasya keluar dari kamar dengan setelan jaket dan celana jeans nya. ia membawa tas berisi make up sederhana dan juga handphonenya sebagai barang bukti yang akan di serahkan kepada agen Intel nantinya. Nasya pun berjalan menghampiri Farel dan segera mengajak Farel.
"Yuk..." ajak Nasya setelah sampai ditempat dimana Farel duduk.
Tiba-tiba mamanya Nasya muncul dan menanyakan mau kemana kah Nasya dan Farel pergi, Nasya pun menjelaskan kepada mamanya dan beralasan akan mengerjakan tugas.
Mamanya pun mengerti, kemudian mereka pun berpamitan kepada mama dan kakak.
"Hati-hati ya, kalau sudah selesai cepatlah pulang." ucap mama.
"Rel, bawa motor pelan-pelan" ucap Verrel
Nasya dan Farel sama-sama mengangguk tanda mengerti, kemudian mereka membuka pintu lalu mengucap salam berpamitan.
Saat mereka menghampiri motornya Farel, Nasya sempat bertanya kepada Farel siapa nama omnya yang agen Intel itu.
Farel pun menjawab
"om Herman" ucapnya sambil senyum.
Langsung saja Nasya memakai helm nya, lalu Farel segera melajukan motornya menuju rumah om Herman.
15 menit perjalanan, akhirnya sampai lah mereka dirumah om Herman.
Nasya turun dari motor, melepas helm kemudian merapikan pakaian.
"Wah rumahnya cukup unik ya, terus serba hitam warna nya." ucap Nasya kagum.
Rumah om Herman memang sedemikian rupa di rancang agar terlihat unik, ditambah nuansa hitam disetiap sudut rumahnya, menambah kesan seram ketika kita melihatnya.
Farel hanya menyenyumi setiap tanggapan Nasya, kemudian Farel mengajak Nasya untuk segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Nasya heran dengan apa yang Farel perbuat. Rupanya Farel akan membuat kejutan untuk om nya.
"Om...." teriak Farel saat mereka telah memasuki rumah Om Herman.
__ADS_1
Tiba-tiba dari dalam keluarlah seorang pria dewasa berbadan kekar, dengan tinggi melebihi tinggi Farel dan menggunakan kaos hitam dan celana jeans hitam.
Terlihat menakutkan, kemudian setelah ia melihat Farel datang langsung sontak saja om Herman berteriak
"Oh keponakanku....." ucap nya sambil bergerak memeluk Farel dengan erat. Farel terlihat kesulitan bernapas karena pelukan om nya itu.
Nasya yang semula melihatnya takut kini berubah menjadi heran dan tercenggang, ia tidak menyangka bahwa sosok om Herman yang terkesan galak ternyata dapat berperilaku lucu seperti itu.
Nasya tertawa sempit sambil memegangi kepalanya.
Setelah om Herman melepaskan pelukannya yang membuat Farel sulit bergerak itu, ia terpaku kepada Nasya.
"Wah udah besar memang rupanya keponakan om ini, sampai berani bawa pacarnya kesini" Ucap om Herman meledek Farel.
"Siapa namamu?" tanya om Herman dan mengarahkan pandangannya kepada Nasya
.
Farel hanya tersenyum mendengar pernyataan om nya itu, dan kemudian Nasya memperkenalkan dirinya dan menyodorkan tangannya hendak menyalami tangan om Herman, Om Herman tersenyum kepada Nasya dan memuji kecantikan Nasya, Om Herman kemudian berkata kepada Farel bahwa ia beruntung mendapatkan wanita seperti ini,
"Iya om, mama asli jepang yang kemudian di ajak papa tinggal di indonesia dan menetap disini" jawab Nasya dengan sopan dan tak lupa untuk tetap tersenyum lebar.
Om Herman mengangguk, kemudian segera mempersilahkan Farel dan Nasya untuk duduk di ruang tengah bersamanya.
Om Herman menyuruh pembantunya menyiapkan minuman dan makanan.
tanpa panjang lebar lagi Farel hendak menjelaskan maksud kedatangan mereka, namun sebelumnya om Herman sempat menceritakan sedikit kisah masa kecil dahulu, dimana Farel sangat manja terhadap om Herman sebelum Farel di sekolahkan di Thailand, dan akhirnya kembali lagi ke Indonesia yang membuat om Herman bahagia, rupanya om Herman adalah adik dari tante Juli(mama Farel) maka dari itu Farel dan om Herman terlihat sangat akrab karena memang sedari kecil Farel bersama om Herman.
Setelah bercerita, om Herman langsung menanyakan apa yang tadi ingin Farel sampaikan.
Langsung saja Farel menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir secara detail, juga menyuruh Nasya mengeluarkan ponsel kemudian memperlihatkan nomor yang sekiranya meneror Nasya.
"Jadi om, Farel ga bermaksud menuduh orang ini penjahat, Farel hanya ingin om membantu Farel untuk mengetahui siapa dalang dari peneroran ini" ucap Farel dengan serius.
__ADS_1
Nasya hanya mengangguk-angguk menunjukkan pembenaran atas apa yang Farel katakan.
Om Herman nampak serius mendengarkan penjelasan Farel, kemudian langsung saja om Herman mengajak Farel dan Nasya ke ruang kerjanya.
Setelah masuk, Nasya dan Farel tidak menyangka bahwa ruangannya begitu antik, banyak benda antik yang terdapat disana, ditambah lagi nuansa hitam dimana-mana menambah nuansa semu diruangan itu.
Langsung saja om Herman mengeluarkan peralatan nya yang biasa ia pakai untuk melacak, tidak lupa juga ia menyalakan komputer kemudian menginput data nomor telepon dari nomor tersebut.
Farel berdiri di sebelah om Herman yang sedang mengotak-atik komputer dan alat lain, sedangkan Nasya duduk di kursi yang ada disitu, Nasya memperhatikan cara kerja om Herman yang terampil, Nasya memperhatikan Farel juga yang nampak sangat antusias atas masalah yang menimpanya.
"Ya Allah, hamba sangat bersyukur di pertemukan dengan Farel yang hatinya bagaikan malaikat seperti ini, terima kasih telah mempertemukan, mendekatkan dan menjadikan kami sahabat"
Gumam Nasya dalam hati sambil memandang Farel dengan senyum di wajahnya.
Farel yang punya kontak batin yang kuat itu pun akhirnya menoleh kearah Nasya.
Farel kemudian menyenyumi Nasya dan mengajak Nasya menyaksikan cara kerja om Herman.
Sangat terampil, tangan om Herman sangat sigap dalam mengerjakan nya.
10 menit kemudian selesailah pemecahan masalah, Nasya mendekati monitor dan menyaksikan hasil yang muncul.
Ternyata nomor yang muncul adalah identitas dari kartu keluarga Aryanto Bagaskara.
"Fandy???" tanya Nasya sambil sedikit berteriak. Nasya kemudian menutup mulutnya dengan satu telapak tangan.
"Apa!" nama itu adalah Ayah nya Fandy?" tanya Farel kepada Nasya.
Nasya mengangguk kemudian mengerucutkan bibirnya.
"Inilah hasil yang keluar, bagaimana? bukankah cepat? ucap om Herman sambil tersenyum.
Nasya yang semula kaget beralih ke kagum kemudian memuji cara kerja om Herman yang sangat terampil kemudian tidak lupa berterima kasih.
__ADS_1
Farel juga ikut berterima kasih kepada om Herman sambil tersenyum, namun senyumnya tidak bertahan lama. tangannya yang berada di sisi pahanya itu ia kepalkan kuat-kuat. ia berniat melakukan sesuatu kepada Fandy besok.
BERSAMBUNG......