
Langit malam yang indah menjadi saksi bisu pada malam ini. Kedua insan yang sedang duduk di halaman belakang saat ini hanya raga nya saja yang hadir tetapi jiwa nya melayang ntah kemana.
Dalam keheningan yang tercipta dalam jarak yang dekat seperti sekarang ini membuat mereka kedua mendadak menjadi canggung. Mungkin karena mereka sudah peka terhadap perasaan sendiri.
"Ekhem.." Dimas berdehem sambil menggaruk lengannya yang tak gatal
Raisa tersadarkan lalu ia membenarkan rambutnya yang sebenarnya sudah rapih
"Tumben diem? Biasanya juga ngerocos?" Tanya Dimas yang bermaksud bercanda
"Maksud lo gue suka ngomel-ngomel gak jelas gitu?!" Serang Raisa balik
"E-eh bukan gitu elahh sensi amat" ucap Dimas pelan
"Hm lo haus gak? Gue ambilin ya" tawar Dimas mengalihkan pembahasan yang langsung beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam lewat pintu belakang
Dimas berjalan santai menuju kulkas lalu mengambil jus jeruk kemasan 2 botol untuk Raisa dan dirinya, disaat ia akan membalikkan badannya, tiba-tiba..
"Den" seseorang memanggilnya
Hampir saja ia melemparkan kedua botol itu ke orang yang memanggil nya tiba-tiba.
"E-eh!! Bi Rina tumben belum balik jam segini?" Tanya Dimas yang melihat jam di pergelangan tangannya dengan sedikit kaget pasalnya tadi saat ia membuka kulkas belum ada bi Rina yang tiba-tiba muncul.
"Iya den, non Oliv minta bantu saya buat jagain Rey sebentar" ucap bi Rina
"Oliv kemana emang?" Tanya Dimas heran
"Ohh katanya sih non Oliv pergi keluar kerja kelompok" jelas bi Rina
"Ohgitu, yaudah saya mau ke halaman belakang dulu" pamit Dimas dan bi Rina hanya membungkukkan badannya sedikit sebagai jawaban
"Lama banget" protes Raisa yang melihat Dimas berjalan menuju ke arahnya
"Heheh gue ketemu bi Rina tadi" ucap Dimas
"Loh? Bi Rina belum pulang?" Tanya Raisa
"Belum, katanya Oliv yang nyuruh buat jagain Rey. Oliv kerja kelompok katanya" jelas Dimas lalu memberikan satu botol jeruk ke Raisa
"Thank's" ucap Raisa sambil membuka tutup yang bersegel
"Eh gue heran deh.. si Naufal yang pendiem gitu pernah pacaran" Dimas memulai pembicaraan dengan memandang lurus ke arah langit malam
"Iya gue juga hampir gak percaya kalo dia punya pacar" ucap Raisa
"Ohiya ngomong-ngomong tentang pacar, sejak lu kuliah lu pernah dideketin sama cowok kagak?" Tanya Dimas sambil menolehkan kepalanya
"Woiya jelas dong secara gue cantik yakan?" Raisa dengan mengibaskan rambutnya kebelakang
"Iya lu cantik" gumam Dimas pelan
"Lu bilang apaan? Gue gak denger" tanya Raisa yang hanya mendengar suara Dimas yang samar-samar
"Gue gak ada bilang apa-apa" alibi Dimas
"Kalo lu gimana? Kan lu sekarang kuliah nih, katanya anak cewek arsitek cantik-cantik" Tanya Raisa balik
__ADS_1
"Beuhh jangan ditanya itu mah, cewek disana itu pada cantik-cantik, bening, mulushh, bohay" ucap Dimas dengan memperagakan lekuk tubuh
Tanpa sadar Raisa meremas botol minum yang ia pegang, yaiyalah nih orang jujur banget pikirnya
"Ditambah dengan make up mereka yang mungkin menurut mereka bagus kali ya. Tapi gue mikir, nih kampus gue buat nyari ilmu apa buat ajang pencari bakat?" Ujar Dimas dengan meletakkan jari telunjuknya di dagu seolah seperti berpikir
"Tapi nih yaa.." Dimas menggantungkan ucapannya lalu memandang Raisa dengan serius dan Raisa hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Walaupun semua cewek di kampus gue rata-rata kek gitu, tapi ada satu cewek yang memikat hati gue. Dia cantik banget di mata gue, gak hanya cantik di wajah tapi hatinya juga" ucap Dimas serius
Hati Raisa udah gak karuan lagi dengernya, mau denger tapi takut kecewa. Tak sengaja retina mereka berdua saling beradu yang membuat efek deg deg ser.
"Tapi gue gak tau dia gimana ke gue, gue juga takut buat ungkapin takut ngecewain" ucap Dimas dengan pelan di kata terakhir.
Raisa tersadar lalu mengerjapkan matanya dan langsung mengalihkan pandangan yang diikuti Dimas.
Dimas menggaruk lengannya "masuk yuk sa, banyak nyamuk ini. Kayaknya Oliv juga udah balik" ajak Dimas
"H-hm? Ayo masuk gue juga udah ngantuk" alibk Raisa karena ia merasa salting, lalu keduanya berdiri dan melangkah ke dalam dan berpisah di depan pintu kamar masing-masing.
-
Raisa berbaring di atas bantal yang empuk dan menarik selimut hingga dada. Ia memandang Oliv sekilas yang sudah tertidur lalu kembali menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terlintas tentang perkataan Dimas tadi.
kira-kira siapa ya yang dimaksud Dimas?
huftt ternyata gak enak ya cinta bertepuk sebelah tangan
Lelah dengan pikirannya, Raisa mulai memejamkan matanya dan perlahan ia memasuki alam bawah sadar.
Di lain tempat, Dimas juga merenungkan perkataannya yang ia lontarkan ke Raisa.
kalo dia gak ngerasa gimana ya? Padahal gue udah natap dia dalem banget, auah gak tau
Dimas menutup matanya menggunakan lengan kanannya lalu ia memilih untuk tidur.
-
"pagi bang Dimas" sapa Rey yang sedang makan di meja makan.
"pagi Rey" balas Dimas yang ikut duduk di sebelah Rey dan mulai menuangkan air susu ke gelasnya.
"Dim, lo ngampus gak hari ini?" tanya Oliv yang baru datang dari dapur dan langsung menuangkan air susu ke gelas Rey.
"gak, emang kenapa liv" jawab Dimas.
"gue nanti siang mau ke perpus, biasalah udah semester terakhir dan gue udah mulai harus nyusun jadi lo sama Naufal jagain rumah ya" ucap Oliv.
"ohh gitu, emang Raisa kemana?" tanya Dimas lagi.
"Dia dari pagi udah pergi, katanya sih nungguin dosennya datang, dia mau minta tanda tangan" jawab Oliv yang hanya diangguki oleh Dimas.
"kak Oliv, Rey udah selesai, Rey boleh nonton kan?" tanya Rey yang kemudian meminum susunya.
"iya, tapi mandi dulu sana" jawab Oliv yang langsung mendapat ancungan jempol dari Rey, lalu Rey kemudian berlari ke atas.
Saat sudah mengahabiskan susu dan rotinya, dimas mulai melangkahkan kakinya kekamar dengan tujuan ia ingin mandi pagi.
__ADS_1
Saat masuk ke kamar Dimas tidak melihat Naufal di sana, Dimas pun mengira Naufal sudah keluar kamar dari tadi, mungkin dia sedang diatas bersama Rey.
Dimas pun membuka bajunya dan mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi.
"waktunya mandi" ucap dimas sambil membuka tirai yang ada di dekat showernya.
"ohh astaga!!" ucap dimas dan Naufal bersamaan. Betapa terkejutnya Dimas saat melihat Naufal sedang menyabuni badannya begitu juga dengan Naufal.
"ngapain lo disini, nyet?" tanya Naufal dengan keras sambil menutupi area tubuh terlarangnya.
"sorry , gue gak tau" jawab Dimas.
"pergi sana, pergi!!" teriak Naufal kesal.
"astaga, lo marah?" tanya dimas yang masih tak mau pergi.
"kita sama-sama punya, kenapa?" tanya dimas lagi.
ide jahil pun muncul dibenakknya, Dimas pun mulai melihat Naufal dari atas sampai kebawah.
"kenapa? lo malu?" tanyanya lagi dengan nada menggoda.
"sini biar gue gosokan punggung lo" ucapnya dan bersiap membuka bajunya.
Dengan cepat Naufal langsung melempar kebalanya dengan sabun yang berbusa. "pergi gak lo!" ucap Naufal yang sudah mulai kesal.
karena merasa kesakitan, dimas pun langsing keluar dari kamar mandi.
-
Sementara di sisi lain Raisa sedang menunggu dosennya, sudah sekitar dua jam dia terduduk di depan ruangan dosennya, dikarenakan dosen yang ia tunggu belum juga datang, padahal ia sudah membuat janji dengan dosennya akan bertemu jam setengah tujuh tadi, dan sekarang sudah jam setengah sembilan.
'duh, lama banget sih, mana gue belum sarapan lagi' batin Raisa.
karena dosennya tak kunjung datang Raisa pun memutuskan untuk ke kantin terlebih dahulu. karena ia pun memerlukan asupan.
Saat sampai di kampus dia langsung memesan ssmangkok bakso dan duduk di tempat yang kosong.
-
"akh pedih" ucap Dimas yang baru saja keluar dari kamar dengan Naufal.
"bukankah lo terlalu tega" ucap Dimas dan mulai bergabung duduk di depan tv bersama Rey dan Oliv yang sedang asik menonton.
"gue sudah suruh lo keluar" ucap dimas yang juga duduk di sebelah Dimas.
"tapi kenapa lo ngelempar sabun ke muka gue, kalau masuk mata gimana?" ucap dimas lebay yang masih memegang dahinya.
"alay lo" ucap Naufal santai.
"apa kau benaran temanku?" tanya Dimas kesal.
"kalian berantem lagi?" tanya Oliv yang mulai jengah dengan mereka yang tiba tiba datang membuat ribut satu ruangan.
"dia marah hanya karna gue nerobos masuk saat dia mandi" jelas Dimas. dan Naufal pun hanya diam saja.
Oliv yang mendengar penjelasan perihal perkelahian mereka pun hanya bisa menggeleng heran kenapa ia bisa bertemu dengan dua cowok yang terlalu kekanak-kanakan.
__ADS_1
**
Kalau udah Follow di Vote dan di KOMENT juga yaa guyss...