Story Of Love Life

Story Of Love Life
BAB 38 "Cemas"


__ADS_3

Dirumah Farel


Setelah selesai berolahraga di ruang olahraga di rumahnya yang terletak di lantai atas, Farel kembali ke kamar untuk berniat mandi dan setelah itu beristirahat, namun saat ia melintas di area dimana ia menaruh HPnya yaitu di meja lampu, Farel mendapat dorongan untuk mengecek HP.


Farel awalnya nampak tidak yakin,namun akhirnya ia mencoba ingin memastikan, ia pun membuka handphonenya itu.


Farel membelalakan mata saat membaca pesan dari Nasya sekitar 2 jam yang lalu, ia kemudian menjadi cemas, langsung saja ia menelpon Nasya tanpa membalas pesan terlebih dahulu.


Berkali-kali Farel mencoba menelpon Nasya namun tidak ada jawaban, akhirnya ia berniat akan mendatangi rumah Nasya langsung untuk memastikan bahwa Nasya kini baik-baik saja.


Farel mandi terlebih dahulu, memakai pakaian dan jaket kesayangannya kemudian berangkat ke rumah Nasya setelah berpamitan dengan mamanya.


Di perjalanan dengan motornya, ia terus saja tidak fokus karena memikirkan nasib Nasya, ia hampir menerabas kendaraan di depannya karena ia sangat terburu-buru, hampir juga ia melanggar lalu lintas saking ingin nya sampai dirumah Nasya.


Dan sesampainya dirumah Nasya, tanpa menunggu satpam membuka pagar, Farel terlebih dulu membuka dan segera masuk ke dalam bersama motornya. Satpam yang baru muncul dari tempat istirahatnya itu pun melihat Farel kebingungan karena ia nampak sangat terburu-buru. tapi Satpam itu tau bahwa Farel teman dekat Nasya maka dari itu satpam nya terlihat santai saja saat Farel langsung masuk.


Setelah memarkirkan motornya, Farel langsung memencet bel dan mengucap salam, berkali-kali ia memencet bel hingga akhirnya pintu itu terbuka dan Nasya muncul dari balik pintu.


Langsung dengan sigap Farel masuk ke dalam rumah dan menanyakan keadaan Nasya, ia juga menanyakan mengapa ia tidak menjawab telepon Farel sampai membuatnya cemas, karena terlalu cemas Farel langsung memeluk tubuh Nasya, tiba-tiba Verrel kakak Nasya muncul dan berdehem.


Farel terkaget kemudian menyapa dan menyalami tangan kakaknya Nasya tersebut.


"Mau ajak Nasya jalan ya?" tanya Verrel dengan wajah sumringah khas ingin meledek tetapi setengah kepo. Nasya menatap kakaknya itu dengan heran.


"Tidak kak, Farel kesini karena cemas karena Nasya tadi..." belum sempat Farel melanjutkan omongan tiba-tiba Nasya menginjak kaki Farel dan memberikan Farel isyarat untuk tutup mulut. Farel pun langsung mengerti dan kemudian mengalihkan omongannya tadi.

__ADS_1


Verrel mengangguk tanda mengerti dengan jawaban Farel kemudian mempersilakan Farel duduk di sofa ruang tamu, namun Nasya mencegah dan mengajak Farel ke halaman belakang saja dengan alasan akan membahas tugas.


Verrel setengah mengerti, ingin meledek namun ia tahan akhirnya ia mempersilahkan mereka berdua ke halaman belakang.


"Awas jangan macam-macam ya... banyak CCTV dirumah ini" teriak Verrel saat Farel dan Nasya sama-sama berjalan menuju halaman belakang.


Farel dan Nasya sama-sama menoleh ke arah kakaknya dan sama-sama tertawa.


Sesampainya dihalaman belakang, mereka duduk di kursi panjang yang ada di taman bunga itu.


"Aku mengerti kenapa kamu tidak ingin aku memberitahukan ini kepada kakakmu, karena kamu takut di ledek kan..." ucap Farel membuka pembicaraan saat mereka telah menduduki kursi panjang tersebut.


Sebelumnya Nasya telah menyuruh bi Arni untuk mengantar minuman dan cemilan untuk mereka berdua.


"Permisi non" ucap bi Arni sambil mengantarkan apa yang Nasya pesan.


Nasya pun menceritakan semuanya kepada Farel atas apa yang menimpa nya tadi pagi, ia sangat takut akan teror itu, ia juga menjelaskan mengapa ia tidak menjawab telepon Farel karena memang ia tidak bersama Hpnya, ia takut nomor tidak di kenal itu menelpon nya lagi, jadi ia meninggalkan HP di kamar sementara Nasya tadi menonton TV bersama Verrel di ruang keluarga.


Farel memandangi wajah Nasya yang nampak begitu takut, ia juga selalu sedia mendengarkan setiap curahan Nasya. kemudian Farel mendapatkan suatu ide.


"Ayo kita lacak nomor itu" ajak Farel setelah mendengarkan curahan Nasya sampai selesai.


"Huh?" tanya Nasya tidak mengerti.


"Om ku adalah agen intel, ayo kita bawa masalah ini kepada beliau, aku yakin beliau bisa langsung mengatasi." jawab Farel dengan nada semangat agar Nasya tidak tampak layu.

__ADS_1


"Tapi aku takut, Rel. bagaimana kalau dia bukan orang jahat? nanti aku dituduh pencemaran nama baik" ujar Nasya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Siapa bilang? aku tidak membuatnya terkesan menjadi orang jahat, kita hanya akan mengetahui siapa dia sebenarnya melalui nomor telepon itu." ucap Farel menyakinkan.


Nasya termenung beberapa saat, nampak kekhawatiran meluncur di wajah dan sikapnya.


Farel dengan sigap menarik kedua lengan Nasya kemudian memegang kedua tangan Nasya dengan erat sambil menyakinkan. Nasya tersenyum kemudian mengangguk dengan perlahan tanda ia menyetujui.


"Tenang, inshaAllah semua akan terbongkar. beliau agen intel, sudah berkali-kali menangani kasus serupa" ucap Farel dengan senyum di wajahnya.


Nasya tersenyum kemudian memandang Farel dengan gemas sambil mengucapkan terima kasih.


"Ayo berangkat sekarang?" ajak Farel sambil berdiri dari kursi itu kemudian memandang Nasya.


"Huh? Sekarang?" tanggapan Nasya heran dengan ajakan Farel.


"Bukan kah lebih cepat itu lebih baik? emangnya mau di teror terus nanti, apalagi kalau tengah malam? kan serem.." ucap Farel sambil tertawa.


Tatapan Nasya yang semula heran kini berubah menjadi kesal karena di takut-takuti. Nasya pun memukul Farel dan menginjak kaki Farel yang tertutup sepatu itu sebagai ungkapan kesalnya.


Farel tidak melawan justru menikmati dan kemudian berkata


"Sudah sekarang siap-siap. jangan lupa bawa HP mu sebagai barang bukti." ucap Farel lagi.


Nasya pun mengangguk, kini mereka berjalan menuju ke dalam rumah, Nasya masuk ke kamar untuk bersiap-siap, sedangkan Farel menunggu Nasya sambil menghampiri Verrel yang sedang duduk bermain game di ruang keluarga.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2