Stray Baby

Stray Baby
Part 22 ~ Rencana Kita


__ADS_3

"Dim, gue mau bicara sama lo" ucap Raisa yang baru keluar dari kamarnya.


"Ohh, diatas aja" ucap Dimas yang mendapat anggukan dari Raisa.


"Bi Rinaa" panggil Raisa.


Datanglah bi Rina dengan tergopoh-gopoh karena panggilan dari Raisa


"Iya non. ada apa?" tanya bi Rina.


"Temenin Rey nonton bentar ya bi" titah Raisa.


Bbaik non" ucap bi Rina.


Raisa dan Dimas pun menuju ke atas dengan Raisa yang berjalan di depan dan Dimas yang mengekorinya. Karena Raisa merasa mereka harus meluruskan ini agar lebih jelas dan membuang rasa canggung yang mereka rasakan.


"Dim, sekarang kita harus gimana?" tanya Raisa saat mereka sudah duduk di sofa lantai dua. Dimas pun ikut duduk di sofa single yang berda di saping sofa yang Raisa duduki


"Ha? Gimana apanya?" tanya balik Dimas karena belum mencerna maksud Raisa.


"Sepertinya, kita harus membicarakan tentang hubungan kita" ucap Raisa yang membuat susananya semakin canggung.


"Hemm, kita harus membicarakannya" ucap Dimas.


"Gimana kalau kita saling jujur?" tanya Raisa.


"Lo beneran suka sama gue?" tanya Raisa lagi.


"Entahlah, gue ngerasa khawatir aja sama lo" ucap Dimas sedikit gugup. Ntahlah perasaan apa ini yang jelas Dimas ingin situasi ini cepat berakhir.


"Kalau lo, gimana?" tanya Dimas.


"Gue juga gak tau. Sebenarnya gue juga khawatir sama lo" jawab Raisa yang terdengar gugup juga. Dimas pun hanya menghembuskan nafas pelan


"Tapi kalau kita berpacaran tanpa memikirkan kedepannya, gue takut itu akan ngerusak persahabatan kita dan gue gak mau itu terjadi" ucap Raisa dengan pelan.


"Iya, gue juga gak mau persahabatan kita hancur hanya karena hubungan diantara kita" ucap Dimas.


Mereka berdua pun terdiam cukup lama, sibuk dengan pikiran masing-masing yang mencari jalan keluar dari permasalahan ini.


"Gimana kalau lo sama gue nyoba ngedate, kalau diantara kita gak ada kecocokan kita bisa berhenti saling khawatir dan kembali seperti sahabat sebelumnya" ucap Dimas panjang tanpa ragu.

__ADS_1


"Boleh juga" ucap Raisa.


Mereka pun memutuskan untuk mencoba ngedate layaknya pasangan muda yang sedang berpacaran. Jika mereka merasa banyak kecocokan dalam diri mereka, mereka berdua akan mulai berpacaran. Tapi jika tidak mereka juga sudah memutuskan untuk kembali seperti biasa, layaknya sahabat seperti kemarin kemarin.


-


"Kita pulang" ucap Oliv yang masuk ke rumah dengan menenteng kotak donat di tangannya. Dan Naufal yang berjalan di sampingnya.


"Wahh kak Oliv bawa donat ya untuk Rey?" tanya Rey yang melihat donat dengan mata berbinar. Karena donat adalah salah satu cemilan kesukaan Rey.


"Ihh pede banget sih. Lagian donat itu untuk bang Dimas, bukan untuk Rey" ucap Dimas tak kalah pedenya dari rey.


"Gak bisa, itu untuk Rey kan kak Oliv" ucap Rey yang langsung mendekati Oliv bermaksud untuk mengambil kotak donat itu.


"Iya Rey, nih. Lagian kak Oliv beli banyak kok jadi bisa bagi-bagi sama bang Dimas, bang Naufal dan kak Raisa" ucap Oliv sambil menyodorkan dua kotak donat itu.


Rey pun menerimanya dan langsung membawa ke tempat ia duduk tadi. Saat melewati Dimas, Rey menyempatkan diri untuk mengejek Dimas dengan menjulurkan lidah kecilnya.


"Bang Naufal sisain ya Rey" ucap Naufal yang langsung beranjak menuju ke kamarnya. Karena tadi sebelum jemput Oliv ia belum mandi, jadilah badannya terasa lengket dan memutuskan untuk mandi.


-


"Mau fal?" tawar Dimas. Saat ini mereka sedang bergadang di depan tv. Mengingat waktu semakin larut membuat mata mereka tetap terasa segar. Aneh bukan dengan dua pria ini.


"Delapan" jawab Dimas santai.


"Gila lo" ucap Naufal yang langsung beranjak berdiri menuju dapur.


Dimas pun tak menghiraukan ucapan Naufal dan melanjutkan makannya dengan lahap.


"Ngapain lo?" tanya Dimas yang melihat naufal yang membawa mangkuk dan langsung menyendok mie Dimas yang ada di panci.


"Makanlah, gue bantuin lo ngabisin nih mie" jawab Naufal santai dan mulai memakan mie yang telah diambilnya.


"Gila lo" ucapnya membalikan ucapan Naufal tadi.


Mereka pun menyantap delapan bungkus mie dengan tenang dan juga di temani menonton bola yang memang mereka nantikan. Dan tak lupa sorakan disaat tim yang mereka dukung berhasil mencetak gol.


-


"Bi Rina, hari ini masak apa?" tanya Oliv saat masuk ke dapur. Tidak heran kalau Oliv selalu menjadi orang pertama yang bangun di antara ketiga sahabatnya. Mungkin memang sifat Oliv yang seperti itu sejak kecil toh juga tidak merugikan semua orang.

__ADS_1


"Hari ini mau masak ayam kecap non, kenapa non? Non mau request menunya?" jawab bi Rina.


"Gak bi, mau di bantu gak" tawar Oliv.


"Gak usah non, saya bisa sendiri. kalau gitu saya pergi ke pasar dulu ya non" ucap bi Rina setelah mendapat jawaban dari Oliv. Bi Rina langsung mengambil tas belanjaan dan langsung pergi ke pasar.


Karena gak ada yang ingin dilakukannya di dapur. Oliv pun langsung beranjak ke ruang TV.


"Mau kemana fal?" tanya Oliv yang melihat Naufal keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi.


"Gue dipanggil ke kantor pusat" jawab Naufal sambil merapikan jam tangannya, dan Oliv hanya ber'oh' ria


"Yaudah kalau gitu gue duluan ya liv" ucap Naufal yang berlalu pergi.


"Iya fal hati hati ya" ucap Oliv sedikit berteriak agar didengar oleh Naufal.


-


"Dimas, lo baru bangun?" tanya Raisa yang melihat Dimas baru keluar dari kamarnya. Tujuan awal Raisa itu ingin naik ke atas tapi entah kenapa dia harus berpas-pasan dengan Dimas keluar dari kamarnya.


"Y-ya, semalam gue tidur telat" ucap Dimas canggung. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa bertemu dengan Raisa di saat keadaan mereka berdua masih canggung.


"Lo mau kemana sa?" tanya Dimas yang berniat mencairkan rasa canggung ini.


"Ke atas, bangunin Rey" jawab Raisa. Syukurlah Dimas bisa mencairkan keadaan ini.


"Lo taukan kalau kita akan ngedate hari ini?" tanya Raisa lagi dengan nada yang canggung. Kenapa juga pertanyaan itu bisa keluar dari mulutnya. kesannya gue ngebet banget sama dia Raisa membatin.


"Iya gue tau sa" jawab Dimas santai


"Tapi, seandainya setelah ngedate kita ngerasa ada yang salah, kita harus kembali seperti biasa kan?" tanya Oliv sedikit ragu.


"Iya sa" jawab Dimas lagi


Raisa pun membalas dengan senyumannya dan kemudian berlalu pergi ke tempat tujuan awalnya.


"Rasanya canggung banget gilaak!!? Gue hampir gak bisa napas" gumam Dimas saat Raisa telah pergi naik keatas.


"Entah ini ide yang bagus atau nggak" gumamnya lagi sambil menghembuskan nafas kasar.


**

__ADS_1


LANJUT GAK NI???


__ADS_2