Stray Baby

Stray Baby
Part 32 ~ Rey Hilang


__ADS_3

Tampak seorang lelaki yang gagah, berwibawa, tegas dan tentunya profesional dalam bidang perusahaan yang sedang ia kelola saat ini, sedang duduk di kursi kebesarannya mengecek satu persatu laporan yang ia terima dari tiap pegawai di perusahaannya dengan ketelitian yang kuat dan pemahaman yang mendalam.


Bramasta Martinez, yang kerap disapa Bram merupakan pemilik Martinez group. Ia memiliki seorang istri cantik dan baik hati bernama Lidya Tanzania.


Tok tok tok!!


Terdengar suara ketukan dari pintu ruangannya yang ia pastikan bahwa itu adalah Rio sekretaris nya.


"Masuk!" Ucap Bram dengan nada tegas


Tampaklah Rio menggunakan kemeja biru dongker yang dipadukan dengan celana kain panjang berwarna hitam, sedang berjalan menuju ke arah Bram dengan membawa sebuah map.


"Ini laporan yang anda minta pak" Rio meletakkan map tadi diatas meja, walaupun Rio merupakan sahabat Bram sejak kuliah tetapi ia harus tetap profesional jika menyangkut pekerjaan apalagi ini masih jam kerja.


Bram menghela nafasnya dengan pelan lalu mengambil map yang diletakkan Rio diatas meja, lalu ia membaca semua isi yang tercantum di dalamnya.


"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya. Pastikan dia baik-baik saja dan pantau terus dia dari kejauhan. Jangan sampai ada orang selain yang dekat dengannya berani menyentuhnya seujung kuku pun" ucap Bram tak terbantahkan


Rio mengangguk " baik pak. Kalau begitu saya keluar dulu" pamit Rio yang dapat anggukan dari Bram.


-


Ditempat lain, sebuah mobil mewah yang berisi kan empat orang pria dewasa yang berhenti di sebrangan yang tak jauh dari taman kanak-kanak. Salah satu dari pria itu tak lain adalah Bryan Martinez, adik dari Bramasta Martinez. Bryan saat ini sedang berusaha keras untuk mengambil alih perusahaan dari Bram ke tangannya. Karena apa? Karena alasan terkuat yang ia miliki, Bram tak memiliki anak laki-laki sebagai penerus perusahaan. Maka dari itu Bryan sedang mencari cara agar menjatuhkan Bram dengan waktu yang dekat.


Bryan yang duduk di sebelah pengemudi, menurunkan sedikit kaca mobil yang berada di sebelahnya, ia tersenyum miring disaat melihat seorang anak kecil laki-laki yang sudah lama ia incar untuk menghancurkan Bram.


"Objek kita sudah di depan mata, perhatikan anak kecil laki-laki yang sedang berada di atas ayunan bersama anak kecil yang menggunakan topi bersamanya. Incaran kita adalah anak kecil laki-laki yang tampan itu. Setelah pulang sekolah nanti, pastikan disaat yang lainnya sudah bubar dan kalian pasti sudah tau apa yang selanjutnya akan kalian lakukan terhadapnya" jelas Bryan yang mendapat anggukan dari antek-anteknya.


-


Drrt drrt drrt!


Ponsel yang berada tak jauh dari pandangan Bram bergetar tandanya ada yang menelpon. Tampak nama istri tercinta yang tampil di layar ponselnya, tanpa mau istrinya menunggu, Bram segera mengangkatnya


"hallo pa" sapa wanita sebrang sana


"Halo ma. Ada apa?" Tanya Bram


"gak ada apa-apa, cuma mau nelpon papa aja. Ohiya bagaimana dengan data Dia, kamu sudah dapat?" tanya Lidya


"Hmm.. aku sudah mendapatkannya. dia sangat tampan" ucap Bram sembari menatap kosong ke arah depan dengan membayangkan wajah seseorang.


"syukurlah. Aku yakin, Dia pasti mirip denganmu Bram"


"Iya, ku kira juga akan begitu"


"baiklah, aku hanya ingin tau itu saja. Aku tutup ya, selamat bekerja sayang"

__ADS_1


"Iya sayang" dan panggilan pun berakhir.


sebentar lagi, aku berharap kamu bisa bersabar untuk menanti hari itu akan datang Bram dalam hati.


-


Tepat bel sekolah berbunyi tanda waktu belajar telah usai, kini banyak anak-anak yang lucu-lucu nan imut berlari dengan riang dari tiap pintu menuju gerbang depan menanti jemputan.


Seperti biasa Rey menunggu di pos depan dekat pagar. Sudah sekitaran sepuluh menit lamanya ia menunggu kehadiran kedua kakaknya tetapi sampai sekarang belum juga terlihat.


Anak-anak yang dari kelas lain juga teman sekelasnya sudah banyak yang dijemput, pagar depan yang tadinya ramai pelan namun pasti kosong juga. Sedangkan Rey sudah lelah untuk duduk dalam waktu yang cukup lama.


"Kak Raisa dan kak Oliv lama banget" gumam Rey dengan lirih


Rey menggerak-gerakkan kakinya yang masih terbalut sepatu hitam putihnya itu guna menghilangkan rasa bosannya. Dan sampailah ada dua orang pria dewasa yang berdiri tak jauh darinya.


"Hallo dek, kok belum pulang?" Tanya salah satu pria itu


Rey mengacuhkan pria itu, dan ia masih menggerak-gerakkan kakinya dengan tenang. Lalu kedua pria itu duduk ditiap sisinya, barulah Rey mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan tepatnya pria yang bertanya padanya tadi.


"Om anter mau gak?" Tawar pria tadi


"Gak mau" tolak Rey


"Kenapa? Om pake mobil loh, di mobil dingin gak kayak disini panas ntar kulit kamu melepuh. Kamu mau?" Pria itu masih berusaha untuk membujuk Rey


"Siang-siang begini enaknya minum yang dingin-dingin. Kamu pasti haus kan? Di mobil om ada air dingin yang seger loh" tawar pria yang duduk di sebelah kirinya.


"Mau gak?" Pria yang duduk di sebelah kanannya bertanya lagi


"Iya deh Rey mau. Tapi bener ya ada air minum dingin, Rey haus banget" ucap Rey


"Iya bener. Ayo ikut om" kedua pria tadi berdiri di depan Rey. Lalu salah satunya menggendong Rey dengan sebelah tangannya. Lalu saat di depan mobil, ia segera membuka pintu lalu masuk bersama Rey.


Pria tadi memberikan Rey air dingin sesuai dengan perkataannya tadi "ini minum" ucapnya


Rey mengambil botol itu dengan perlahan, lalu membuka tutupnya dengan pelan kemudian ia langsung minum air itu tanpa beban.


"Terima kasih ya om" ucap Rey pada pria yang memberinya air dan pria tadi hanya mengangguk bersamaan dengan mobil yang mulai berjalan meninggalkan tempat tadi.


Belum sampai lima menit setelah Rey minum, Rey merasakan berat pada matanya. Berkali-kali ia menguap, lalu ia mengucek matanya.


"Om, Rey ngantuk. Kalo udah sampe bangunin Rey ya" ucap Rey lalu menidurkan kepalanya di paha salah satu pria tadi. Tanpa Rey sadari air yang ia minum sudah tercampur dengan obat tidur.


Pria yang duduk di samping pengemudi menghadap belakang untuk melihat keadaan Rey, lalu ia menghadap ke arah depan lagi dengan tersenyum miring.


baiklah, tinggal tunggu kehancuran dirimu saja batin pria itu.

__ADS_1


-


Bi Rina sedang menyapu ruang televisi tiba-tiba dikejutkan suara telpon rumah yang berbunyi, dengan cekatan bi Rina mendekat lalu mengangkat


"Hallo? Dengan siapa?" Tanya bi Rina


"bi, ini Oliv. Aku mau tanya, bibi udah jemput Rey?"


"Rey?" Beo bi Rina


Lalu matanya melebar dengan ingatan bahwa ia diamanahkan untuk menjemput Rey


"Maaf non, bibi lupa jemput den Rey. Bibi matiin dulu ya, mau jemput den Rey" ucap bi Rina dengan sopan


"iya, bi hati-hati ya"


Tut!


Dengan langkah besar yang tentunya dengan tergopoh-gopoh bi Rina segera meletakkan sapu yang ia pegang tadi lalu ia segera keluar rumah dan menuju sekolah Rey di depan komplek.


Sesampainya bi Rina di sekolah Rey, ia tak melihat keberadaan Rey bahkan ia juga tak menemukan siapa pun disana. Berkali-kali ia berjalan di jalan yang sama untuk mencari Rey berharap ia temukan, tetapi tetap ia tak menemukan Rey.


Mata bi Rina menangkap seorang pria yang sedang menyapu halaman "permisi pak, mau tanya semua murid sudah pulang semua pak?" Tanya bi Rina kepada penjaga sekolah yang bernama pak Adi.


"Maaf bu, murid sudah pulang dari 20 menit yang lalu" ujar pak Adi


"Oh begitu ya pak, terima kasih pak" ucap bi Rina lalu ia pamit pulang.


Dengan hati yang gusar bi Rina mendial nomor yang sudah disediakan di telpon rumah, nada dering yang berbunyi membuatnya semakin gusar.


"ya hallo" ucap dari sebrang sana


"Non, ini bibi" ucap bi Rina


"ohiya, ada apa bi? Rey udah di jemput?"


"H-hm itu non" bi Rina gugup


"ada apa bi?"


"H-hm itu non, sekolahnya den Rey udah sepi non. Dan den Rey gak ada di sekolahnya" ucap bi Rina dengan gemetar


"apaa?! Rey gak ada di sekolah? Baiklah, sebentar lagi aku pulang"


Tut!


Panggilan ditutup sebelah pihak, bi Rina tentunya sangat cemas dengan hal ini. Cemas karena Rey menghilang karena keteledoran dirinya dan ia cemas akan pekerjaannya, ia dapat pastikan setelah ini ia pasti akan di pecat. Tanpa sadari air mata bi Rina lolos begitu saja dari pelupuk matanya, yang tandanya ia sangat cemas dan juga takut.

__ADS_1


**


Lanjut gak nih??


__ADS_2